NELAYAN GUNUNGKIDUL : Dari Tangkapan Ikan Untuk Raih Harapan

Rahajeng Ardaninggar (Mayang Nova Lestari/JIBI - Harian Jogja)
09 Februari 2016 05:20 WIB Gunungkidul Share :

Nelayan Gunungkidul merupakan pekerjaan membanggakan.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-- Bangga, satu kata yang pertama kali keluar dari mulut Rahajeng Ardaninggar (16th), putri semata wayang Sugino, sang nelayan Pantai Baron. Di sekolahnya, SMK N 1 Tanjungsari, Desa Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul. (Baca Juga :http://www.harianjogja.com/baca/2016/02/08/nelayan-gunungkidul-menjadi-istri-nelayan-mental-justru-lebih-diuji-23-689147"> NELAYAN GUNUNGKIDUL : Menjadi Istri Nelayan, Mental Justru Lebih Diuji (2/3))

Jarang sekali ia mendapati teman-temannya yang bernasib sama sepertinya, yakni sebagai anak nelayan. Ajeng tak pernah merasa rendah diri, karena dari tangkapan ikan ayahnya ia mampu menemukan jalan terang yang menuntunnya menuju cita-cita.

Dibalik paras hitam manis Ajeng, begitu panggilannya, terdapat alasan mengapa ia sangat bangga terhadap pekerjaan ayahnya sebagai nelayan. Kebanggaan itu tumbuh kian sering setiap kali sekolahnya membahas mengenai kelautan. Pasalnya, Sugino kerap bercerita mengenai mesin perahu, alat tangkap ikan, cuaca dan berbagai pengalaman menarik dilaut membuatnya memiliki pengetahuan yang lebih banyak dibandingkan kawan-kawannya.

"Teman-teman kadang cemburu dengan saya, karena saya sering diajak bapak naik perahu muter Baron, walau kadang ada rasa takut juga sih. Selain itu saya jadi lebih dahulu tau ilmu-ilmu mengenai kelautan dibanding teman-teman," katanya, Jumat (5/2/2016).

Menjadi anak satu-satunya dalam keluarga tak lantas membuat Ajeng tumbuh menjadi anak yang manja. Ia memilih bersekolah di SMK N 1 Tanjungsari yang berlatarbelakang sekolah pelayaran tersebut agar ia mampu menjadi perempuan yang tangguh. Di usianya yang mulai menginjak remaja tersebut ia justru jauh dari tata rias ataupun kegiatan mempercantik wajah lainnya. Ia bahkan menyebut aneh jika ada salah satu siswi pelayaran yang bersolek.

"Anak perempuan di SMK Pelayaran itu nggak boleh dan nggak pernah dandan, kami tampil sederhana dan apa adanya," kata dia dengan masih berbalut seragam sekolah pelayaran.

Semenjak SMP ia memang bercita-cita untuk bersekolah di sekolah pelayaran. Baginya itu hal yang membanggakan. Selain tersedia lapangan kerja yang luas, sekolah di SMK Pelayaran menurutnya sangat menantang. Kesiapan mental dan fisik menjadi modal utama untuk menjadi siswi SMK Pelayaran. Meski dirasa sangat melelahkan dan menguras tenaganya,namun bayangan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta yang menjadi impiannya selalu mampu membangkitkan semangatnya lagi.

"Setiap pagi, saya dan teman-teman harus skotjam, push up, dan lari keliling lapangan sepakbola enam kali putaran," kata Ajeng.

Menjadi anak seorang nelayan selalu ia syukuri setiap hari meskipun tak selalu semua kebutuhannya dapat tercukupi. Ajeng mengerti bahwa penghasilan kedua orangtuanya tak seberapa. Terlebih saat musim hujan dan badai yang mengharuskan ayahnya menunda mencari ikan. Sedang Ibunya yang hanya berjualan rempeyek setiap akhir pecan di Pantai Baron tak selalu habis barang dagangannya. Ajeng tak ingin menuntut macam-macam, yang penting masih dapat sekolah dan makan setiap hari sudah cukup baginya. Ajeng sadar, bahwasannya ia tak akan mampu sampai di titik ia berdiri sekarang tanpa dukungan dari kedua orangtuanya, Marini dan Sugino.

"Dari hasil bapak kerja di laut saya jadi bisa sekolah, dan punya kesempatan untuk melanjutkan cita-cita," kata Ajeng dengan suara yang bergetar haru.

Pekerjaan ayahnya terkadang menimbulkan rasa rindu dan cemas yang menjadi satu kesatuan. Rindu sebab ia jarang bertemu dengan ayahnya karena jadwal bekerja ayahnya dan sekolahnya yang tak dapat disamakan. Kecemasan yang datang tak lain saat Sugino memaksa berangkat melaut saat cuaca sedang tak baik. Namun, ia percaya ayahnya tersebut mampu memutuskan waktu yang terbaik untuk melaut, sehingga kecemasan itu sedikit berkurang.

"Sering cemas, tapi bapak sering lihat internet dulu. Kalau besok anginnya besar bapak nggak berangkat. Pernah tidak bertemu sampai tiga hari berturut-turut. Waktu itu pas musim ikan dan lobster, bapak lebih lama berada di laut. Saya masih tidur bapak sudah berangkat, bapak pulang ke rumah saya sudah tidur, kadang itu yang bikin kangen," ungkap Ajeng. (Baca Juga : http://www.harianjogja.com/baca/2016/02/08/nelayan-gunungkidul-baca-bahasa-alam-lewat-gadget-13-688999">NELAYAN GUNUNGKIDUL : Baca Bahasa Alam Lewat Gadget (1/3))

Bagi Ajeng, ada hal yang lebih penting dari sekedar merindukan dan mencemaskan ayahnya. Yakni meneruskan semangat dan belajar, ia ingin membuktikan bahwa ia dapat menggapai cita-citanya dan membanggakan kedua orangtuanya. Ia juga tak ingin berlarut-larut membuat orang tuanya cemas dengan sekolahnya yang membutuhkan kerja keras fisik. Ia sangat mencintai sekolah kelautannya, selain mengikuti pelajaran wajib Ajeng juga mengikuti beberapa pelajaran ekstrakurikuler seperti renang, karate, dan voli. Bulan Maret mendatang akan diadakan kejuaraan karate, Ajeng berjanji akan mengukir prestasi disana.

Ia selalu akan mengingat pesan ayah dan ibunya, sebagai perempuan ia harus menjaga diri karena dari situlah yang akan menentukan masa depannya. Ia tak akan mengkhianati kerja keras kedua orangtuanya yang mempertaruhkan nyawa sekalipun di laut lepas untuk membiayai hidupnya.