Duh, Rumah Sakit di Sleman Dilanda Krisis Alat Pelindung Diri

Aktivitas petugas medis saat menangani pasien virus Corona di rumah sakit di Wuhan, Cina, 25 Januari 2020. - THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO via REUTERS
23 Maret 2020 09:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Persediaan alat pelindung diri (APD) di rumah sakit di Sleman yang mulai menipis. Padahal saat ini, terdapat 11 RS rujukan yang beroperasi di wilayah Sleman untuk merawat pasien positif Corona.

Dijelaskan Direktur RSUD Prambanan Isa Dharmawidjaja mengakui jika saat ini pihaknya mengalami kekurangan APD. Kondisi yang sama juga terjadi di hampir semua RS di wilayah Sleman. Saking terbatasnya stok APD, RSUD Prambanan terpaksa meminjam beberapa APD ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman.

"Kondisi APD kami sama dengan kondisi RS yang lainnya. APD kami sangat terbatas, saat ini kami sudah pinjam masker ke Dinkes sleman," kata Isa menjawab pertanyaan Harianjogja.com, Minggu (22/3/2020).

RSUD Prambanan, lanjut Isa, tidak tinggal diam untuk memenuhi kebutuhan APD khususnya terkait dengan penanganan Covid-19. Pihaknya sudah beberapa kali menghubungi distributor dan mencari kelengkapan APD di pasaran. Sayangnya harga jual kelengkapan APD jauh di atas harga normal.

"Sambil kami terus berupaya mencari ke sana ke mari, membeli dengan harga yang mahal. Tapi stok kebutuhan APD kami di pasaran memang tidak ada," katanya.

Isa belum dapat memastikan kapan kebutuhan APD bisa tertangani. Pasalnya kekurangan APD lebih disebabkan karena stok di pasaran tidak ada lagi. "Jadi kami nggak bisa menjawab sampai kapan stok APD kami bertahan. Yang bisa kami lakukan adalah pengetatan APD dan memaksimalkan APD yang ada. Semoga ada jalan keluarnya," harap Isa.

Hal senada disampaikan Plt RSUD Sleman yang juga Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Djoko Hastaryo. Dijelaskan Djoko, seluruh RS di wilayah Sleman saat ini memang sedang kehabisan stok APD. Bahkan, katanya, stok masker di Dinkes maupun Puskesmas semakin menipis.

"Ya kami sudah order ke penyedia tetapi sampai saat ini masih belum ada kepastian. Usulannya juga kami sampaikan melalui Dinkes DIY, juga belum tahu kapan realisasinya," terang Djoko.

Sejak awal Maret, Dinas menerapkan kebijakan efisiensi penggunaan masker. Kebijakan tersebut diambil lantaran jumlah masker di pasaran saat ini terbatas. Apalagi stok masker yang dimiliki Dinas sebenarnya untuk persiapan jika erupsi Merapi terjadi.

Awal Maret lalu, Dinas mencatat persediaan masker di Sleman tinggal sekitar 542.000 lembar dan masker N-95 sekitar 2.420 masker. Dari jumlah tersebut, masing masing Puskesmas hanya dijatah 1.000 lembar masker biasa. "Saat ini stok masker baik di Dinkes maupun Puskesmas pun menipis," katanya.

Untuk menyiasati kekurangan APD, selain pengetatan penggunaan dan memaksimalkan APD yang ada, Dinkes juga meminta agar masing-masing RS untuk membeli secara mandiri. "Itupun tidak sedikit RS yang kesulitan karena stoknya memang langka di pasaran. Ada penawaran-penawaran yang sifatnya tidak resmi tapi harganya sangat mahal," katanya.

Untuk RS swasta, kata Djoko, kemungkinan tidak mengalami kesulitan untuk membeli harga di atas normal. Kondisi tersebut jelas berbeda dengan RS plat merah karena terbentur dengan aturan pengadaan atau pelelangan.

"Untuk RS swasta [harga APD mahal] mungkin tidak kesulitan, tapi untuk RS pemerintah agak kesulitan karena ketentuan pengadaan barang dan jasa termasuk afministratif SPJ-nya," katanya.

Terpisah, Penanggungjawab Posko Informasi Covid 19 Sleman Novita Krisnaeni mengatakan untuk kebutuhan APD Covid-19 memang diupayakan oleh masing-masing RS rujukan. Adapun supplay APD ke puskesmas dilakukan secara terbatas.

"Kalau kami di Dinkes, APD nya jumlahnya terbatas dan kami gunakan sesuai prioritas. Misalnya untuk masker hanya pada yang sakit dan petugas kesehatan," katanya.