Potensi Hujan di Sleman Masih Ada

Hujan lebat dan angin kencang di Kota Jogja. - Harian Jogja/Nina Atmasari
19 Maret 2020 14:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Mlati, Sleman, menyatakan jika pada Maret 2020 ini wilayah DIY tercatat masih masuk dalam kategori musim hujan. Walaupun, beberapa hari terakhir ini cuaca panas kerap meliputi wilayah DIY.

Kepala kelompok data dan informasi Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta Etik Setyaningrum mengatakan di bulan Maret ini matahari memang berada di sekitar ekuator sehingga bisa memberi dampak pada suhu udara yang panas di beberapa tempat termasuk pulau Jawa.

"Mengingat posisi matahari dekat wilayah kita, tetapi perlu diketahui bahwa wilayah DIY pada bulan Maret ini masih masuk periode musim hujan, meskipun suhu udara terasa panas tetapi potensi hujan masih ada, sehingga masyarakat jangan menganggap saat ini sudah memasuki musim kemarau," ujar Etik, Kamis (19/3/2020).

Adapun, jika berdasarkan prediksi yang ia dan jawatannya lakukan hujan yang terjadi di pertengahan bulan Maret ini berada dalam kategori menengah dengan jumlah curah hujan berkisar 100 mm/dasarian.

"Dibandingkan hujan di awal bulan maret kemarin, hujan di pertengahan bulan ini memang mengalami sedikit penurunan intensitas dan frekuensi hujan. Kondisi cuaca di pagi hari umumnya berawan sedangkan siang hingga sore menjelang malam potensi hujan ringan sedang bisa muncul khususnya di bagian utara hingga tengah DIY. Suhu udara pada siang hari berkisar hingga 31-33 celcius," terangnya.

Oleh karena itu, Etik mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan menjaga kesehatan dengan kondisi iklim saat ini. "Terutama ketika di siang hari terasa panas dan menjelang sore hari berpotensi hujan di beberapa tempat seperti di Sleman, Kulonprogo bagian utara, kota Jogja, wilayah Bantul, dan Gunungkidul bagian utara," tutupnya.

Sebelumnya, masyarakat juga diminta untuk mewaspadai aliran air yang mengalir saat turun hujan guna mengantisipasi bencana tanah longsor. BPBD Sleman mensinyalir jika bencana longsor yang masih terjadi di Bumi Sembada akibat aliran air yang tidak diatur dengan baik sehingga mengakibatkan fenomena alam seperti tanah longsor.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan, melaporkan jika aliran air kecil yang berasal dari air hujan yang secara terus menerus terjadi, jika tidak dibarengi dengan mekanisme pembuatan aliran air yang baik akan menimbulkan potensi longsor.

"Masyarakat diharapkan untuk mengecek terhadap apapun itu yang terkena dampak air hujan yang deras, harus dikondisikan apalagi yang berkaitan dengan fasilitas umum yang berhubungan langsung dengan air seperti tanggul, tebing sungai, itu harus betul-betul alirannya dikendalikan, kalau tidak aliran air yang kecil berubah menjadi aliran yang besar," tutupnya.