Klithih Merajalela, Pemkot Sebut Ada 24 Geng Pelajar di Kota Jogja

Ilustrasi. - JIBI/Solopos
23 Januari 2020 18:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Untuk merumuskan penanganan klithih yang belakangan kembali marak, Kantor Kesatuan Bangsa Kota Jogja menggelar Focus Group Discussion dengan tajuk Mengurai dan Mencari Solusi Masalah Klithih, di Hotel Grage Malioboro, Kamis (23/1/2020).

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Kota Jogja, Zenni, menjelaskan awal 2020 Kota Jogja kembali diresahkan dengan sejumlah aksi klithih yang semua pelakunya merupakan pelajar sekolah. "Dari data yang kami peroleh, di Kota Jogja terdapat setidaknya 24 geng sekolah dari SMP, SMA dan SMK," kata dia.

Meskipun secara kuantitatif jumlah kasus cenderung menurun, yakni 18 kasus pada 2018 dan 16 kasus pada 2019, tetapi klithih tetap mencederai nama Jogja sebagai Kota Pelajar dan Kota Wisata. Maka dalam diskusi ini pihaknya juga mengundang sekolah untuk turut mencari solusi penanganan klithih.

Komandan Kodim 0734 YKA, Kolonel Zaenudin, mengatakan klitih memiliki latar belakang yang terdiri faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kurangnya perhatian dari keluarga, tingkat pendidikan, kondisi spiritual dan emosional.

Sedangkan faktor eksternal meliputi pergaulan dengan geng di sekolah, dianggap tidak keren kalau tidak masuk geng, pengaruh miras, lingkungan yang individualis, sekolah hanya mengutamakan aspek akademis, terlalu dimanja dan makin maraknya kafe atau tempat nongkrong.

"Media juga turut menjadi penyebab semakin maraknya klithih. Mereka kalau tidak tertangkap justru menunggu beritanya keluar. Seolah gradenya naik setelah aksinya ramai di media sosial. Maka media juga perlu memanajemen pemberitaannya agar ikut meredam klithih," ungkapnya.