Gunungkidul Bidik Nilai A SAKIP, Bupati Dorong Reformasi Birokrasi
Pemkab Gunungkidul menargetkan predikat A pada SAKIP 2026 setelah tahun lalu meraih BB. Reformasi birokrasi dan kinerja nyata menjadi fokus.
Pelaksanaan ASPD di Kota Jogja, beberapa waktu lalu - Ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pendidikan Gunungkidul menolak wacana penghapusan Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) seperti disampaikan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim. Penolakan salah satunya karena tes ini untuk menjaga motivasi para siswa agar semangat belajar.
“ASPD tidak hanya untuk standarisasi mutu pendidikan, tapi juga jadi cemeti [cambuk] bagi para guru guna memotivasi anak-anak agar giat belajar,” kata Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati kepada Harianjogja.com, Jumat (2/6/2023).
BACA JUGA : Gegara Sajam, Siswa SMP Jogja Ini Jalani ASPD dari Tempat
Menurut dia, ketiadaan Ujian Nasional dan penerimaan peserta didik baru yang menggunakan jalur zonasi sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Oleh karenanya, saat UN dihapuskan diadakan ASPD.
“Ya kalau tidak ada ASPD, bagaimana mau motivasi belajar anak,” katanya.
Nunuk berpendapat apabila ada kekurangan dalam pelaksanaan ASPD, seharusnya bukan dihapus. “Namun bisa dilakukan perbaikan-perbaikan sehingga pelaksanaan bisa lebih baik lagi,” katanya.
Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul, Ery Agustin S menyampaikan hal yang sama. Menurut dia, ASPD masih sangat relevan dilaksanakan karena tidak hanya menjadi standarisasi mutu pendidikan, tapi juga sebagai sarana menjaga motivasi belajar siswa.
“Sekarang kayak tidak ada beban karena penting masuk bisa lulus. Terus nyari sekolah juga dengan model zonasi sehingga dapat diterima di sekolah yang dekat rumah,” katanya.
Ery berpendapat, ASPD tidak harus diharus dihapus tapi bisa lebih disempurnakan. “Ya kalau tidak ada, terus bagaimana mau memotivasi siswa agar tetap belajar sehngga bisa meraih cita-cita yang diinginkan,” katanya.
BACA JUGA : PPDB 2022: Ribuan Pelajar dari Luar Derah Berebut Sekolah
Dia pun membandingkan pada saat dirinya masih sekolah. Siswa di tingkat akhir akan belajar lebih giat karena untuk penentuan kelulusan dan mencari sekolah baru di jenjang yang lebih tinggi.
Hal ini dikarenakan nilai diperoleh saat ujian akhir menjadi syarat mencari sekolah baru yang diinginkan. “Dulu hanya ada EBTA [evaluasi belajar tahap akhir] dan Ebtanas [evaluasi belajar tahap akhir nasional]. Jadi kalau nilainya kurang bagus, maka tidak bisa masuk ke sekolah favorit,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul menargetkan predikat A pada SAKIP 2026 setelah tahun lalu meraih BB. Reformasi birokrasi dan kinerja nyata menjadi fokus.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 6 Agustus 2026 lengkap dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tarif Commuter Line tetap Rp8.000.
Polresta Sleman menangkap pelaku pembegalan bersenjata tajam yang merampas motor, ponsel, dan dompet milik pekerja di Pakem. Polisi segera menggelar rilis kasus
Memberi minum kepada korban kecelakaan ternyata bisa berbahaya. Simak penjelasan medis mengenai risiko tersedak, aspirasi, hingga gangguan penanganan darurat.
Gaji baru masuk tetapi saldo rekening cepat menipis? Simak empat cara mengelola pengeluaran rutin agar keuangan tetap aman hingga akhir bulan.
Amerika Serikat memberlakukan visa bond permanen hingga Rp327 juta bagi pemohon dari 50 negara, termasuk Indonesia.