Klithih Sudah Meresahkan, Ini Tindakan yang Dilakukan Polda DIY

Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto kepada wartawan di Mapolda DIY, Selasa (30/1/2019). - Harian Jogja/Desi Suryanto
14 Januari 2020 00:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto mengatakan terkait dengan klithih selain penegakan hukum, tentu Polda DIY akan melakukan langkah preventif dan preemtif.

"Preventif dilakukan guna menghilangkan potensiĀ  terjadinya kriminalitas misal dengan melaksanakan patroli, dan hadir di tengah kegiatan masyarakat," ujar Yuliyanto kepada Harianjogja.com, Senin (13/1/2020).

Sedangkan untuk upaya preemtif, lanjut Yuliyanto, Polda DIY mencoba mencari akar penyebab permasalahan tersebut dengan harapan bisa menyelesaikan masalah kenapa oknum pelaku klithih melakukan kekerasan jalanan tersebut.

Pihaknya juga akan berdiskusi dengan pihak sekolah, orang tua, dinas pendidikan, maupun elemen masyarakat yang lain guna menekan aksi kekerasan di jalanan.

"Tentu hasilnya tidak bisa instan, kegiatan preemtif musti dilakukan secara berkelanjutan dengan kerjasama berbagai macam pemangku kepentingan," tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, berdasarkan penyelidikan yang dilakukan oleh Polda DIY, kasus klithih yang dilakukan oleh pelaku dibawah umur didominasi berasal dari keluarga yang tidak utuh. Artinya, tidak musti broken home, namun lebih dikarenakan kehadiran orang tua yang tidak tinggal serumah dengan pelaku.

"Entah bapaknya di luar kota satu bukan sekali baru pulang, sehingga konsep keluarga yang utuh tidak mereka dapatkan," ujar Psikolog dan juga Kasubagpsipers Bagpsi Ro SDM Polda DIY AKP Theresia Dwi Ariyanti.

Tingkat disiplin rendah juga menjadi salah satu aspek signifikan terhadap aksi kekerasan di dalam kehidupan sehari-hari pelaku klithih dibawah umur. "Mereka pulang jam berapa orang tua tidak peduli, main ke rumah temennya dibiarkan saja, mau pulang jam berapa terserah," terangnya.

Usia-usia disekitar 17 tahun, berdasarkan pandangan dari psikologi dimana peran kelompok sangat penting bagi seorang individu. "Mereka biasanya kumpul di suatu tempat, bahasa identitas pribadi sudah tidak ada karena sudah satu atribut," imbuhnya.

Ditambah, pada saat itu pelaku klithih dibawah umur masuk dalam tahap stroms and stress dalam bahasa psikologi. Tahap itu merupakan tahap seseorang mudah terpancing secara emosi. "Cuman lihat-lihatan aja rasanya sudah mau mengajak berantem, padahal lihat-lihatan doang," imbuhnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan jajaran Polda DIY, hampir semua kasus klithih diawali dengan nongkrong-nongkrong yang berujung dengan aksi kekerasan. "Lewatlah geng motor lain atau kelompok lain, terus lihat-lihatan jadilah itu pemicu, karena di situ ada kelompok ketika satu bergerak lainnya akan bergerak," terangnya.

Kenapa itu bisa terjadi, lanjut AKP Theresia karena tidak ada lagi identitas pribadi, yang ada hanyalah identitas kelompok. "Kalau saya tidak ikut, saya aneh, jiwa korsa saya dimana kalau tidak ikut, akhirnya ikutlah mereka," imbuhnya.

Pelaku klithih dibawah umur memang belum matang secara psikologis. Hal tersebut dikarenakan oleh faktor usia. "Kematangan individu itu berdasarkan pola asuh, baik itu keluarga maupun di sekolah," tutupnya.