Jelang Akhir Tahun, Perataan Tambak Udang Besar-besaran Dilakukan di Pesisir Kulonprogo

Lahan tambak udang di Selatan Bandara YIA diratakan menggunakan alat berat pada Rabu (11/9/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
26 Desember 2019 20:17 WIB Newswire Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Perataan tambak udang secara besar-besaran dilakukan di pesisir Kulonprogo.

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo bekerja sama dengan PT Angkasa Pura I kembali meratakan puluhan tambak udang yang berada di selatan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Akhir tahun ini menjadi batas waktu terakhir bagi pemilik untuk mengosongkan tambak mereka.

Lokasi tersebut akan dijadikan sabuk hijau (green barrier) untuk meredam jika terjadi gelombang pasang atau tsunami. “Masih ada 95 tambak yang akan kami tertibkan, hari ini sampai besok,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo Sudarna di lokasi, Kamis (26/12/2019).

Dari 95 tambak tersisa, ada 58 tambak yang sudah dikosongkan dan ditinggal oleh pemiliknya. Sisanya masih dalam kondisi aktif dan ditargetkan sudah kosong dalam dua hari ini. Sebelumnya para pemilik sudah diingatkan agar mengosongkan tambak mereka maksimal 27 Desember 2019.

“Kami turunkan tiga alat berat untuk meratakan tambak sama besok,” tuturnya.

Penertiban tambak ini akan menjadi yang terakhir sesuai kesepakatan dengan pemilik tambak. Sebelumnya, disebut sudah ada perjanjian yang menyatakan tidak boleh ada lagi tambak udang yang beroperasi di selatan YIA. Proyek pembangunan sabuk hijau ini juga bekerja sama dengan Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Yogyakarta.

Pemkab Kulonprogo telah menentukan kawasan tambak dan budidaya perikanan baru bagi mereka yang tersingkir. Para pemilik akan dibuatkan tambak baru di pesisir Desa Banaran, Kecamatan Galur. Sedangkan lokasi yang ada sudah ditanami pohon sebagai upaya mitigasi bencana.

Seorang pemilik tambak, Joko Tri Wisantoso mengaku tidak tahu kalau dua hari ini merupakan batas akhir penggusuran. Dia justru tahu dari teman-teman sesama pemilik tambak.

“Saya pikir akhir tahun, bukan hari ini,” katanya.

Jika selama ini membudidayakan udang, Joko saat ini justru mengembangkan ikan nila di bekas tambak udang milik anaknya. Menurutnya, nila lebih cepat besar dan bisa dipanen dalam waktu relatif singkat.

Dia mengaku ikan nila yang ada belum siap panen. Menurutnya ikan tersebut baru bisa dipanen pada bulan Januari mendatang. Oleh karena itu dia berharap diberikan waktu lagi untuk memindahkan ikan-ikan di dalam tambaknya.

“Harapannya ada dispensasi, minimal sampak akhir Januari,” tuturnya.

Sumber : iNews.id