Advertisement

Stunting Bisa Dikoreksi Asal Tidak Terlambat Diintervensi

Media Digital
Selasa, 15 November 2022 - 10:27 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Stunting Bisa Dikoreksi Asal Tidak Terlambat Diintervensi Audit Kasus Stunting (AKS) di Kalurahan Mertelu Kapanewon Gedangsari Kabupaten Gunungkidul. - Ist

Advertisement

JOGJA– Audit Kasus Stunting (AKS) di Kalurahan Mertelu Kapanewon Gedangsari Kabupaten Gunungkidul telah sampai pada Tahap 4. Bertempat di Rumah Makan Kebon Ijo di Kepek Wonosari telah dilaksanakan pertemuan AKS tersebut (Senin, 14/11/2022) yang dibuka oleh Kepala Bidang Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB DP3AKBPMK Gunungkidul, M. Amirudin.

Setelah pada AKS 1 sampai AKS 3 sebelumnya berhasil ditentukan kasus-kasus terpilih, maka pada AKS Tahap 4 giliran Tim Teknis dan Tim Pakar bersinergi untuk merumuskan langkah-langkah intervensi yang harus ditempuh dan rekomendasi bagi pihak-pihak terkait dalam penanganan kasus stunting di Kabupaten Gunungkidul. Intervensi dalam kerangka audit ini memang hanya ditujukan bagi kasus terpilih di Kalurahan Mertelu Kapanewon Gedangsari, namun contoh praktek intervensi dan terutama rekomendasi Tim Pakar diharapkan berlaku bagi pihak-pihak terkait di seluruh Kabupaten Gunungkidul.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Audit penutup di Kabupaten Gunungkidul ini akan dilanjutkan dengan AKS Tahap 4 di empat kabupaten/kota lainnya pada minggu ini dan mengakhiri seluruh rangkaian Audit Kasus Stunting di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hasil audit dan langkah-langkah intervensi yang ditempuh membuktikan bahwa stunting dapat dikoreksi. Intervensi terhadap stunting dapat berupa intervensi spesifik (langsung mengatasi penyebab stunting) seperti perbaikian asupan gizi, pencegahan dan pengobatan infeksi, dan sebagainya. Sedangkan intervensi sensitif merupakan intervensi yang berhubungan dengan penyebab tidak langsung stunting di luar persoalan kesehatan.

Melalui intervensi spesifik selama 14 hari yang diamati yang dirancang oleh Tim Pakar dan dilaksanakan oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting Kalurahan dan Kecamatan serta oleh Mitra yaitu Dompet Dhuafa dan Universitas Gunungkidul, maka perkembangan status kesehatan tiga anak di bawah dua tahun (Baduta) stunting tercatat mengalami kemajuan.

Selama 14 hari masa pengamatan intervensi makanan terhadap Baduta yang dilakukan TPPS (Tim Percepatan Penurunan Stunting) dibantu mitra dari Dompet Dhuafa, ditemukan hasil menarik. Baduta A mengalami kenaikan berat badan (BB) terbesar yaitu 1,4 kg (mengkonsumsi 73% dari intervensi makanan yang diberikan), disusul Baduta B dengan konsumsi intervensi makanan 27% mengalami kenaikan BB sebanyak 0,6 kg. Sedangkan Baduta C yang tingkat konsumsi intervensi makanan sama dengan Baduta A hanya mengalami kenaikan BB 0,6 kg atau setara Baduta B yang konsumsi intervensi makanannya lebih rendah. Tim menduga hal ini disebabkan Baduta C memiliki gangguan bising jantung, yang perlu pemeriksaan lebih lanjut.

Selain langsung kepada Baduta, intervensi juga diberikan kepada calon pengantin (Catin) kategori beresiko, atau rawan hamil dan melahirkan bayi stunting berdasarkan catatan kondisi kesehatan mereka. Data kesehatan tersebut antara lain lingkar lengan atas (Lila), tinggi dan berat badan perokok aktif/pasif/bukan perokok, kadar Hb dan beberapa data kesehatan lainnya. Dari tiga pasang Catin sasaran audit, dua Catin berstatus resiko rendah dan perokok pasif, serta satu pasang resiko tinggi karena Catin wanita menderita kekurangan energi kronis (KEK). Intervensi yang diberikan kepada ketiga Catin berupa KIE perilaku hidup sehat, termasuk pola makan dan asupan gizi, persiapan kehamilan, dan pemberian tablet tambah darah (tablet Fe), serta pemantauan berkala. Ketiga Catin berkomitmen untuk tidak hamil sebelum status membaik dari beresiko hamil dan melahirkan anak stunting menjadi siap hamil dan melahirkan. Hasil intervensi belum dapat diukur karena membutuhkan waktu lebih lama untuk mengukur perubahan kondisi kesehatan Catin.

Sedangkan untuk kelompok Ibu Hamil terdapat dua ibu hamil beresiko rendah dan satu ibu hamil beresiko tinggi karena kandungannya lemah. Rekomendasi Tim Pakar antara lain berupa perbaikan status gizi dengan perbaikan asupan makanan dan pemberian suplemen dan vitamin secara kontinyu, pemeriksaan kehamilan berkala, mencegah paparan asap rokok di rumah, dan mencegah obesitas ibu hamil. Sebagian dari intervensi sudah dilaksanakan beberapa waktu sebelumnya, dan salah satu ibu hamil dengan resiko rendah telah melahirkan bayi dalam kondisi sehat dan tidak stunting. Sedangkan untuk ibu hamil yang resiko stunting tinggi ditambahkan rekomendasi untuk melakukan pemeriksaan kehamilan yang lebih intensif.

Advertisement

Sedangkan terhadap kelompok Ibu Nifas (paska persalinan) selain direkomendasikan perbaikan asupan gizi dan pemberian ASI eksklusif, pemberian suplemen dan vitamin, pemeriksaan kesehatan kontinyu, pemantauan oleh TPK, juga konseling psikologi untuk mengatasi stress paska salin dan konsultasi terkait pola pengasuhan tumbuh kembang anak.

Kepala Perwakilan BKKBN DIY Shodiqin SH MM yang diwakili Koordinator Bidang KBKR dr Iin Nadzifah Hamid menyampaikan terima kasih kepada Tim Pakar yang terdiri dari Dr. Novia Primulyani, Sp.A (Spesialist Anak), Dr. Anita, Sp.OG (Spesialist Obstetri-Ginekologi), Tri Mei Khasana, S.Gz., M.PH. (Pakar Gizi), dan Desti Fatmasari, S.Psi., M.Psi. (Pakar Psikolog).

“Melalui audit ini selain mengidentifikasi kondisi yang menyebabkan terpapar stunting, dan yang tidak kalah penting adalah intervensi dan rekomendasi tindak lanjut hasil pembahasan para pakar ini dapat menjadi model penanganan stunting tidak hanya kepada sasaran audit di Kalurahan Mertelu tetapi juga dapat dilaksanakan di wilayah lainnya” demikian disampaikan Shodiqin. Terbukti, stunting dapat dikoreksi apabila penanganan dan intervensi dilakukan lebih dini.

Advertisement

Shodiqin juga menyampaikan penghargaan kepada Universitas Gunungkidul yang diwakili oleh Catarina Wahyu Dyah Purbaningrum, S.E., M.Pd. (Wakil Rektor) atas komitmen dalam penanganan stunting yang telah diwujudkan melalui keterlibatan dalam keanggotaan TPPS Kabupaten. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta Muhammad Zahron atas peran institusi tersebut secara langsung melakukan intervensi penanganan stunting di Kalurahan Mertelu dan tempat-tempat lain di DIY.*

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Mahasiswa UGM Sukses Gelar Gerakan Cinta Lingkungan dan Sadar Konservasi di Desa Wisata Nglanggeran

News
| Senin, 05 Desember 2022, 10:17 WIB

Advertisement

alt

Jangan Sampai Salah, Hotel 26 Lantai di China Ini Khusus untuk Babi

Wisata
| Minggu, 04 Desember 2022, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement