Event Jogja Mei: TBY Gelar Tari Kontemporer Lintas Generasi
TBY menggelar Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi di Jogja dengan menghadirkan tiga koreografer dari generasi berbeda.
Ilustrasi Kekeringan - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—BPBD DIY mengajukan penetapan siaga darurat kekeringan di wilayahnya agar segera diberlakukan lantaran kondisi cuaca kemarau yang telah dirasakan sejak Mei 2024 lalu masih akan dirasakan sampai dengan September 2024 mendatang.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY Edhy Hartana mengatakan, pengajuan surat resmi sudah dilayangkan ke Biro Umum Setda Pemda DIY agar surat keputusan (SK) siaga darurat kekeringan dikeluarkan. Surat diajukan pada Jumat 26 Juli lalu dan masih diproses instansi terkait.
"Syaratnya sudah memenuhi ketentuan yakni minimal dua kabupaten kota menetapkan siaga darurat kekeringan masing-masing Gunungkidul dan Kulonprogo," kata Edhy, Minggu (28/7/2024).
BACA JUGA : Bencana Kekeringan Ancam 7 Kecamatan di Bantul
Menurut dia, proses penetapan itu setelah surat resmi dikirim biasanya akan memakan waktu tiga sampai tujuh hari untuk ditetapkan. Setelah SK keluar yang diikuti dengan persetujuan penggunaan dana siap pakai (DSP) maka BPBD setempat akan melakukan langkah mitigasi dan penanganan.
"Kalau disetujui dan SK keluar maka kami akan ajukan tambahan dana ke BNPB untuk dropping air dan rekayasa hujan buatan untuk disalurkan ke kabupaten yang kekeringan atau sudah habis dana penanganannya," jelas Edhy.
Berdasarkan koordinasi pihaknya dengan BMKG setempat, musim kemarau di DIY diprediksi masih akan berlangsung sampai September mendatang. "Juli, Agustus dan September masih musim kemarau, tapi sifatnya sedikit basah. Artinya hujan masih turun tapi dengan intensitas ringan," katanya.
Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad menyebutkan, pihaknya sudah mengajukan permohonan modifikasi cuaca ke BNPB dan sekarang tengah diproses. Pasalnya wilayah setempat sudah tidak diguyur hujan selama 30 hari berturut-turut dan sudah digolongkan ke dalam kekeringan ekstrem.
"Pengajuan modifikasi cuaca itu bertujuan untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan akibat kekeringan seperti kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.
Hanya saja data BPBD DIY mencatat jumlah kebakaran secara keseluruhan mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu. Pada 2023 terdapat 250 kasus kebakaran hutan dan lahan dan pada tahun ini yang tercatat hanya baru satu kejadian.
Namun demikian pihaknya mendata beberapa kapanewon di sejumlah daerah sudah mengalami kekeringan lahan yang berdampak pada produktivitas tanaman pertanian. "Kami tentu akan antisipasi di Agustus dan September mendatang. Kalau belum ada hujan tentu ini mengkhawatirkan yang berimbas pada kebutuhan air minum warga juga," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
TBY menggelar Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi di Jogja dengan menghadirkan tiga koreografer dari generasi berbeda.
Harga emas Pegadaian hari ini Kamis 21 Mei 2026 turun. Emas Antam jadi Rp2,862 juta, UBS Rp2,797 juta, dan Galeri24 Rp2,756 juta.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Imigrasi Sulsel menemukan WNA asal Filipina dan Malaysia memakai KTP Indonesia untuk mengurus paspor RI di sejumlah daerah.
Prabowo Subianto menegaskan pemerintah siap memakai radar dan satelit untuk melacak aset ilegal serta memburu koruptor hingga bungker bawah tanah.
Jadwal DAMRI Bandara YIA Kamis 21 Mei 2026 melayani rute Jogja dan Sleman dengan tarif Rp80.000 serta konektivitas antarmoda.