Gunungkidul Belum Tetapkan Siaga Kekeringan, Ini Alasannya
BPBD Gunungkidul belum menetapkan siaga darurat kekeringan meski musim kemarau 2026 sudah dimulai sejak akhir April.
Ilustrasi./Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Dinas Pertanian dan Pangan terus mengembangkan budi daya bawang merah di Gunungkidul. Langkah ini sebagai upaya mencukupi kebutuhan di masyarakat yang hingga sekarang masih mengandalkan pengiriman dari luar daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan budi daya bawang merah terus dikembangkan karena Gunungkidul bukan sebagai sentra produksi. Upaya pengembangan telah dilakukan, namun hasil dari petani belum bisa mencukupi kebutuhan di masyarakat.
“Sudah mulai membuahkan hasil. Tetapi, panen bawang berah baru bisa mencukupi kebutuhan 10 sampai 20 persen di masyarakat, sisanya banyak mendatangkan dari luar daerah seperti Brebes, Sragen dan lainnya,” kata Rismiyadi, Minggu (29/1/2023).
Dia menjelaskan, dengan pangsa pasar yang masih terbuka lebar, maka upaya pengembangan secara massif terus dilakukan. Sebagai contoh di tahun ini mengembangkan budi daya bawang merah varietas Bauji. “Untuk tahap awal dikembangkan di Kapanewon Ponjong dan Playen. Total ada 10 titik yang dijadikan demplot,” ujar dia.
BACA JUGA: Embung Bakal Dibangun di Imogiri untuk Mengairi Bawang Merah
Menurut Rismiyadi, varietas Bauji memiliki banyak keunggulan. Selain cepat beradaptasi dengan berbagai jenis tanah, juga dapat bertahan di cuaca ekstrem.
Tak hanya itu, bawang merah jenis ini juga memiliki produktivitas yang sangat bagus. Diperkirakan produksinya bisa mencapai 12,8 ton per hektarenya.
“Sudah diujicoba tanam dan sudah panen. Untuk percontohan di dua kapanewon dulu, nantinya terus dikembangkan di seluruh wilayah,” katanya.
Diharapkan dengan budi daya ini juga bisa sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Gunungkidul. “Mudah-mudahan semua dapat berjalan dengan lancar,” katanya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Sustiwiningsih mengatakan, untuk sekarang sudah memasuki masa panen raya jagung dan padi. Adapun hasilnya dapat berjalan dengan baik karena di beberapa wilayah telah panen.
Dia mencontohkan, untuk luas tanam jagung di musim tanam pertama mencapai 46.603 hektare dan tersebar di seluruh kapanewon di Bumi Handayani. “Tahun lalu produksi jagung mencapai 248.861,7 ton. Mudah-mudahan tahun ini hasilnya bisa lebih baik lagi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul belum menetapkan siaga darurat kekeringan meski musim kemarau 2026 sudah dimulai sejak akhir April.
Wali Kota Jogja menemukan kandang ayam, sampah, dan pendangkalan saat susur Sungai Code, Pemkot rencanakan normalisasi.
Perbaikan Jalan R Agil Kusumadya Kudus tuntas, akses Demak–Kudus kini mulus dengan anggaran gabungan pusat dan daerah Rp40 miliar.
Maarten Paes tampil solid bawa Ajax Amsterdam ke final playoff Europa Conference League. Simak performa kiper Timnas Indonesia vs Groningen di sini.
Lelang jabatan Pemkab Gunungkidul selesai, tujuh kandidat bersaing jadi kepala OPD dan menunggu keputusan bupati.
Aldila Sutjiadi sukses melaju ke final Morocco Open 2026. Simak perjuangan Aldila/Zvonareva menuju gelar juara WTA 250 malam ini pukul 21.20 WIB.