Kerangka Agama Inklusif Substantif Diperlukan di Indonesia

Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Wahid (kiri) saat berbicara dalam kegiatan Ziarah Pemikiran Gusdur Menguatkan Narasi Pribumisasi Islam di Indonesia, di University Club (UC) UGM, Sabtu (23/2/2019). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo.
25 Februari 2019 01:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Indonesia saat ini sedang berada pada tegangan antara dua arus. Pertama arus agama dalam kerangka inklusif substantif dan arus kerangka pikir agama sebagai konsep yang formalis eksklusif.

Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menjelaskan agama sebagai konsep inklusif substantif, yaitu universalisme dan pada saat yang sama ada pribumisasinya, yang paling penting adalah nilai-nilainya. Agama sebagai sumber inspirasi dan bersifat inklusif.

Inklusif berarti orang meyakini ajaran agamanya. Meyakini bahwa kebenaran Tuhan itu ada di dalam kelompoknya, tetapi ada ruang-ruang hidup bersama dengan yang berbeda keyakinan dengannya, dan keyakinan tersebut karena Tuhan menciptakan semua manusia. Bukan hanya menciptakan kelompok agamanya, maka prinsip-prinsip dasar ini juga berlaku pada semua manusia.

“Inklusif itu meyakini tapi merangkul. Substantif itu berarti dia berpijak pada prinsip-prinsip dia tidak terkungkung oleh kerangka-kerangka yang formalistik. Berbeda dengan yang arus formalistik eksklusif,” kata putri Pertama Gusdur itu dalam kegiatan Ziarah Pemikiran Gusdur Menguatkan Narasi Pribumisasi Islam di Indonesia, di University Club (UC) UGM, Sabtu (23/2/2019).

Ia mengatakan eksklusif sebagai seorang yang meyakini agamanya dan yang ada di luar agama adalah musuh. Ada batas yang tegas antar seseorang, tidak bisa dilewati. Kedua tafsir terhadap ayat masuklah kepada Islam secara kaffah itu dimaknai sistemnya harus 100% Islam. Sistem kehidupan baik politik kenegaraan, ekonomi, sistem kehidupan sosial itu harus seratus persen. Itu yang formal, maka dibutuhkan formalisasi. Kemudian disinilah ada gerakan khalifah islam, NKRI bersyariah dan lain sebaginya, karena mereka ingin formalisasi.

“Sudut pandangnya begitu agama inklusif substantif dimana agama menjadi inspirasi kehidupan tidak harus diformalkan. Sementara ada arus eksklusif formalis yang ini mensyaratkan kalau mau seratus persen. Kalau mau kaffah harus seratus persen. Berarti harus menegakan sistem yang 100% Islam,” ucapnya.

Alissa mengatakan padahal Indonesia adalah negara yang sering Gus Dur menyampaikannya Indonesia ada karena keberagaman kalau tidak ada keberagaman tidak ada Indonesia.

“Indonesia ada karena ada keberagaman. Kalau tidak ada keberagaman tidak ada Indonesia. Jadi kalau ada formalisasi agama menjadi sitem untuk Indoensia, maka bagi Gus Dur sama saja dengan meniadakan Indonesia, karena Indonesia ada karena keberagaman,” ucapnya.

Ia mengatakan menurut Gus Dur sangat penting kembali ke Islam yang substantif dan inklusif, semangat Islam untuk rahmat bagi semesta. “Rahmatan lil alamin itu betul-betul bisa terwujud, dan tidak menjadi Islam Rahmatan lil muslimin,” katanya.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara mengatakan sosok Gusdur adalah sosok yang harus dicari lagi. Terlebih menghadapi situasi politik dimana actor politik yang ada lebih mementingkan diri sendiri, kelompok dibanding nilai yang telah disepakati bersama bangsa ini, artinya demokrasi, kesetaraan, keberagaman, Pancasila.

“Dalam HAM banyak PR harus diselesaikan penyelesain HAM berat butuh keberanian, belum menemukan sosok politik tokoh bangsa seberani Gus Dur saat ini harus mencari lagi,” ucapnya.

Ia menilai Gus Dur merupakan sosok yang peduli akan kemanusiaan, penghormatan terhadap HAM, kesetaraan. Dikatakannya Gus Dur beberapa kali juga mengingatkan yang jauh lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.