Sekolah Kekeringan, Siswa di Girimulyo Disuruh Bawa Air dari Rumah untuk MCK

Foto ilustrasi. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
14 September 2019 15:27 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Akhir-akhir ini warga kian kesulitan mendapatkan akses air bersih. Tidak hanya untuk kegiatan domestik di rumah, untuk aktifitas sekolah pun ketersediaan air diperlukan. Warga berharap, dropping air segera disalurkan oleh Pemkab Kulonprogo.

Salah satu karyawan SDN Jatiroto, Kecamatan Girimulyo, Sutikno mengatakan, sudah sejak Senin (9/9/2019) ini, di SDN Jatiroto tidak lagi tersedia air bersih. "Kondisi sekarang kering. Untuk sementara, anak-anak disuruh bawa air di botol air mineral untuk keperluan MCK. Kalau kegiatan salat jamaah dzuhur di rumah masing-masing," terang Sutikno pada Jumat (13/9/2019).

Di SDN Jatiroto, ada 48 siswa dan 12 guru yang tetap membutuhkan ketersediaan air untuk aktifitas di sekolah. Namun, sumber air yang kering dan belum ada lagi bantuan droping membuat SDN Jatiroto kian kesulitan dalam beraktivitas.

Sebelumnya, bantuan air di sekolah tersebut sudah datang, diantaranya dari Polsek Girimulyo dan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR). "Rata-rata bantuan bisa sampai 5.000 liter. Itu cuma bisa digunakan 4 sampai 5 hari," terang Sutikno.

Kondisi kekurangan air tersebut sudah terjadi di SDN Jatiroto sejak Mei lalu. Beberapa pekan lalu, kegiatan sekolah sempat terhenti karena libur sehingga kesulitan sedikit berkurang. Ia berharap, bantuan air bersih dari Pemkab Kulonprogo atau dari pihak manapun segera datang agar siswa tidak lagi kesulitan dalam menjalani aktivitas sekolah.

Warga lainnya di wilayah yang terkena dampak kekeringan bahkan harus membeli air untuk keperluan domestiknya. Seorang warga Dusun Ngaglik, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Suciyati mengatakan, kesulitan air bersih juga terjadi sejak Mei lalu.

"Sehari-hari harus ngambil air yang jauhnya 4 kilometer. Tapi sekarang sumber mata airnya juga sudah mengering," kata Suciyati.

Bahkan ketika tidak ada lagi sumber mata air, warga terpaksa harus membeli air ke wilayah yang masih mendapatkan akses air. "Satu tangki harganya Rp200.000," ujar Suciyati.

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, Ariadi, kondisi kekeringan di Kulonprogo terjadi di 7 kecamatan, antara lain Kecamatan Girimulyo, Kokap, Samigaluh, Kalibawang, Pengasih, Galur, dan Lendah. Lalu dikerucutkan lagi menjadi 30 desa, mencakup 4.100 KK dan lebih dari 7.500 jiwa.

Saat ini, Pemkab Kulonprogo sudah menetapkan status darurat kekeringan di Kulonprogo terhitung sejak 9 September sampai 31 Oktober nanti. Setelah adanya status darurat, BPBD Kulonprogo bisa mengandalkan anggaran tidak terduga untuk penyediaan air bersih di beberapa wilayah yang membutuhkan. "Kami siapkan 450 tangki, tiap tangki berisi 5.000 liter. Anggarannya senilai Rp116 juta," jelasnya.