WISATA KULONPROGO : Pengunjung Kebun Teh Nglinggo Kini Ditarik Rp5.000

Buruh petik daun teh bekerja di perkebunan teh organik Jamus, Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (30/5/2015). Eksekutif Asosiasi Teh Indonesia mencatat minimnya investasi dan pengembangan dari produsen teh telah menurunkan produksi teh dalam negeri. Padahal, pasar ekspor teh organik Indonesia diminati banyak Negara, terutama Amerika Serikat. (JIBI/Solopos/Antara - Ari Bowo Sucipto)
02 Oktober 2016 16:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Wisata Kulonprogo di kawasan Nglinggo kini ditarik biaya Rp5.000

 

Harianjogja.com, KULONPROGO-Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga (Disparpora) Kabupaten Kulonprogo memberlakukan retribusi bagi pengunjung kawasan wisata alam Nglinggo, Kecamatan Samigaluh mulai Sabtu (1/10/2016) kemarin. Setiap pengunjung yang datang akan diminta membayar Rp5.000.

Kepala Disparpora Kulonprogo, Krissutanto mengatakan, setiap pengunjung dikenakan retribusi sebesar Rp2.000 dan jasa lingkungan senilai Rp3.000. “Jadi pengunjung perlu membayar Rp5.000. Ini sudah termasuk asuransi bagi pengunjung,” ujar Krissutanto, Minggu (2/10/2016).

Krissutanso mengungkapkan, kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari permohonan warga setempat yang menginginkan adanya payung hukum terkait penarikan retribusi di Nglinggo. Besaran retribusi kemudian ditentukan sesuai Peraturan Daerah No.4/2016 dan Peraturan Bupati No.27/2016 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah Raga.

Sementara itu, Kepala Dusun Nglinggo Barat, Desa Pagerharjo, Samigaluh, Teguh Kumoro menyatakan masyarakat memberikan sambutan positif terhadap pemberlakuan retribusi wisata.

Pengelola obyek wisata merasa lega karena mendapatkan kepastian payung hukum dalam menjalankan kegiatan usahanya. Hal itu juga dinilai dapat memberikan rasa aman kepada pengunjung karena obyek wisata dikelola secara lebih profesional.

Meski begitu, Teguh juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap upaya peningkatan sarana dan prasarana pendukung wisata. “Misalnya tempat parkir, pos retribusi, kamar mandi, dan jaringan listrik di kawasan wisata alam Nglinggo,” ucap Teguh.

Desa Wisata Nglinggo sudah dikembangkan sejak 2004 lalu. Daya tarik utama sekaligus obyek wisata unggulan Nglinggo adalah area perkebunan teh. Walau begitu, Teguh menilai geregetnya baru terasa empat tahun belakangan dengan adanya peningkatan jumlah pengunjung. Jika banyak tanggal merah atau hari libur, pengunjung Desa Wisata Nglinggo bisa mencapai 18.000 per bulan.

Warga sekitar kemudian berupaya menyajikan obyek wisata alternatif. Sejumlah homestay juga dikembangkan untuk memfasilitasi wisatawan yang ingin menginap. Teguh menambahkan, salah satu obyek wisata alternatif yang semakin populer di Nglinggo adalah Bukit Ngisis. Lokasi obyek wisata yang baru dikembangkan sejak awal 2016 itu sangat beredekatan dengan area perkebunan teh. Wisatawan bisa mengunjunginya sebelum atau sesudah berkeliling di perkebunan teh.