Bisnis Lancung Jasa Bikin Skripsi Libatkan Guru SMA hingga Dosen

Pamflet iklan jasa pembuatan skripsi berupa kertas tertempel di tembok tepi Jalan Timoho, Jogja, belum lama ini. - Harian Jogja/Siti Halida Fitriati
09 Maret 2020 16:47 WIB Salsabila Annisa Azmi & Siti Halida Fitriati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jasa pembuatan terus ada seiring permintaan yang bermunculan bahkan hingga melibatkan dosen. Wajah buruk dunia kampus ini kini berpangkal pada makin tak berharganya skripsi dan ijazah bagi mereka yang fokus mengincar dunia kerja.

Rohmat (bukan nama sebenarnya), penyedia jasa pembuatan skripsi yang telah membuka bisnisnya sejak 16 tahun silam, menyebut mahasiswa yang tak bikin skripsi sendiri kebanyakan sudah harus kerja.

Menurut Rohmat, bisnisnya terus tumbuh subur sebab sejak 16 tahun lalu dunia skripsi mahasiswa S1 tak pernah berubah. "Dari dulu hingga sekarang ya masalahnya itu-itu saja, mereka enggak bikin [skripsi] sendiri karena mereka sudah harus kerja, sudah punya kerja, dan merasa ijazah cuma sebagai hiasan gelar saja di nama," kata Rohmat, kepada Harian Jogja, Rabu (12/2/2020).

Bahkan, meski tergolong ilegal, ia yang tadinya menggarap sendiri skripsi pesanan, kini telah merekrut asisten dosen, guru SMA hingga dosen. Semua anggota tim ia sebut sebagai konselor skripsi.  

Rohmat mengatakan 90% mahasiswa yang menjadi kliennya memiliki alasan yang ia sebutkan itu. Alasan terbanyak kedua karena dosen pembimbing yang mereka sebut dosen gaib. Dosen-dosen ini disebut susah dihubungi karena super sibuk. "Mereka ini ada yang cuma bisa bimbingan dua minggu sekali. Belum lagi kalau revisiannya banyak, setornya lama. Jadi ya mereka lebih baik kemari [menggunakan jasa pembuatan skripsi], bisa bimbingan kapan saja, bisa via Whatsapp, revisiannya bisa kami kerjakan kalau mereka di luar kota. Biar pas bimbingan dijamin langsung ACC [disetujui]," kata Rohmat.

Rohmat mengatakan setiap bulan rata-rata ada 10 mahasiswa S1 yang memesan skripsi padanya.

Jumlah ini adalah rerata yang ia dapatkan sejak 2015 hingga 2019. Memasuki awal 2020 jumlahnya naik tipis menjadi 12 mahasiswa.

Rohmat berasumsi kenaikan terjadi karena makin banyak mahasiswa yang ingin cepat kerja, jadi sudah kerja sebelum lulus dan tidak ada waktu lagi untuk skripsi. Ia bercerita mulai membuka jasa pembuatan skripsi sejak masih jadi mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Menurutnya praktik ini sudah marak dilakukan seperti sebuah program bimbingan belajar (bimbel).

"Kalau belum punya judul, kami sediakan aneka pilihan judul. Sudah pilih, tinggal bimbingan tapi harus janjian dengan konselor kami. Revisi bisa kami kerjakan, kalau di luar kota bisa by Whatsapp atau email. Nanti kami jelaskan maksud revisian dosen apa, dan jadinya kenapa bisa kami perbaiki seperti itu," kata Rohmat.

Rohmat mengatakan setiap klien ditekankan bahwa tidak ada yang instan. Semua tergantung asal kampus si klien. Rohmat sudah memetakan kampus mana saja yang sulit meloloskan skripsi mahasiswanya, dan mana yang sangat mudah meloloskan skripsi mahasiswa.

"Kalau kampusnya klien terkenal susah, kami push terus buat bimbingan atau minimal setor revisi. Kami target tujuh bulan sudah lulus, kalau yang kampusnya gampang paling ya dua bulan sudah bisa lulus, paling lama lima bulan," kata Rohmat.

Untuk jasa pembuatan skripsi dari nol, Rohmat mematok harga Rp4,6 Juta. Apabila sudah ada judul dan tinggal melanjutkan, biayanya bisa lebih murah, yaitu Rp2,5 Juta hingga Rp3 Juta. Semua biaya itu sudah termasuk biaya bimbingan hingga lulus.

Jasa pembuatan skripsi lainnya dilakukan Tyas (bukan nama sebenarnya). Sejak lulus kuliah pada 2019, Tyas memutuskan membuka jasa ini. Bahkan ia mengaku tak kesulitan mendapatkan klien. Salah satunya mahasiswa angkatan 2016. "Alasannya [menggunakan jasa skripsi] beragam ya, ada yang mau DO, ada yang sibuk kerja sama ada yang enggak paham sama penelitiannya," kata Tyas.

Tyas mengaku, proses bimbingannya dilakukan secara bertatap muka langsung dengan klien. Harga yang dipatok pun cukup murah, mulai dari Rp500.000.

Hampir DO

Mahasiswa yang memutuskan menggunakan jasa skripsi dengan alasan hampir DO salah satunya Tomo (bukan nama sebenarnya). Namanya tercatat sebagai daftar terancam DO di kampus. Dia mengaku itu karena dia malas sekaligus tidak sempat mengerjakan skripsi. "Soalnya saya udah ada bisnis vapor lumayan besar. Aslinya malas sih tapi ditambah sibuk juga tidak sempat," kata Tomo mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja ini.

Tomo butuh waktu dua tahun menegakkan bisnisnya. Selama rentang waktu itu dia sempat gigih membagi waktu dengan skripsinya. Namun menurutnya dosen bimbingannya kurang kooperatif. Dia merasa nasibnya nahas, mendapatkan dosen pembimbing yang memang terkenal sulit ditemui dan punya standar tinggi. Dia sempat berhenti mengerjakan skripsi sebelum datang ke jasa pembuatan skripsi.

Senada dengan Tomo, Adit (bukan nama sebenarnya) yang kini telah menjadi pegawai sebuah bank swasta mengaku dulu juga pernah menggunakan jasa pembuatan skripsi. Ia kala itu sibuk berbisnis sepatu dan pakaian.  "Bimbinganku lama banget progresnya sampe dosbingku [dosen pembimbingku] ngamuk dan bilang 'mas, kamu kok lama sekali sih skripsinya? Sudah beli skripsi saja sana' wah sakit hati, tapi ya akhirnya aku beli. Kayaknya beliau tahu sih tapi yo wis lah sing penting lulus," kata Adit.

 

Tutup Mata

Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof Danisworo, mengatakan fenomena jual beli skripsi akan terus tumbuh subur jika akademisi, badan akreditasi dan pihak kampus terus-terusan tutup mata terkait fenomena ini. Padahal semua pihak harus bekerjasama memperbaiki sistem agar minimal fenomena pembuatan skripsi bisa berkurang.

Danisworo mengakui masih banyak fenomena dosen mudah meloloskan skripsi tanpa memperhatikan esensi pembuatan skripsi, yaitu pendalaman ilmu. Mayoritas melakukannya karena terbebani target akreditasi dan jumlah mahasiswa bergelar cumlaude demi nama baik kampus.

"Nah di sini badan akreditasi itu juga jangan melihat angka saja. Menurut saya harus dikroscek lagi apakah mahasiswa yang lulus cumlaude itu karyanya benar-benar orisinil? Seharusnya idealnya memang begitu," kata Danisworo.

Di sisi lain, ada dosen yang tidak disipin meluangkan waktu untuk bimbingan skripsi. Bahkan sering terjadi alasan absennya dosen tak tercatat dalam data kampus. Hal ini, menurut Danisworo, menjadi salah satu pemicu mahasiswa menggunakan jalan pintas, yaitu membeli jasa pembuatan skripsi.

"Sebenarnya paling utama adalah dosen pembimbing. Dosen harus teliti dan adil. Teliti melacak plagiarisme, teliti saat menguji apakah mahasiswa itu betul-betul paham dengan skripsinya. Akan tetapi juga harus adil dengan disiplin menyempatkan waktu bimbingan," kata Danisworo.

Tak hanya dosen pembimbing, pihak kampus juga harus tegas memberi sanksi pada dosen yang tidak disiplin dalam membimbing mahasiswanya. Pihak kampus harus selalu siap menerima keluhan mahasiswa dan memberi solusi secepat mungkin. Sehingga mahasiswa tidak merasa dirugikan secara waktu dan materi.