Ekonomi DIY Tumbuh 5,79% pada Triwulan III 2026, Ini Sektor Pendorongnya

Anisatul Umah
Anisatul Umah Kamis, 05 November 2026 16:07 WIB
Ekonomi DIY Tumbuh 5,79% pada Triwulan III 2026, Ini Sektor Pendorongnya

Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tumbuh 5,79% secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada triwulan III 2026. Kinerja positif tersebut ditopang oleh pertumbuhan seluruh lapangan usaha, dengan sektor akomodasi dan makan minum menjadi salah satu penyumbang terbesar.

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat pertumbuhan ekonomi secara kuartalan atau quarter-to-quarter (q-to-q) mencapai 0,25% dibandingkan triwulan II 2026. Sementara secara kumulatif atau cumulative-to-cumulative (c-to-c), ekonomi DIY tumbuh 5,80% dibandingkan periode Januari-September 2025.

Plt. Kepala BPS Provinsi DIY, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan pertumbuhan ekonomi secara tahunan didorong oleh kinerja positif seluruh lapangan usaha.

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang sebesar 10,95%. Berikutnya, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,25%, sedangkan jasa lainnya mencatat pertumbuhan 9,75%.

"Sektor-sektor utama yaitu pertanian, industri pengolahan, konstruksi, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta Informasi dan Komunikasi memberikan kontribusi sebesar 52,70% terhadap perekonomian DIY," ujarnya, Kamis (5/11/2026).

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga menjadi sumber pertumbuhan terbesar dari sisi produksi. Lapangan usaha tersebut memberikan kontribusi sebesar 0,95% terhadap total pertumbuhan ekonomi DIY.

Konsumsi Pemerintah Tumbuh 20,90%
Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen tercatat mengalami pertumbuhan positif. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) masih menjadi penyumbang utama terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), masing-masing dengan kontribusi 60,49% dan 38,27%.

Endang menjelaskan pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran terjadi pada konsumsi pemerintah yang mencapai 20,90%. Komponen lainnya meliputi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 6,26%, PKRT 4,91%, dan PMTB 4,72%.

"Pertumbuhan tertinggi terjadi pada konsumsi pemerintah sebesar 20,90%, diikuti oleh LNPRT sebesar 6,26%, PKRT sebesar 4,91% dan PMTB sebesar 4,72%," jelasnya.

Meski pertumbuhan konsumsi pemerintah menjadi yang tertinggi, PKRT tetap menjadi sumber pertumbuhan terbesar dari sisi pengeluaran dengan kontribusi 2,58%.

Menurut Endang, konsumsi rumah tangga didorong oleh meningkatnya kebutuhan sehari-hari dan pendidikan, perubahan pola konsumsi masyarakat, serta aktivitas pariwisata yang semakin meningkat.

"Mendorong pengeluaran untuk akomodasi, makan minum, dan jasa hiburan," paparnya.

Aktivitas Pariwisata dan Investasi Topang Ekonomi DIY
Secara kuartalan, pertumbuhan ekonomi DIY didukung aktivitas konsumsi rumah tangga serta peningkatan investasi melalui pembangunan infrastruktur dan proyek strategis nasional.

Selain itu, peningkatan belanja pemerintah, terutama melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), turut menopang aktivitas ekonomi DIY pada triwulan III 2026.

Dari sisi spasial, kontribusi DIY terhadap perekonomian Pulau Jawa tercatat relatif kecil, yakni sebesar 1,51%.

Meski demikian, Endang menyebut DIY masih mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi positif sebesar 5,79% secara tahunan. Kinerja tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi daerah yang didukung konsumsi domestik, perkembangan sektor jasa, serta aktivitas pariwisata.

"DIY masih mampu mempertahankan kinerja pertumbuhan yang positif sebesar 5,79% yoy, hal ini mencerminkan ketahanan ekonomi daerah yang didukung oleh kuatnya konsumsi domestik, perkembangan sektor jasa, serta aktivitas pariwisata yang terus tumbuh," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online