WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Pameran buku. /Solopos-Sunaryo Haryo Bayu
Harianjogja.com, JOGJA—Penerbitan buku di DIY menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Setidaknya dalam dua-tiga tahun belakangan, terjadi lonjakan signifikan produksi judul buku dari wilayah DIY.
Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DIY, Wawan Arif, menjelaskan dari data Perpustakaan Nasional sebagai pihak yang menerbitkan International Standard Book Number (ISBN), peningkatan penerbitan judul buku baru terjadi cukup signifikan.
“Ada pertumbuhan judul yang sangat signifikan. Dari rata-rata yang di Jogja saja misalnya, sekitar 9.000 judul, di dua-tiga tahun terakhir ini sudah tembus ke 14.000 judul per tahun. Artinya ada pertumbuhan yang hampir dua kali lipat,” ujarnya, Senin (11/11/2024).
Meski demikian, belum ada survey yang menunjukkan pertumbuhan judul ini dibarengi pertumbuhan pasar juga. “Tapi saya kira itu pendukung yang penting. Semakin banyak judul yang disediakan, masyarakat punya banyak pilihan untuk membaca,” paparnya.
Beberapa angin segar yang mendorong dunia penerbitan di Jogja diantaranya yakni banyaknya event buku. “Di luar yang kami inisiasi, event buku bertumbuhan. Bukan hanya di Jogja, tapi juga di Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota lain,” katanya.
BACA JUGA: Jogja Book Fair, Kemeriahan Lebaran Literasi
Angin segar lainnya yakni bermunculannya toko buku alternatif yang kini banyak diminati generasi muda. Toko buku alternatif ini merupakan toko buku kecil yang tidak didirikan oleh korporasi besar. Kurasi buku yang dijual pun lebih spesifik ketimbang toko buku konvensional.
“Terutama di Jogja, kita melihat ada generasi-generasi muda yang menyulap kontrakan atau kosnya, menjadi warung kopinya, dibuat seartistik mungkin lalu berjualan buku. Itu fenomena saat ini, menggunakan pendekatan bagaimana kita mengontenkan materi yang kita tawarkan kepada masayrakat,” ungkapnya.
Sementara bagi toko buku konvensional, perkembangan situasi ini justru menjadi pekerjaan rumah agar mereka tidak tertinggal. Mereka perlu membuat branding yang kuat mengikuti minat generasi muda sebagai pasarnya.
“Ini PR dari toko buku versi lama. Ketika mereka hanya memajang buku di rak tanpa ada sebuah konsep artistik, tanpa ada ada acara yang menarik masyarakat untuk datang, saya kira hari ini akan mulai membuat orang-orang malas mendatangi,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Departemen Kehakiman AS mengizinkan pegawai federal menggunakan TikTok di perangkat pemerintah setelah restrukturisasi kepemilikan dan pengelolaan data pengguna
Joan Mir resmi meninggalkan Honda dan bergabung dengan Gresini Ducati mulai MotoGP 2027. Juara dunia 2020 itu rela melepas status pembalap pabrikan demi kembali
Sedang mencari HP gaming flagship terbaik 2026? Simak perbandingan Asus ROG Phone 9 Pro, RedMagic 11 Pro, iQOO 15, dan Samsung Galaxy S26 Ultra beserta kelebiha
Lewis Hamilton bagikan momen liburan bersama Kim Kardashian di rumah danau Idaho. Dari pelukan romantis hingga dukungan di masa duka, hubungan mereka kian seriu
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) memperkuat pembinaan generasi muda