Di Balik Kesuksesan Wisata Puri Mataram: Tridadi Makmur Benar-Benar Bikin Makmur

Direktur Bumdes Tridadi Makmur Raden Agus Kholik saat berfoto di Puri Mataram yang berlokasi di Dusun Drono, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Sleman. - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
16 Desember 2019 07:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi memberikan penghargaan kepada tiga desa di DIY dalam ajang Desa Wisata Nusantara 2019 Kategori Maju. Ketiga desa wisata itu yakni Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman; Desa Tridadi di Sleman dan Desa Bawuran di Bantul.  Dari uang Rp68,5 juta, Bumdes Tridadi Makmur bisa menghasilkan laba di tahun pertama sebesar Rp1,9 miliar. Di tahun kedua laba per November 2019 menembus hingga angka Rp5 miliar. Pembagian dividen 51 persen untuk desa dan 49 persen untuk masyarakat juga merupakan konsep yang patut untuk ditiru.

Tak jauh dari perkantoran Pemerintah Kabupaten Sleman, terdapat sejumlah bangunan mirip kompleks tempat tinggal raja di masa lampau. Sebuah pendopo berdiri di tengah-tengah kompleks dengan pemandangan kolam yang cukup luas. Tempat itu layaknya sebagai tempat berendamnya raja dan selir-selirnya.  dengan warna-warni bunga berada di sekitar tempat itu.

Sekitar tempat itu juga dihiasi warna-warni bunga yang indah dipandang mata. Dari depan kompleks, pengunjung serasa disuguhkan pengalaman memasuki sebuah kompleks kerajaan dengan arsitektur bangunan yang terinspirasi dari bangunan yang merupakan situs peninggalan budaya, perpaduan antara Plengkung Gading dan Pojok Beteng yang ada di Jogja. Kompleks bangunan itu diberi nama Puri Mataram, yang terletak di Tridadi, Sleman.

Puri Mataram adalah sebuah manifestasi konsep dari Direktur Bumdes Tridadi Makmur Raden Agus Kholik ketika pertama kali diamanatkan menjadi orang nomor satu di Bumdes. Kholik yang pada saat itu diberikan modal sekitar Rp68,5 juta.

"Ini duit Rp68,5 juta mau diapakan, karena kalau saya hanya terpaku kepada duit Rp68,5 juta itu akan susah, akhirnya saya kesampingkan dulu uangnya dan berembug dengan pengurus Bumdes lain, tercetuslah ide untuk membuat unit usaha tanaman hias dan destinasi wisata yang sekarang ini menjadi Puri Mataram" ujar Kholik kepada Harian Jogja, Selasa (10/12/2019).

Kholik dan pengurus lain sepakat destinasi wisata yang kini bernama Puri Mataram konsep awalnya adalah wisata budaya dan alam. "Akhirnya kita sepakat, kebetulan konturnya juga bagus, ditambah diapit dua sungai di sebelah timur dan baratnya," ujarnya.

Nama menjadi aspek yang penting dalam objek wisata. Dengan mengusung konsep destinasi wisata dengan mengkolaborasikan alam dan budaya, akhirnya Kholik memutuskan untuk memberi nama objek wisata yang terletak di Dusun Drono, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Sleman itu dengan sebutan Puri Mataram. Kenapa Puri Mataram? alasannya menurut Kholik adalah, sebagai orang Jawa, kata Puri merepresentasikan sebuah tempat yang indah dimana tempat itu dipergunakan sebagai tempat peristirahatan istri dan keluarga raja.

"Tempat untuk bermain, dan didalamnya terdapat rumah yang nyaman, dan biasanya terdapat kolam dan air, di situ juga biasanya ada permainan seperti ayunan dan dakon dan juga diisi dengan taman, sedangkan kata Mataram mengadopsi nama kerajaan Mataram, akhirnya kita sepakat dengan nama Puri Mataram," paparnya.

Pada perjalanan awal Puri Mataram, di dalam business plan yang Kholik dan pengurus lainnya rancang, muncul angka Rp4,5 miliar untuk memanifestasikan konsep konsep destinasi wisata yang sudah dibuatnya. Batinnya mengatakan, dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu.

Namun, Kholik percaya jika ada kemauan pasti akan ada jalan. Akhirnya, ia memutuskan untuk membuka dokumen aturan perundang-undangan desa.

Di situ, ia menemukan jika pendanaan Bumdes bisa bersumber dari APBDes dan dana tabungan masyarakat. Mulai ada titik cerah bagi Kholik untuk merealisasikan impiannya. "Namun ada klausul berikutnya di dalam aturan itu yang menyatakan jika dana tabungan bagi permodalan Bumdes itu tidak boleh lebih besar dari modal desa, karena Bumdes milik desa, oleh karena itu dana dari masyarakat tidak boleh lebih besar dari modal desa," jelasnya.

Kholik kembali memutar otaknya, akhirnya ia meminta izin desa untuk menyewa tanah kas desa yang nanti akan dibuat destinasi wisata selama 15 tahun. Kenapa 15 tahun? Kholik menjawab jika hitung-hitungannya adalah jika harga sewa TKD dengan luasan 4,5 hektare yang nantinya akan dibangun destinasi wisata itu dibanderol dari desa sebesar Rp4 ribu per meternya dalam kurun waktu 1 tahun artinya harga sewa akan jatuh di angka Rp180 juta.

"Akhirnya modal dari desa saya konversikan dengan harga sewa TKD, jika saya sewa selama 15 tahun itu sama dengan Rp2,7 miliar, artinya saya punya modal sebesar Rp 2,7 miliar," jelasnya.

Kemudian, ia juga mengumpulkan pengurus untuk ikut urunan untuk merealisasikan impian terciptanya sebuah destinasi wisata. Sampai-sampai ia punya kesepakatan dengan para pengurus Bumdes untuk tidak gajian selama Bumdes ini menghasilkan laba. "Wis ora bayaran (sudah tidak gajian), dikon urunan meneh (disuruh iuran pula)," ujar Kholik dengan nada bercanda.

Bahkan, perangkat desa juga ikut disambati oleh Kholik mengenai kebutuhan dana yang harus tercapai demi tercapainya tujuan ia dan jawatannya di Bumdes.

"Saya ajak rembukan perangkat desanya, saya sambat ke mereka jika pengurus Bumdes sudah iuran demi terlaksananya proyek Puri Mataram, akhirnya mereka sadar, dan Alhamdulillah mereka hampir 80 persen juga ikut iuran," jelasnya.

Tak tanggung-tanggung, kepala dusun dan warga juga ikut dilibatkan oleh Kholik. Dengan usaha sungguh-sungguh Kholik berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp2,2 miliar. "Akhirnya kita gunakan untuk membangun resto, kolam, akhirnya pelan pelan Puri Mataram berkembang," jelasnya.

Kholik tak jumawa. Ia bahkan masih berusaha untuk mencari pendanaan dari swasta hingga pemerintah kabupaten. Kalau swasta ya mohon dibantu dari CSR, mulai dari perbankan hingga startup sekarang masuk di Puri Mataram, pemerintah kabupaten Sleman hingga Kementerian Desa juga masuk," ungkapnya.

Dewi fortuna sepertinya pada waktu itu memang berpihak kepada Kholik dan kawan-kawan. Di tahun pertama berjalannya Puri Mataram, ia sudah mampu menghasilkan untung dengan laba total mencapai Rp1,9 miliar. Sejak Juni 2018 dibukanya Puri Mataram kita dapat omzet, dikurangi dengan biaya operasional untung kita sekitar Rp324 juta," ungkapnya.

Kemudian, Kholik  juga memberikan dividen sesuai dengan konsensus bersama yaitu desa sebanyak 51 persen dan masyarakat sebanyak 49 persen. Untuk masyarakat, ia membagikan sesuai dengan proporsinya. "Artinya, kita bagikan sesuai dengan berapa uang yang mereka keluarkan untuk Puri Mataram," jelasnya.

Di tahun kedua berjalannya Puri Mataram lebih fantastis lagi. Per November 2019, destinasi wisata yang pernah dikunjungi mantas Wakil presiden Jusuf Kalla ini keuntungannya sudah menembus angka Rp5 miliar. Bahkan, dengan keyakinan super maksimal, Kholik yakin bisa meraup laba sebesar Rp6 miliar di akhir tahun. "Kami yakin karena di akhir tahun nanti biasanya merupakan peak season, jadi kita optimis dalam waktu satu bulan bisa mengantongi Rp1 miliar," tegas Kholik.

Puri Mataram, sebuah destinasi di ibu kota kabupaten Sleman ini sekarang sudah mempekerjakan pegawai tetap sebanyak 63 orang. Namun, pegawai tidak tetap Puri Mataram juga tidak bisa dibilang sedikit. Di akhir bulan ini, lanjut Kholik, pekerja tidak tetap di Puri Mataram bisa mencapai 50 orang. "Alhamdulillah kita sudah bisa memberikan mereka gaji sesuai dengan UMP per bulannya," ujarnya.

Puri Mataram sampai saat ini punya belasan atraksi wisata yang mampu memberikan pengalaman wisata yang berbeda. Antara lain, taman bunga, taman kaktus, atraksi memberi makan domba, terapi ikan, atraksi memberi makan kelinci, embung, resto, bahkan sekarang terdapat cafe bernama Ningrat Cafe untuk menggaet millenial untuk menghabiskan waktunya sembari ngopi kopi Merapi dengan suguhan live music.

Tugas Bumdes Tidak Mudah

Kendati demikian, tugas Bumdes ke depan itu tidak dianggap enteng oleh Kholik. Bumdes mempunyai dua berat yaitu untuk pemberdayaan masyarakat dan sisi lain mencari untung.

Dari sisi pemberdayaan fokus Kholik kepada pengembangan SDM. Selama ini Puri Mataram memang mempekerjakan masyarakat sekitar dengan tanpa seleksi yang ketat. Artinya, selama mereka ada kemauan walaupun hanya lulusan SD ia akan dengan sukarela untuk menampungnya. "Namun kami tidak menutup mata untuk pengembangan SDM, karena bagaimanapun itu merupakan hal yang penting," ujarnya.

Puri Mataram sebagai unit bisnis tentunya memiliki pesaing. Bahkan, pesaing Puri Mataram, lanjut Kholik, bisa dikatakan punya kapital yang lebih besar. "Maka dari itu, kita berikan sesuatu yang hanya bisa didapatkan di Puri Mataram, dengan melakukan upaya inovasi termasuk pemanfaatan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan juga ke depannya kami akan buka akun Twitter agar Puri Mataram bisa lebih dikenal," katanya.