Advertisement
Harga Ayam Potong Meroket, Peternak Tidak Menikmati
Arsip-Farida saat melayani penjualan daging ayam di Pasar Beringharjo, Jumat (27/7/2018). - Harian Jogja/ Abdul Hamid Razak
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL – Kenaikan harga ayam potong yang menembus Rp40.000 per kilogram di sejumlah daerah termasuk Bantul diklaim tidak serta-merta menguntungkan para peternak. Pasalnya harga pakan dan bibit disebut juga mengalami kenaikan sehingga margin bagi peternak tidak terlalu signifikan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, Joko Waluyo menjelaskan bahwa pola usaha ayam potong di Bantul hampir seluruhnya berbasis kemitraan. “Kalau di Bantul itu 90 persen kemitraan. Jadi modal, bibit, sampai pakan dikendalikan inti (perusahaan). Peternak hanya memelihara, otomatis ya sedikit banyak kenaikan harga di pasaran tidak terlalu dinikmati peternak,” ujarnya, Sabtu (20/9/2025).
Advertisement
Menurut Joko, dengan sistem ini keuntungan besar dari kenaikan harga ayam potong dimungkinkan lebih banyak dinikmati oleh perusahaan inti. “Kalau peternak mandiri mungkin bisa merasakan margin harga, tapi di Bantul hampir tidak ada yang benar-benar mandiri,” tambah Joko.
Meski demikian, ia memastikan stok ayam potong di Bantul masih aman karena suplai datang dari dalam maupun luar daerah. “Kalau untuk kebutuhan daging ayam rata-rata itu 7.000 ton/tahun sementara stok biasanya selalu suprlus karena ketersediaan daging ayam itu selain dari peternak lokal juga ada yang dari luar daerah," ujarnya.
BACA JUGA: Harga Cabai, Bawang, hingga Telur Hari Ini 20 September 2025 Naik
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jateng-DIY, Parjuni mengungkapkan, lonjakan harga ayam juga dipicu kenaikan biaya produksi dan kuantitas panen yang berkurang. “Harga bibit ayam naik dari Rp3.000 jadi di atas Rp7.000. Ditambah harga pakan, terutama jagung, masih mahal. Itu semua membebani peternak,” jelasnya.
Menurutnya, suplai ayam panen saat ini memang lebih sedikit dibanding kondisi normal, sehingga harga terdorong naik. Namun, ia menilai kondisi ini tidak akan berlangsung lama. “Awal bulan depan diperkirakan sudah terkoreksi, kembali ke harga normal sekitar Rp30.000 an per kilogram,” katanya.
Parjuni menambahkan, meski harga di pasar tinggi, margin keuntungan tidak sepenuhnya dinikmati peternak. “Kalau harga sampai Rp40.000 yang lebih besar marginnya justru pedagang. Peternak idealnya sudah untung kalau harga di kisaran Rp35.000 sampai Rp36.000,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Polres Wonosobo Pastikan Balon Udara Lebaran 2026 Wajib Ditambatkan
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Ingin Berlibur ke Solo tanpa Macet, Cek Jadwal KRL Minggu 22 Maret
- Catat bagi Warga Soloraya, Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 22 Maret 2026
- Ingin Balik setelah Lebaran di Jogja, Ini Jadwal KA Bandara YIA
- Jadwal KA Prameks Rute Kutoarjo-Jogja Minggu 22 Maret 2026
- Catat Lur, Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo, Minggu 22 Maret 2026
Advertisement
Advertisement





