TRADISI KULONPROGO : Ungkapkan Syukur, Warga Arak Gunungan Gula Jawa

Karang taruna desa memanggul gunungan saat arak-arakan peringatan Merti Dusun, Dusun Gunungrejo, Desa Hargorejo, Kokap, Sabtu (9/5/2015). (JIBI/Harian Jogja - Holy Kartika N.S)
10 Mei 2015 20:20 WIB Kulonprogo Share :

Tradisi Kulonprogo berikut terbilang unik, yakni menyusun gula jawa menjadi gunungan.

Harianjogja.com, KULONPROGO-Ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, disampaikan ratusan warga Dusun Gunungrejo, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kulonprogo dengan arak-arakan dua gunungan dan belasan tenong berisi ingkung dan tumpeng. Upacara adat merti dusun itu, tak hanya menarik wisatawan lokal tetapi juga mancanegara.

Arak-arakan gunungan dan tenong dibawa warga dari sebuah masjid desa sejauh 500 meter menuju ke sebuah halaman salah satu warga. Diiringi gending-gending gamelan, prosesi adat itu turut diikuti puluhan warga, baik dari dusun setempat maupun dusun lainnya.

“Upacara adat ini, terakhir dilaksanakan pada tahun 1970-an. Kami ingin mulai menggiatkannya kembali. Tujuannya, mengajak generasi muda untuk mengenal tradisi dan budayanya atau untuk nguri-uri kabudayan jawa,” ujar Sesepuh Desa Paiman Dirjosuprapto, 71, ditemui di sela acara, Sabtu (9/5/2015).

Terdapat dua gunungan yang diarak warga sebagai persembahan kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah guna menyejahterakan masyarakat desa. Gunungan tersebut yakni Sri Rejeki dan Boko Gati. Paiman mengatakan, kedua gunungan memiliki makna yang berbeda.

Gunungan Sri Rejeki yakni gunungan yang terdiri dari gula jawa atau gula kelapa. Gunungan tersebut menyimbolkan kemakmuran warga dengan potensi gula kelapa yang menjadi sumber mata pencaharian utama. Sedangkan Gunungan Boko Gati, berisi hasil bumi yang terdiri dari pala gumatung dan pala kapendem.

“Pala gumatung yaitu hasil bumi yang berupa tanaman yang buahnya di atas seperti papaya, tomat dan jeruk. Kalau pala kapendem, tanaman apa saja yang buahnya berada di dalam tanah seperti ketela dan kentang,” jelas Paiman.

Tidak hanya mengarak hasil bumi, sejumlah makanan berupa tumpeng dan ingkung ayam disajikan dan dimakan bersama-sama oleh warga. Hal itu dimaknai sebagai rasa syukur dan saling berbagi kepada seluruh masyarakat atas melimpahnya pangan. Usai diarak, gunungan tersebut menjadi rebutan para warga desa.

“Acara ini merupakan ungkapan syukur kami kepada Yang Maha Kuasa. Harapannya, semoga masyarakat ayem tentrem, gemah ripah loh jinawi dan selalu dalam perlindungan Tuhan,” imbuh Paiman.

Tradisi ngalab berkah tersebut menjadi puncak dari seluruh prosesi yang telah dilakukan. Keunikan tersebut juga menjadi daya tarik bagi sejumlah wisatawan lokal, maupun mancanegara. Graham Jowett, wisatawan asing asal Australia mengaku, tidak menyangka ada acara tradisi seperti yang ditampilkan warga Desa Hargorejo itu. Menurut dia, acara tradisi itu sangat menarik dan mengagumkan.

“Baru pertama kali saya ke sini [Kulonprogo], dan tidak menyangka ada acara seperti ini. Awalnya hanya berkunjung biasa, karena di sini adalah produsen gula semut. Partisipasi masyarakat ini sangat mengagumkan, makanannya pun juga enak,” ungkap Graham.