Otonomi Daerah DIY Didorong Berbasis Keadilan dan Kearifan Lokal
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Ilustrasi./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, SLEMAN—Perubahan iklim yang sudah terjadi sejak beberapa tahun belakangan sudah terasa dampaknya di bidang pertanian. Dengan tidak menentunya pergantian musim, saat ini petani di Sleman tak lagi menggunakan pranata mangsa sebagai acuan dalam aktivitas bertani mereka.
Salah satu petani di Sleman, Janu Riyanto, menjelaskan dengan tidak menentunya waktu pergantian musim kemarau dan hujan, petani tidak lagi bisa menggunakan pranata mangsa.
“Kalau untuk petani muda sekarang sudah kurang begitu memperhatikan, saya sendiri kadang mengabaikan pranata mangsa itu,” ujarnya, Selasa (11/4/2023).
Sebagai gantinya, untuk mengetahui pergantian musim dan menentukan setiap kegiatan pertanian, para petani sepenuhnya mengacu pada informasi yang diberikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). “Informasi itu kami mengacu BMKG,” katanya.
Perubahan iklim menurutnya berdampak munculnya cuaca ekstrem yang menyebabkan gangguan pada pertanian. “Kalau panas tiba-tiba hujan, atau sebaliknya, pasti berdampak pada tanaman. Berpengaruh pada kelembaban dan dropnya Ph tanah. Dapat menyebabkan jamur,” ungkapnya.
BACA JUGA: DKPP Bantul Klaim Perubahan Iklim Tak Ganggu Produktivitas Pertanian, Ini Respons Petani
Selain itu, petani juga harus cermat mengakses informasi cuaca dari BMKG agar tidak salah menentukan waktu penanaman. Pada tanaman padi, hal ini tidak berdampak hingga mengubah musim tanam, namun pada tanaman hortikultura, ini menyebabkan musim tanam tidak menentu.
“Kalau padi tidak. Tetapi kalau hortikultura, petani menunggu situasi atau cuaca yang menguntungkan. Misalnya kalau BMKG menyebut dalam satu minggu terjadi hujan lebat, biasanya petani mundur walaupun sudah memiliki benih yang siap tanam,” kata dia.
Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Pangan dan Prikanan Sleman, Siti Rochayah, menjelaskan dalam situasi perubahan iklim saat ini, pranata mangsa sudah sulit untuk diterapkan. “Susah kalau sekarang iklimnya sudah berubah-ubah,” ujarnya.
Maka saat ini petani harus terus selalu memantau informasi dari BMKG. Untuk memastikan petani mendapatkan akses informasi tersebut, pihaknya sudah membuat grup Whatsapp dengan para kelompok tani dan BMKG yang selalu diberikan informasi yang dibutuhkan petani.
Ia mencontohkan seperti tahun ini Sleman masuk musim kemarau di dasarian 1 Mei. Namun ada prediksi kemunculan elnino pada tahun ini. “Maka kami mengimbau petni untuk melakukan percepatan tanam mumpung air hujannya masih ada,” ungkapnya.
Dengan adanya elnino, maka musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Dalam kondisi demikian, petani bisa menyesuaikan jenis tanaman apa yang akan ditanam sesuai dengan ketersediaan air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Pembongkaran SDN Nglarang untuk proyek Tol Jogja-Solo rampung. Lahan kini 100% bebas, proyek masuk tahap penimbunan dan pengecoran.
Wali Kota Solo Respati Ardi prioritaskan guru dan nakes dalam rekrutmen CASN. Pemkot kejar solusi kekurangan tenaga pendidikan.
Perubahan tampak pada pembaruan Grand Vitara, yaitu penyematan Electronic Parking Brake yang menggantikan sistem tuas rem parkir mekanis pada keluaran sebelumny
Menkeu Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil bahas strategi peningkatan PNBP, swasembada energi, dan listrik desa. Ini target dan datanya.
LBC Hotels Group, yang menaungi 9 unit hotel dan 2 resort ternama di Yogyakarta, kembali menggelar Table Top & Business Gathering #2