APBD Perubahan Gunungkidul: Transfer Turun, PAD Dinaikkan
APBD Perubahan Gunungkidul 2026 mulai dibahas. Pendapatan turun Rp50,65 miliar, sementara PAD dinaikkan untuk menutupinya.
Gejala Antraks - ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul terus menelusuri sekaligus menangani kasus antraks di Dusun Semulu Lor, Ngeposari, Semanu. Dari hasil penelusuran, diketahui warga yang positif tidak hanya menyembelih dan memakan daging kambing, tetapi juga sempat mendatangi lokasi antraks di Dusun Jati, Candirejo, Semanu.
Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan untuk kepastian kasus antraks di Dusun Semuluh Lor, Ngeposari, Semanu telah melakukan uji sampel terhadap 22 warga. Pengujian bermula adanya dua warga yang bergejala mirip antraks, usai menyembelih dan mengkonsumsi daging kambing yang sakit. “Hasilnya satu orang dari yang bergejala dinyatakan positif antraks,” kata Dewi kepada wartawan, Rabu (26/7/2023).
Dia menjelaskan, pascadinyatakan positif upaya surveilans dan pengobatan terhadap pasien terus dilakukan. Pengamatan juga terus dilakukan karena masa inkubasinya berlangsung selama 120 hari. “Terus dipantau dan kami juga mengedukasi masyarakat tentang tata cara penanggulangan penyebaran antraks. Untuk kondisi pasien sendiri sudah berlangsung membaik,” katanya.
BACA JUGA: Satu Lagi Warga Semanu Gunungkidul Positif Penyakit Antraks
Lurah Ngeposari, Ciptadi saat dikonfirmasi membenarkan ada salah seorang warga di Dusun Semulu Lor yang positif antraks. Hasil dari penelusuran, warga ini tidak hanya terlibat dalam kegiatan brandu kambing, tapi juga sempat berkunjung ke Dusun Jati, yang menjadi lokasi penemuan kasus antraks. “Jadi untuk penyeban sampai positif belum tahu pasti. Apakah ini karena berkunjung ke lokasi antraks atau hasil mengkonsumsi daging yang disembelih,” katanya.
Dia berharap kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati dan waspada terkait dengan penularan penyakit ini. “Kalau bergejala sakit segera memeriksakan diri ke layanan kesehatan terdekat,” katanya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Retno Widiastuti mengatakan, hingga sekarang masih menunggu hasil uji tanah di lokasi suspek antraks. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan di Dusun Semulur Lor ada satu kambing yang mati secara mendadak.
Kejadian berlangsung sebelum kasus antraks mencuat. Tak berselang lama ada seekor kambing yang sakit, tetapi sebelum mati disembelih untuk dagingnya dibagikan ke warga. “Kalau yang pertama langsung mati dan dikubur. Untuk kasusnya di satu lokasi saja,” katanya.
Menurut dia, upaya pencegahan penyebaran antraks sudah dilakukan dengan penyiraman formalin di area rumah milik ternak yang mati. “Untuk penindakan lanjutan, kami masih menunggu hasil uji sampel tanah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
APBD Perubahan Gunungkidul 2026 mulai dibahas. Pendapatan turun Rp50,65 miliar, sementara PAD dinaikkan untuk menutupinya.
Sekitar 52 hektare sawah Banaran, Kulonprogo, bera akibat krisis air. Petani kini menerapkan pola tanam padi bergilir sambil menunggu hujan.
Korban longsor salju di Gunung Mizhirgi, Rusia, bertambah menjadi 13 orang. Empat pendaki masih hilang dalam pencarian di Ngarai Bezengi.
Presiden Prabowo melepas 430 atlet Indonesia dari 35 cabang olahraga untuk berlaga di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang.
Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menunjukkan komitmennya dalam mendorong hilirisasi riset melalui keikutsertaan dalam Pameran Inovasi Perguruan Tinggi
Pernikahan di Bantul menurun. Standar media sosial, karier, pendidikan, dan ekonomi membuat anak muda memilih menunda pernikahan.