Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Ilustrasi./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, SLEMAN—Perubahan iklim yang sudah terjadi sejak beberapa tahun belakangan sudah terasa dampaknya di bidang pertanian. Dengan tidak menentunya pergantian musim, saat ini petani di Sleman tak lagi menggunakan pranata mangsa sebagai acuan dalam aktivitas bertani mereka.
Salah satu petani di Sleman, Janu Riyanto, menjelaskan dengan tidak menentunya waktu pergantian musim kemarau dan hujan, petani tidak lagi bisa menggunakan pranata mangsa.
“Kalau untuk petani muda sekarang sudah kurang begitu memperhatikan, saya sendiri kadang mengabaikan pranata mangsa itu,” ujarnya, Selasa (11/4/2023).
Sebagai gantinya, untuk mengetahui pergantian musim dan menentukan setiap kegiatan pertanian, para petani sepenuhnya mengacu pada informasi yang diberikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). “Informasi itu kami mengacu BMKG,” katanya.
Perubahan iklim menurutnya berdampak munculnya cuaca ekstrem yang menyebabkan gangguan pada pertanian. “Kalau panas tiba-tiba hujan, atau sebaliknya, pasti berdampak pada tanaman. Berpengaruh pada kelembaban dan dropnya Ph tanah. Dapat menyebabkan jamur,” ungkapnya.
BACA JUGA: DKPP Bantul Klaim Perubahan Iklim Tak Ganggu Produktivitas Pertanian, Ini Respons Petani
Selain itu, petani juga harus cermat mengakses informasi cuaca dari BMKG agar tidak salah menentukan waktu penanaman. Pada tanaman padi, hal ini tidak berdampak hingga mengubah musim tanam, namun pada tanaman hortikultura, ini menyebabkan musim tanam tidak menentu.
“Kalau padi tidak. Tetapi kalau hortikultura, petani menunggu situasi atau cuaca yang menguntungkan. Misalnya kalau BMKG menyebut dalam satu minggu terjadi hujan lebat, biasanya petani mundur walaupun sudah memiliki benih yang siap tanam,” kata dia.
Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Pangan dan Prikanan Sleman, Siti Rochayah, menjelaskan dalam situasi perubahan iklim saat ini, pranata mangsa sudah sulit untuk diterapkan. “Susah kalau sekarang iklimnya sudah berubah-ubah,” ujarnya.
Maka saat ini petani harus terus selalu memantau informasi dari BMKG. Untuk memastikan petani mendapatkan akses informasi tersebut, pihaknya sudah membuat grup Whatsapp dengan para kelompok tani dan BMKG yang selalu diberikan informasi yang dibutuhkan petani.
Ia mencontohkan seperti tahun ini Sleman masuk musim kemarau di dasarian 1 Mei. Namun ada prediksi kemunculan elnino pada tahun ini. “Maka kami mengimbau petni untuk melakukan percepatan tanam mumpung air hujannya masih ada,” ungkapnya.
Dengan adanya elnino, maka musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Dalam kondisi demikian, petani bisa menyesuaikan jenis tanaman apa yang akan ditanam sesuai dengan ketersediaan air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Peta peluang emas Indonesia di Asian Games 2026 tersebar dari panjat tebing, angkat besi, bulu tangkis hingga sejumlah cabang lain.
Guru BK SMAN 1 Sentolo memastikan siswi korban dugaan pelecehan seksual tetap sekolah dan mendapat pendampingan psikologis pasca kejadian.
Arema FC gagal meraih tiga poin setelah ditahan Persik Kediri 1-1 di Stadion Kanjuruhan, Jumat (18/9/2026).
Karhutla Gunung Lawu masih menyisakan kepulan asap di perbatasan petak 39 dan 41 Ngawi. Tim gabungan terus membuat ilaran.
Febrie Adriansyah buka suara usai dilimpahkan ke Kejari Jaksel terkait dugaan pemerasan dalam perkara Asabri dan Jiwasraya.