Bangunan Relokasi Pedagang di Pantai Glagah Dinilai Tak Layak, Ini Alasannya

Calon lokasi relokasi pedagang Pondok Laguna Pantai Glagah di dekat Tribun Pantai Glagah. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
08 Januari 2020 05:27 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Rencana relokasi Pedagang Pondok Laguna Pantai Glagah masih belum menemui solusi. Warga masih merasa tidak diajak dalam diskusi terkait pemindahan lokasi berdagang dengan jawatan yang menangani relokasi ini yaitu Dinas Pariwisata Kulonprogo.

Keresahan itu disampaikan pada Komisi IV DPRD Kulonprogo yang pada Senin (6/1/2020) lalu meninjau lapangan di utara Pantai Glagah yang menjadi calon tempat relokaso Pedagang Pondok Laguna Pantai Glagah.

Ketua Paguyuban Pedagang Pondok Laguna Pantai Glagah, Ripto Triyono, mengatakan lokasi yang ditawarkan Pemkab Kulonprogo untuk relokasi pedagang dari kawasan laguna di Pantai Glagah saat ini justru menempati kawasan yang rawan banjir karena mudah tergenang air jika hujan turun.

"Anggota tidak bisa menerima fisik bangunan yang jauh dari layak," kata Ripto. Dikatakannya, Pemkab Kulonprogo baru menyiapkan sekitar 50 bangunan berukuran 3x6 meter. Padahal, total pedagang mencapai 185 orang.

Meski begitu, model bangunan juga dianggap tidak sesuai dengan peruntukannya. Menurut Ketua Komisi IV DPRD Kulonprogo, Istana, bangunan itu saat ini dibangun selayaknya warung kelontong, padahal jenis pedagang di Pantai Glagah didominasi restoran makanan laut.

"Pedagang merasa bentuk bangunan tidak tepat, kawasannya juga tidak representatif, terutama untuk kawasan parkir," kata Istana, Selasa (6/1/2020).

Menurutnya, area parkir di Pantai Glagah harus bisa menampung 40 bus karena obyek wisata ini merupakan idaman wisatawan luar daerah jika berkunjung ke Kulonprogo. Realitanya, saat ini lahan yang disediakan baru bisa menampung tujuh bus. "Itu saja jeblok dan tergenang air, apalagi musim hujan begini," ujarnya.

Istana meminta Dinas Pariwisata Kulonprogo untuk mengajak diskusi para pedagang secara rutin terkait dengan rencana relokasi ini. "Sebab pedagang itu bukannya tidak mau dipindah, tapi menyesalkan tidak pernah diajak bicara. Mereka saja mengaku tidak tahu kapan rencana relokasinya," tutur dia.

Komisinya ingin rencana relokasi Pantai Glagah dilakukan secara sungguh-sungguh dan total sehingga bisa dijadikan ikon wisata Kulonprogo. Hal ini lantaran obyek wisata ini menyumbang pendapatan asli daerah tertinggi bagi Pemkab Kulonprogo mencapai Rp3 miliar.

"PAD pariwisata paling tinggi dari Pantai Glagah, daripada anggaran sedikit-sedikit diecer-ecer tapi enggak fokus, mending fokuskan untuk Pantai Glagah dulu baru bangun yang lain," kata politikus PDI Perjuangan ini.

Selanjutnya, komisi ini akan mengajak Dinas Pariwisata Kulonprogo untuk kembali meninjau lokasi. "Tidak harus mengambil keputusan saat itu juga kok, tapi mengumpulkan data saja dulu," kata dia.