PAN Bidik Satu Kursi di Tiap Dapil untuk Rebut Kulonprogo
PAN DIY menargetkan satu kursi DPRD di setiap Dapil di Kulonprogo untuk mengembalikan posisinya sebagai partai pemenang.
Proyek JJLS/JIBI
Harianjogja.com, KULONPROGO—Minimnya aktivitas ekonomi membuat jalur Jalur Jalan Lingkar Selatan (JJLS) Kulonprogo belum dilirik investor besar hingga awal 2026. Sementara aktivitas penanaman modal justru didominasi pelaku usaha mikro dan menengah.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kulonprogo mencatat investor besar di jalur JJLS masih bisa dihitung dengan jari. Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Muda DPMPTSP Kulonprogo, Uswatun Khasanah, menyebut belum banyak investor besar yang datang untuk berkonsultasi maupun meminta fasilitasi investasi di kawasan tersebut.
“Yang besar-besar itu belum ada yang masuk konsultasi minta fasilitasi ke kami. Ada sektor kesehatan, Rumah Sakit Aisyiyah itu baru pembangunan di daerah Kalurahan Pleret, Panjatan sama pom bensin,” ujar Uswatun kepada Harian Jogja, Jumat (23/1/2026).
Perempuan yang akrab disapa Uus ini menjelaskan, dua investasi besar tersebut sejatinya sudah diajukan sejak beberapa tahun lalu, namun hingga kini belum beroperasi dan masih berada dalam tahap pembangunan. Menurutnya, proyek investasi berskala besar memang membutuhkan waktu panjang, mulai dari proses perizinan hingga konstruksi fisik.
“Kalau yang proyek-proyek besar itu kan biasanya proses konstruksinya bisa bertahun-tahun baru selesai mulai dari perizinan dan sebagainya. Kalau sektor hotel, pariwisata gitu yang masuk belum ada di kawasan JJLS Kulonprogo,” ujarnya.
Uus menambahkan, nilai investasi pembangunan pom bensin dan rumah sakit tersebut masing-masing mencapai miliaran rupiah, namun belum cukup untuk memicu geliat investasi besar lainnya di sepanjang JJLS Kulonprogo.
Minimnya investasi besar di kawasan JJLS dinilai tidak lepas dari kondisi wilayah yang masih sepi aktivitas ekonomi. Mobilitas kendaraan dan arus manusia di jalur tersebut masih tergolong rendah, sehingga secara studi kelayakan belum dianggap menarik bagi investor.
“Untuk tahun ini belum ada investasi besar yang masuk. JJLS masih sepi jadi secara perhitungan studi kelayakannya dianggap investor belum masuk,” jelas Uus.
Terkait rencana pengembangan kawasan maupun penyediaan rest area melalui skema pencarian investor, Uus menyampaikan hingga kini belum ada arahan khusus yang difokuskan untuk kawasan JJLS. Studi kelayakan yang tengah disusun DPMPTSP Kulonprogo saat ini diarahkan ke kawasan lain, bukan pada jalur JJLS.
Sementara itu, Sekretaris Bapperida Kulonprogo, Cecilia Susy Setya Cahyani, menyampaikan pengembangan kawasan JJLS sejauh ini masih terpusat di sekitar Jembatan Kabanaran. Upaya yang telah dilakukan adalah penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) yang mulai dikerjakan sejak 2025 oleh Dinas Pertanahan dan Tata Ruang.
Pengembangan lainnya dilakukan melalui peningkatan akses menuju Pantai Trisik, salah satunya dengan pembangunan Jembatan Nglinggan yang saat ini sedang berjalan.
“Untuk penataan kawasan sekitarnya semuanya, semua bangunan dan lingkungan ada ketentuannya di RTBL,” jelas Cecilia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAN DIY menargetkan satu kursi DPRD di setiap Dapil di Kulonprogo untuk mengembalikan posisinya sebagai partai pemenang.
Polisi masih menyelidiki penyebab meninggalnya taruna Akpol Semarang berinisial AMM yang ditemukan terluka di kompleks pendidikan Akpol.
Dinsos Bantul menargetkan setiap pendamping PKH meluluskan 24 KPM dari bansos pada 2026 untuk mempercepat pengentasan kemiskinan.
Belanja gaji pegawai Pemkab Sleman 2027 turun menjadi Rp787,97 miliar. BKAD mewaspadai TPP terdampak jika target PAD tidak tercapai.
Pemerintah memastikan pemisahan anggaran BGN dari fungsi pendidikan mulai diterapkan pada penyusunan APBN 2028 sesuai putusan MK.
Balita menjadi kelompok paling rentan TBC di Kota Jogja. Hingga 23 Juli 2026 tercatat 174 anak terdiagnosis tuberkulosis.