Kasus Demam Berdarah di DIY Menurun Drastis, Efek dari Wolbachia?

Direktur the Special Programme for Research and Training in Tropical Diseases World Health Organization (WHO/TDR), John C Reeder meneliti nyamuk berwolbachia. - Harian Jogja
09 Juni 2018 06:50 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Tim Eliminate Dengue Project (EDP) Pusat Kedokteran Tropis UGM terus meneliti efektifitas penyebaran nyamuk wolbachia dalam memberantas demam berdarah. Di DIY sendiri saat ini, kasus demam berdarah menurun dibanding tahun sebelumnya.

Kasi Surveillance dan Imunisasi Dinas Kesehatan DIY Trisno Agung Wibowo menyatakan, kasus DB pada awal 2018 mengalami penurunan signifikan dibandingkan 2017 di bulan yang sama.

Jika pada Januari 2017 mencapai 158 kasus sedangkan pada Januari 2018 hanya tujuh kasus, pada Februari 2017 ada 70 kasus, pada Februari 2018 hanya enam kasus, kemudian Maret 2017 total 54 kasus, Maret tahun ini hanya sembilan kasus.

Begitu juga dengan April 2017 mencapai 44 kasus namun pada 2018 hanya 10 kasus di bulan yang sama, sedangkan mei 2017 ada 19 kasus juga menurun pada mei 2018 hanya 14 kasus.

“Januari hingga Mei 2018 di Kota Jogja ada 46 kasus meninggal satu orang, kalau yang di Tegalrejo yang kebetulan disebari nyamuk berwolbachia pertama kali ini kasus DB-nya menurun drastis. Tetapi penurunan ini terjadi secara nasional, bisa dipengaruhi promotifnya masyarakat yang semakin baik,” katanya, Jumat (8/6/2018).

Peneliti nyamuk berwolbachia tak mau buru-buru mengambil kesimpulan, apakah penurunan kasus demam berdarah karena kesuksesan penyebaran nyamuk wolbachia.

Peneliti Utama EDP UGM Profesor Adi Utarini mengatakan, penitipan ember berisi nyamuk ber-wolbachia sudah selesai dilakukan pada separuh wilayah Kota Jogja. Saat ini pihaknya sedang melakukan upaya pembuktian efektifitas penyebaran nyamuk dengan melakukan penelitian lanjutan. "Populasi nyamuk sudah tersebar di separuh wilayah Kota Jogja, saat ini dalam fase pembuktian sebagai akhir penelitian ini," ungkapnya di UGM, Jumat.

Adi Utarini menegaskan, berdasarkan data Dinas Kesehatan DIY, tujuh kelurahan di Kota Jogja yang dilepasi nyamuk berwolbachia didapati kasus DB secara konstan sangat rendah selama enam bulan terakhir.

Data secara konstan selama enam bulan terakhir itu tidak pernah terjadi pada lima tahun terakhir sebelumnya. Meski demikian, pihaknya belum bisa menjadikan fakta itu sebagai suatu kesimpulan bahwa menurunnya kasus DB disebabkan adanya nyamuk berwolbachia.

"Karena penurunan ini juga terjadi di seluruh DIY bahkan secara nasional. Selain DB, kami dalam penelitian juga mengukur dampaknya terhadap chinkungnya dan zika," ucapnya.

Untuk membuktikan efektifitas wolbachia, saat ini peneliti tengah mencari dan mendata ribuan pasien demam berdarah untuk dilakukan screening antara satu hingga empat hari tentang penyebab demam.

Ditargetkan pada 2018 dapat menyelesaikan sekitar 5.000 pasien kemudian pada 2019 sebanyak 5.000 pasien lagi sehingga total menjadi 10.000 pasien demam. Hipotesa dari penelitian ini adalah upaya menemukan pada kasus dengue di wilayah yang disebari nyamuk berwolbachia lebih rendah kasusnya dibandingkan dengan wilayah tidak disebari nyamuk.