Kekerasan Daycare Jogja, 53 Anak Jadi Korban, Pemda DIY Turun Tangan
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
Ilustrasi./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, SLEMAN—Perubahan iklim yang sudah terjadi sejak beberapa tahun belakangan sudah terasa dampaknya di bidang pertanian. Dengan tidak menentunya pergantian musim, saat ini petani di Sleman tak lagi menggunakan pranata mangsa sebagai acuan dalam aktivitas bertani mereka.
Salah satu petani di Sleman, Janu Riyanto, menjelaskan dengan tidak menentunya waktu pergantian musim kemarau dan hujan, petani tidak lagi bisa menggunakan pranata mangsa.
“Kalau untuk petani muda sekarang sudah kurang begitu memperhatikan, saya sendiri kadang mengabaikan pranata mangsa itu,” ujarnya, Selasa (11/4/2023).
Sebagai gantinya, untuk mengetahui pergantian musim dan menentukan setiap kegiatan pertanian, para petani sepenuhnya mengacu pada informasi yang diberikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). “Informasi itu kami mengacu BMKG,” katanya.
Perubahan iklim menurutnya berdampak munculnya cuaca ekstrem yang menyebabkan gangguan pada pertanian. “Kalau panas tiba-tiba hujan, atau sebaliknya, pasti berdampak pada tanaman. Berpengaruh pada kelembaban dan dropnya Ph tanah. Dapat menyebabkan jamur,” ungkapnya.
BACA JUGA: DKPP Bantul Klaim Perubahan Iklim Tak Ganggu Produktivitas Pertanian, Ini Respons Petani
Selain itu, petani juga harus cermat mengakses informasi cuaca dari BMKG agar tidak salah menentukan waktu penanaman. Pada tanaman padi, hal ini tidak berdampak hingga mengubah musim tanam, namun pada tanaman hortikultura, ini menyebabkan musim tanam tidak menentu.
“Kalau padi tidak. Tetapi kalau hortikultura, petani menunggu situasi atau cuaca yang menguntungkan. Misalnya kalau BMKG menyebut dalam satu minggu terjadi hujan lebat, biasanya petani mundur walaupun sudah memiliki benih yang siap tanam,” kata dia.
Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Pangan dan Prikanan Sleman, Siti Rochayah, menjelaskan dalam situasi perubahan iklim saat ini, pranata mangsa sudah sulit untuk diterapkan. “Susah kalau sekarang iklimnya sudah berubah-ubah,” ujarnya.
Maka saat ini petani harus terus selalu memantau informasi dari BMKG. Untuk memastikan petani mendapatkan akses informasi tersebut, pihaknya sudah membuat grup Whatsapp dengan para kelompok tani dan BMKG yang selalu diberikan informasi yang dibutuhkan petani.
Ia mencontohkan seperti tahun ini Sleman masuk musim kemarau di dasarian 1 Mei. Namun ada prediksi kemunculan elnino pada tahun ini. “Maka kami mengimbau petni untuk melakukan percepatan tanam mumpung air hujannya masih ada,” ungkapnya.
Dengan adanya elnino, maka musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Dalam kondisi demikian, petani bisa menyesuaikan jenis tanaman apa yang akan ditanam sesuai dengan ketersediaan air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
DPKP DIY menyiapkan strategi menghadapi musim kemarau, mulai dari varietas padi tahan kekeringan hingga optimalisasi irigasi dan pompa air.
Bank Sampah Berlian 08 di Jogja memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar pirolisis sampah plastik residu sehingga proses lebih cepat dan hemat.
Jadwal imsak, Subuh, dan Maghrib di DIY pada Kamis 30 Juli 2026 untuk puasa sunnah Kamis. Cek waktu sahur dan berbuka di sini.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 30 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Simak 12 perjalanan dan tarif Commuter Line Rp8.000.
KPK mendalami penukaran 46.500 dolar Singapura yang diduga disiapkan Suhardiman Amby untuk Raja Juli Antoni dalam penyidikan kasus Kuansing.