Bantuan Air Bersih dari Dana Kedaruratan Sudah Sampai di Pegunungan Menoreh

Aminah warga Banjarharjo menerima air dari Tagana Kulonprogo, Sabtu (7/7/2018)- - Harian Jogja/Beny Prasetya
18 September 2019 07:37 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Kini, setelah status kedaruratan dampak kekeringan di Kulonprogo ditetapkan Pemkab, beberapa wilayah di Girimulyo yang merupakan kawasan Pegunungan Menoreh sudah mendapat penyaluran air bersih.

Anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kulonprogo, Sutikno mengatakan penyaluran air bersih menggunakan anggaran kedaruratan dari Pemkab Kulonprogo sudah diberikan pada Kecamatan Girimulyo sejak Senin (16/9/2019). Di Desa Girimulyo terdapat 4 desa dan 22 pedukuhan yang mengalami kesulitan air.

Namun, selama proses penyaluran pihaknya terkendala medan yang menanjak dan terdapat beberapa ruas jalan yang sedang dalam perbaikan. Belum lagi ada beberapa wilayah yang tidak bisa terjangkau kendaraan pengangkut tangki air dari Tagana yang membuat bantuan terpaksa tidak bisa diberikan.

"Akses jalan menuju Purwosari di jalan wilayah Dusun Gendu [Desa Jatimulyo] dan Dusun Tompak [Desa Giripurwo] baru ada perbaikan jalan, jadinya armada tangki tidak bisa naik," ungkap Sutikno pada Selasa (17/9/2019).

Kondisi tersebut membuat warga yang berada di wilayah tidak terjangkau kesulitan mengakses, dan harus mendapatkan air bersih dari wilayah lain yang jaraknya lebih terjangkau kendaraan.

"Sekarang hampir semua desa di Girimulyo terdampak. Sudah ada penyaluran, tapi keluhan dari warga jika ada bantuan air datang belum semua warga bisa mengakses karena terkendala lokasi dan minimnya bak penampungan," terang Sutikno.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, Ariadi menjelaskan, ada 30 desa di 7 kecamatan yaitu Kecamatan Girimulyo, Kokap, Samigaluh, Kalibawang, Pengasih, Galur, dan Lendah yang mengalami kesulitan akses air di Kulonprogo. Dari 30 desa itu mencakup 4.100 KK dan lebih dari 7.500 jiwa.

Status darurat kekeringan sudah ditandatangani pada 9 September lalu dan berlaku terhitung sejak ditandatangani sampai 31 Oktober nanti. "Kami siapkan 450 tangki, tiap tangki berisi 5.000 liter. Anggarannya senilai Rp116 juta," ujar Ariadi.

Bantuan yang diberikan selama status darurat tersebut diperuntukan pada ketersediaan air bersih dan MCK. Bantuan air bersih disalurkan menggunakan truk dari Palang Merah Indonesia (PMI), Tagana dan BPBD.