Lansia Hilang 9 Hari di Paliyan Ditemukan Tewas Dekat Luweng Ngeleng
Lansia 85 tahun asal Paliyan ditemukan meninggal di Luweng Ngeleng setelah 9 hari pencarian tim gabungan.
Tanah Longsor - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, GUNUGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat ada 30 early warning system (EWS) yang terpasang di lokasi rawan longsor. Meski demikian, kondisinya memprihatinkan karena banyak yang rusak sehingga tidak berfungsi dengan baik.
Subkoordinator Kelompok Substansi Pencegahan Bencana, Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Agus Wibawa Arifianto mengatakan, hingga sekarang ada 30 EWS yang terpasang untuk deteksi dini longsor. Alat-alat ini terpasang di daerah zona merah longsor seperti di Kapanewon Semin, Nglipar, Gedangsari, Patuk, Purwosari, hingga Ponjong.
Meski demikian, ia tidak menampik kondisi alat deteksi ini banyak yang rusak. Pasalnya, dari 30 unit yang terpasang, hanya lima EWS yang dapat berfungsi dengan baik.
“Tentu ini menjadi kendala dalam upaya mitigasi, khususnya dari ancaman longsor. Peringatan yang ada hanya mengandalkan informasi peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan BMKG,” kata Agus, Jumat (17/10/2025).
Disinggung mengenai upaya perbaikan, pihaknya tidak dapat berbuat banyak karena alat-alat tersebut sudah dihibahkan kepada pemerintah kalurahan setempat. Oleh karenanya, Agus berharap ada komitmen dari kalurahan untuk merawat karena menjadi bagian untuk deteksi dini bahaya longsor.
“Sudah dihibahkan. Jadi, kewenangan untuk pemeliharaan ada di kalurahan yang mendapatkan bantuan tersebut,” katanya.
Hal tidak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono. Menurut dia, sudah ada pengecekan terhadap EWS longsor yang terpasang di sejumlah titik rawan dan kondisinya banyak yang rusak.
“Banyak yang bermasalah mulai dari kerusakan aki atau kendala lain sehingga alat tidak berfungsi dengan normal,” katanya.
Purwono tidak menampik kerusakan alat ini sangat berpengaruh terhadap upaya mitigasi, salah satunya untuk deteksi dini kejadian longsor di lokasi rawan. “Untuk pemeliharaan, kami akan menggandeng pemerintah kalurahan yang ada EWS,” katanya.
Purwono menambahkan, berdasarkan hasil koordinasi dengan BMKG DIY, wilayah Gunungkidul akan memasuki musim hujan pada akhir Oktober. Masyarakat pun diminta mewaspadai terjadinya cuaca ekstrem yang berpotensi menyebabkan bencana alam.
“Kehati-hatian dan kewaspadaan dibutuhkan untuk menekan dampak dari terjadinya cuaca ekstrem. Kita juga terus berupaya memperluas jejaringan kalurahan tangguh bencana di Gunungkidul,” katanya.
Menurut dia, dampak dari cuaca ekstrem tidak hanya angin kencang, tetapi juga ada potensi lain seperti banjir maupun tanah longsor. Purwono mengakui sudah membuat kajian terkait potensi bencana di Gunungkidul.
Untuk banjir, potensinya ada di sepanjang aliran Kali Oya. Selain itu, juga ada beberapa titik di Kapanewon Girisubo. Potensi longsor didominasi di zona utara Gunungkidul, meliputi Kapanewon Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin, dan Ponjong.
“Untuk angin kencang, potensinya menyebar di seluruh wilayah di Gunungkidul,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lansia 85 tahun asal Paliyan ditemukan meninggal di Luweng Ngeleng setelah 9 hari pencarian tim gabungan.
Prof Dante tegaskan obesitas adalah penyakit serius yang meningkatkan risiko jantung dan kanker, perlu penanganan menyeluruh.
BRIN dorong pembahasan RUU Pemilu dipercepat agar Pemilu 2029 berjalan berkualitas dan sesuai tahapan.
Fadli Zon dorong Museum Pos Indonesia di Bandung jadi cagar budaya nasional karena nilai sejarahnya yang penting bagi bangsa.
KPK menetapkan Bupati Langkat Syah Afandin sebagai tersangka OTT terkait suap proyek dan gratifikasi senilai Rp3,5 miliar.
Witan Sulaeman resmi perpanjang kontrak 3 tahun di Persija Jakarta. Siap tampil maksimal di bawah pelatih Shin Tae-yong.