Beberapa Sekolah Kekurangan Siswa, Kegiatan Belajar Jalan Terus

Ilustrasi PPDB. - JIBI
10 Juli 2018 14:10 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Bantul akan mengevaluasi beberapa sekolah menengah pertama (SMP) negeri yang kekurangan siswa dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini. Sementara ini sekolah yang kekurangan siswa tetap melanjutkan proses belajar mengajar dengan mengurangi kelas karena tidak ada perpanjangan masa pendaftaran.

Kepala Seksi Kurikulum SMP, Disdikpora Bantul, Suyatno mengatakan evaluasi menyasar pada kualitas sekolah, guru, serta kondisi dan letak sekolah. Ia mencontohkan SMP Negeri 2 Pundong termasuk sekolah di pinggiran yang jauh dari permukiman. Sementara itu jumlah lulusan sekolah dasar (SD) di wilayah Pundong tahun ini juga tidak terlalu banyak.

Tidak heran dalam PPDB tahun ini, kata dia, SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Pundong banyak menerima siswa dari wilayah Imogiri yang tidak masuk dalam zonasi sekolah, tetapi masuk zonasi kabupaten.

"Banyak faktor sebenarnya kenapa sekolah kekurangan siswa. Yang pasti kami akan evaluasi semuanya," kata Suyatno di kantor Disdikpora Bantul, Selasa (10/7/2018).

Dalam PPDB tahun ini SMP Negeri 2 Pundong hanya terpenuhi 123 siswa dari total kuota 206 siswa. Selain SMP Negeri 2 Pundong, SMP Negeri 1 Bambanglipuro dan SMP Negeri 2 Sanden juga kekurangan siswa. SMP Negeri 1 Bambanglipuro hanya terpenuhi 141 siswa dari kuota 206 siswa, dan SMP Negeri 2 Sanden hanya terpenuhi 146 siswa dari kuota 194 siswa.

Suyatno mengatakan tidak menutup kemungkinan dalam PPDB tahun depan, ketiga SMP negeri tersebut kuota siswanya dikurangi dengan melihat potensi kelulusan siswa SD di tiga kecamatan itu. Dinas juga akan mengusulkan agar zonasi PPDB untuk SMP tahun depan bisa diperluas lagi, khusus untuk zonasi lingkungan sekolah.

Zonasi lingkungan sekolah tahun ini hanya berjarak 500 meter. Siswa yang rumahnya berjarak 500 meter ke sekolah wajib diterima berapapun nilai ujian akhir sekolah berbasis nasionl (UASBN). "Mungkin ke depan zonasi lingkungan bisa ditambah menjadi satu kilometer," kata Suyatno.

Suyatno mengaku usulannya tersebut tidak lepas dari fakta masih banyak kuota lingkungan sekolah yang tidak terpenuhi atau bahkan ada sekolah yang hanya mendapat satu siswa untuk zona lingkungan sekolah.

"Seperti di SMP 2 Dlingo hanya mendapatkan satu murid di lingkungan sekolah. SMP di Pajangan juga rata-rata hanya empat hingga lima murid," papar dia. Karena itu, ia menyatakan untuk sekolah yang berlokasi di wilayah pegunungan dan pinggiran masuk akal jika zonasi lingkungan ditambah dari 500 meter menjadi satu kilometer.