Terbongkar Motif Pembacokan yang Tewaskan Mahasiswa UGM

Polisi menunjukan alat bukti berupa bendo yang digunakan untuk membacok Dwi Ramadhani Herlangga hingga tewas pada Kamis (7/6). - Harian Jogja/I Ketut Sawitra Mustika
11 Juni 2018 15:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Setelah lama tidak ada kabar kejadian, kali ini klithih kembali terjadi. Bahkan selama rentang beberapa jam saja, Kamis (7/6/2018) lalu, dua kasus terjadi di dua lokasi yang berbeda di wilayah Kota Jogja.

Akan tetapi, berdasarkan versi polisi, dua kejadian tersebut sejatinya tak bisa digolongkan sebagai klithih. Pasalnya motif pelaku dari kedua kejadian itu didasari oleh keinginan untuk membalas dendam. “Meski sebenarnya aksi balas dendam itu salah sasaran, tetap tak bisa dibenarkan,” ucap Kapolresta Jogja AKBP Armaini saat menggelar jumpa pers di Mapolresta Jogja, Senin (11/6/2018).

Kedua peristiwa kekerasan jalanan itu masing-masing terjadi di sebuah warung yang berada di Jalan Kapten Pierre Tendean, Wirobrajan, Jogja; dan di Jalan C. Simanjuntak, tepatnya di sekitar Mirota Kampus. Total setidaknya ada lima pelaku yang berhasil diringkus, dan ironisnya, beberapa di antaranya masih bocah.

Armaini mengatakan peristiwa yang terjadi di Wirobrajan, berawal dari korban bernama Alif Rahman yang datang bersama kawannya hendak membeli kopi dan rokok setelah membuat lampion sekitar pukul 00.45 WIB. Saat temannya memesan kopi, Alif duduk di depan warung sembari memainkan ponsel. Tak berselang lama, tiba-tiba datang rombongan remaja lainnya.

Dua orang dari rombongan itu lantas turun dan bertanya korban sekolah di mana. Alif menjawab dirinya masih SMP. Armaini menyatakan salah satu di antaranya tidak percaya dengan pengakuan itu. Ia lantas meminta ponsel korban. Tiba-tiba, sejurus kemudian para pelaku membacok korban dan langsung kabur.

Dalam kasus ini, polisi menetapkan tiga orang tersangka. Masing-masing adalah DMS, 19, yang berperan sebagai pembacok dan perampas ponsel milik korban; YG, 19, berperan sebagai pengendara; dan SVR, 16, yang membacok tangan korban. DMS dan YG tercatat sebagai pelajar kelas XI SMA.Sementara SVR adalah pelajar SMK Kelas II.

Begitu pula dengan aksi pembacokan yang dilakukan oleh AYT, 19 di Jl. C.Simanjuntak, Kamis, pukul 02.30 WIB sehingga menewaskan korban bernama Dwi Ramadhani Herlangga, juga sejatinya didasari oleh rasa balas dendam. Pasalnya beberapa pekan sebelumnya, AYT mengaku pernah jadi korban pelemparan gir.

Kisahnya, saat AYT dan kawan-kawannya sedang menongkrong di pinggir jalan, kata Armaini, lewatlah lima rombongan sepeda motor yang baru selesai membagikan makan sahur bagi pemulung. Kebetulan, salah satu sepeda motor, yakni yang ditumpangi Dwi Ramadhani punya merk dan warna yang sama dengan yang dikendarai pelaku pelempar gir yang melukai kaki AYT.

"Hanya menandai dari jenis motor dan warnanya. Dia menyangka itu jangan-jangan pelakunya. Enggak pakai nanya langsung hantam. Sekarang dia menyesal," kata Armaini saat jumpa pers di Mapolresta Jogja.

Dwi Ramadhani meninggal dunia pada Kamis (7/6) pukul 06.45 dengan luka bacok di punggung bagian kiri menggunakan bendo. Panjang luka enam sentimeter dengan kedalaman sekitar delapan cm hingga tembus paru-paru. “Setelah mendapat perawatan kurang lebih empat jam di RSUP dr.Sardjito, pada pukul 06.45 korban akhirnya meninggal dunia,” kata Kapolresta.

Pada kasus ini, polisi menetapkan dua tersangka yakni AYT dan MW, 15. MW berperan sebagai pengendara sepeda motor yang ditumpangi AYT. MW adalah seorang pelajar yang baru lulus SMP. Sedangkan AYT baru lulus SMA dan sedang mencari tempat kuliah.

Atas perbuatannya, AYT disangkakan pasal 351 ayat 3 KUHP dengan hukuman penjara maksimal 15 tahun. Adapun MW di kenai pasal 351 ayat 3 KUHP Jo 56 karena membantu melakukan penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.