Haryadi Suyuti Tak Sepakat Pelaku Klithih Dilabeli Preman

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti
23 Januari 2020 18:57 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Walikota Jogja, Haryadi Suyuti, mengatakan klithih merupakan fenomena sosial.

Berdasarkan identifikasinya, pelaku bukanlah apa yang selama ini dilabeli preman oleh masyarakat, melainkan remaja usia 14-17 tahun dengan postur tubuh biasa, bahkan relatif kecil, tetapi menggunakan senjata tajam dalam aksinya.

"Apa yang kita dengar di media adalah masalah hilir. Di hulu, keluarga bisa mengupayakan dengan selalu memantau anaknya. Ibu-ibu diharapkan kepo ke anaknya, kalau malam belum pulang ditanyai lagi dimana," kata Haryadi saat Focus Group Discussion dengan tajuk Mengurai dan Mencari Solusi Masalah Klitih, di Hotel Grage Malioboro, Kamis (23/1/2020).

Untuk merumuskan penanganan klithih yang belakangan kembali marak, Kantor Kesatuan Bangsa Kota Jogja menggelar Focus Group Discussion tentang klithih.

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Kota Jogja, Zenni, menjelaskan awal 2020 Kota Jogja kembali diresahkan dengan sejumlah aksi klithih yang semua pelakunya merupakan pelajar sekolah. "Dari data yang kami peroleh, di Kota Jogja terdapat setidaknya 24 geng sekolah dari SMP, SMA dan SMK," kata dia.

Meskipun secara kuantitatif jumlah kasus cenderung menurun, yakni 18 kasus pada 2018 dan 16 kasus pada 2019, namun fenomena klitih tetap mencederai nama Jogja sebagai Kota Pelajar dan Kota Wisata. Maka dalam diskusi ini pihaknya juga mengundang sekolah untuk turut mencari solusi penanganan klitih.

Komandan Kodim 0734 YKA, Kolonel Zaenudin, mengatakan klitih memiliki latar belakang yang terdiri faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kurangnya perhatian dari keluarga, tingkat pendidikan, kondisi spiritual dan emosional.