NATAL 2014 : Musim Liburan, Omzet Penjualan Batik Meningkat

Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja - screenshoot)
01 Januari 2015 10:20 WIB Kulonprogo Share :

Natal 2014 atau libur akhir tahun memberikan berkah bagi pengusaha dan pedagang batik di Lendah, Kulonprogo.

Harianjogja.com, KULONPROGO-Sepanjang liburan Natal, omzet penjualan kain batik di sentra kerajinan batik Kecamatan Lendah meningkat 40%. Batik motif geblek renteng banyak diburu wisatawan dari luar kota.

Pemilik Batik Farras Dusun Sembungan Umbuk Haryanto memebenarkan terjadi peningkatan omzet selama liburan Natal.

"Untuk jumlah omzet keseluruhan belum kami hitung tetapi rata-rata berkisar 40 persen per hari," ungkapnya saat ditemui di workshop Batik Farras di Dusun Sembungan, Desa Gulurejo, Lendah, Senin (29/12/2014).

Disebutkannya, pada hari biasa omzet penjualan batik mencapai Rp1,5 juta per hari, sementara penerimaan omzet selama liburan Natal sekitar Rp2 juta per hari.

Ia menjelaskan motif geblek renteng mendominasi permintaan, terutama konsumen dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.Harga yang dipatok untuk selembar kain batik, terang Umbuk, bervariasi, mulai dari Rp70.000 sampai dengan Rp1juta, tergantung dari kerumitan pembuatan.

"Untuk kain batik yang mencapai jutaan rupiah menggunakan pewarna alam," ujarnya.

Diakuinya, kenaikan harga bahan baku belum diikuti dengan kenaikan harga kain batik. Alasannya, menjaga konsumen tidak lari. Pengrajin batik, kata dia, memilih untuk mengurangi keuntungan ketimbang menaikkan harga. Ia mencontohkan, jika keuntungan sebelum kenaikan harga bahan baku sebesar Rp1.000 maka saat ini keuntungan yang diperoleh tidak sampai Rp1.000.

"Rencana menaikkan harga ada, tetapi mungkin pada 2015," imbuhnya.

Fadingga Aina Putri, 21, mahasiswi dari Jakarta, mengaku senang datang ke Farras Batik karena harga jual relatif terjangkau jika dibandingkan dengan tempat lain.

"Saya dapat informasi dari orang-orang dan ternyata benar setelah datang ke sini batiknya bagus dan lumayan murah, selain itu juga dapat melihat proses produksi secara langsung," jelasnya.

Diungkapkannya, motif geblek renteng menjadi pilihan karena sebagai ikon Kulonprogo. "Jadi, saya ingin punya kain batik yang khas daerah tertentu," tandasnya.