Advertisement

9 Tahun Merawat Anak Lumpuh, Ibu Bertahan Menulis 32 Novel Digital

Khairul Ma'arif
Kamis, 12 Februari 2026 - 13:57 WIB
Maya Herawati
9 Tahun Merawat Anak Lumpuh, Ibu Bertahan Menulis 32 Novel Digital Foto ilustrasi menulis menggunakan laptop. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO—Sembilan tahun seusai gigitan ular weling melumpuhkan Ananda Yue Riastanto, keluarga di Padukuhan Dhisil, Salamrejo, Sentolo, Kulonprogo, bertahan dengan cara tak biasa: sang ibu menulis puluhan novel digital untuk menjaga kewarasan sekaligus menopang ekonomi rumah tangga pada Rabu (11/2/2026).

Kasur empuk di ruang utama menjadi pusat aktivitas Ananda yang kini berusia 16 tahun. Sejak 5 Januari 2017, hari-harinya lebih banyak terbaring. Ia mendengar setiap suara yang mendekat, tetapi tak mampu membalasnya. Sembilan tahun berjalan, Deni Riyaningsih setia mendampingi—mengurus makan, mandi, hingga kontrol ke rumah sakit.

Advertisement

"Kadang kalau sedang kontrol baru Ananda ke luar rumah untuk ke rumah sakit," ujar Deni saat ditemui di rumahnya, Rabu (11/2/2026).

Peristiwa itu bermula dari gigitan ular weling sepanjang sekitar 1,5 meter di sekitar rumah yang kala itu masih dikelilingi semak dan pepohonan rindang. Bekas lukanya kecil, tanpa gejala berarti. Namun beberapa jam seusai dirawat di Rumah Sakit Wates, kondisi Ananda memburuk.

"Ternyata mual ingin muntah itu malah seperti hampir meninggal dunia namun bisa dibantu pertolongan medis sehingga masih selamat tetapi kondisinya seperti itu sekarang (lumpuh)," ungkapnya.

Ananda kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Sardjito dan menjalani perawatan selama 32 hari. Saat diperbolehkan pulang, keluarga mengira kondisi telah pulih. Kenyataannya berbeda. Ananda harus makan menggunakan selang NGT, berhenti sekolah, dan bergantung penuh pada orang tua untuk aktivitas harian.

"Ularnya panjanganya sekitar 1,5 meter. Memang rumah saya saat kejadian masih banyak semak-semak. Bahkan setelah saya pulang dari Sardjito pun masih kadang sesekali ada ular weling yang akan datang tetapi selalu dicegat tidak masuk rumah," ungkapnya.

Deni mengaku fase menerima keadaan bukan perkara mudah.

"Awal-awal saya sulit menerima, pulang dari rumah sakit banyak bengongnya di rumah kadang tiba-tiba nangis. Baru sekitar lima tahun terakhir ini menata diri menata hati, pikiran untuk menerima sabar dan ikhlas," lanjut Deni.

Di sela mengurus Ananda dan adiknya yang masih taman kanak-kanak, Deni menemukan ruang sunyi yang menyelamatkannya: menulis. Sejak 2021, ia aktif menulis novel di platform digital seperti Good Novel, Noveltoon, dan Tivizo. Semua dikerjakan hanya bermodal gawai.

"Saya punya sampingan nulis di platform digital daring lewat aplikasi dan website Good Novel sudah lima tahun terakhir ini saya lakoni. Buat iseng saja kan biar tidak stress untuk menuangkan segala kegundahan yang ada di isi kepala," tutur Deni.

Tak disangka, naskah pertamanya langsung diterima dan menghasilkan honor Rp300 ribu. Dukungan suami membuatnya mantap melanjutkan.

"Yang mengejutkan itu menghasilkan, dapat uang. Waktu itu dapat Rp300 ribu, terus suami saya bilang kalau menghasilkan diteruskan saja," bebernya.

Dalam sehari, ia menulis satu bab sepanjang 800 hingga 1.000 kata, bahkan pernah mencapai 2.500 kata. Satu novel bisa rampung dalam dua hingga enam bulan. Selama lima tahun terakhir, total 32 novel telah ia terbitkan di berbagai platform digital. Awalnya ia menyadari tulisannya penuh kekurangan, terutama tanda baca. Butuh dua tahun belajar mandiri hingga merasa percaya diri.

"Saya tidak nyetak fisik hanya platform digital saja. Dalam sehari saya menyetor satu bab novel dengan total 800 kata sampai seribu kata bahkan bisa sampai 2.500 kat pernah," terang Deni.

Penghasilan dari menulis cukup membantu ketika pendapatan suaminya menurun. Bahkan, dari honor novel digital, keluarga ini mampu membeli sepeda motor bekas. Kini, Deni menabung untuk membeli laptop agar proses kreatifnya lebih leluasa.

Di tengah perjuangan itu, perhatian datang dari Pemerintah Kabupaten Kulonprogo bersama Baznas Kulonprogo. Keluarga menerima bantuan dua ekor kambing sebagai penopang ekonomi tambahan. Selain itu, direncanakan pembangunan jalan cor menuju rumah agar kursi roda dapat digunakan dengan aman, serta rehabilitasi hunian melalui Program Aladin pada Maret 2026.

Kisah Deni menunjukkan bahwa literasi digital bukan sekadar hobi, melainkan ruang bertahan hidup. Di tengah keterbatasan fisik anaknya, novel digital menjadi jalan sunyi yang menjaga harapan keluarga ini tetap menyala di Kulonprogo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

KPAI Kecam Guru Suruh 22 Siswa SD Buka Pakaian di Jember

KPAI Kecam Guru Suruh 22 Siswa SD Buka Pakaian di Jember

News
| Kamis, 12 Februari 2026, 16:17 WIB

Advertisement

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Wisata
| Rabu, 11 Februari 2026, 21:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement