Advertisement
Merapi Keluarkan 18 Lava Pijar dan Dua Awan Panas Dalam Sehari
Gunung Merapi Jogja meluncurkan lava pijar. - Ilustrasi - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN— Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika tinggi dengan tercatat 18 kali guguran lava dan dua kali awan panas guguran dalam satu hari pengamatan. Kondisi ini menandakan suplai magma di dalam gunung masih berlangsung dan berpotensi memicu aktivitas lanjutan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (9/4/2026) dengan arah dominan guguran lava menuju barat daya, tepatnya ke alur sungai di kawasan Kali Sat/Putih dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimum material pijar itu mencapai dua kilometer dari puncak.
Advertisement
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menjelaskan intensitas guguran lava masih terpantau cukup sering dalam periode tersebut.
"Teramati 18 kali guguran lava ke arah Baratdaya (Kali Sat/Putih, Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter," ungkapnya pada Jumat (10/4/2026).
BACA JUGA
Selain itu, dua Awan Panas Guguran (APG) juga muncul pada siang hari. APG pertama terjadi sekitar pukul 14.17 WIB dengan jarak luncur 1.700 meter ke arah hulu Kali Boyong, beramplitudo maksimum 13 mm dan berdurasi 152,19 detik.
Selang beberapa menit, tepatnya pukul 14.32 WIB, APG kembali terpantau dengan jarak luncur serupa sejauh 1.700 meter. Kali ini mengarah ke hulu Kali Sat/Putih dengan amplitudo maksimum 11 mm dan durasi 161,89 detik.
Agus menegaskan masyarakat diminta tetap menjauhi kawasan rawan bencana, terutama alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Potensi bahaya saat ini masih terkonsentrasi di sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong dengan jangkauan hingga lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer. Sementara itu, sektor tenggara mencakup Sungai Woro dengan potensi hingga tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.
Selain ancaman guguran lava dan awan panas, warga juga diminta mewaspadai potensi lahar, terutama saat hujan turun di kawasan sekitar Merapi.
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 10 April 2026
- Penataan Sungai Code Tahap II Dimulai, Pemkot Jogja Bangun 14 Rumah
- Kurang 24 Jam, 2 Pelaku Penganiayaan Babarsari Ditangkap, 2 Buron
- Dubes Inggris Apresiasi Muhammadiyah Soal Pendidikan Karakter
- PAD Tembus Rp1 Triliun, Pemkot Jogja Dipuji Hasto Kristiyanto
Advertisement
Advertisement








