Pembelajaran Daring Temui Kendala, Jogja Siapkan Program Guru Ngaruhke Murid

Ilustrasi pembelajaran online. - Ist.
23 Juli 2020 12:17 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Sistem Belajar Di Rumah (BDR) masih diterapkan saat ini, menyusul pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai. Salah satu problematika yang dihadapi selama BDR yakni tidak semua anak mampu melaksanakan pembelajaran dengan sistem daring.

Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi menyebutkan dari hasil survei yang dilakukan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja, sebanyak 46 persen responden mengehandaki pembelajaran tatap muka sementara 54 persen tidak menghendaki pembelajaran tatap muka.

"Jadi masyarakat yang menghendaki tatap muka, mereka merasa anak-anaknya di rumah tidak ada aktivitas, malah banyak masalah sosial kekeluargaan yang muncul ada di keluarga," jelasnya ditemui pada Rabu (22/7/2020).

BACA JUGA : Pembelajaran Daring, Guru: Bikin Video Tak Semudah 

"Sementara yang tidak menghendaki tatap muka, itu karena memang masih khawatir sebarannya [kasus Covid-19] yang masih meluas kemana-mana," jelas Heroe.

Ditambahkan Heroe, dari hasil survei anak-anak jenjang Sekolah Dasar (SD) Negeri, mengalami kesulitan akses dalam pembelajaran daring. "Sementara untuk jenjang SMP yang kesulitan memperoleh akses adalah sekolah swasta," imbuhnya.

Mengetahui berbagai persoalan yang ditemui dalam pembelajaran daring, Heroe mengatakan pihaknya sedang menggodok model untuk mengatasi kesulitan akses ini dengan metode Guru Berkunjung.

"Ini sedang kita siapkan, nanti kita kan uji coba untuk pelaksanaan Guru Kunjung ini," jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja, Budi Asrori mengakui memang ada beberapa permasalahan dalam pembelajaran daring antara lain kondisi orang tua atau masyarakat yang tidak semuanya dapat mengakses teknologi.

BACA JUGA : Ini Platform Belajar Daring yang Bakal Digunakan untuk

"Tidak semuanya memiliki smartphone, apalagi laptop, terima kalau punya ada keterbatasan dengan kuota data," ujarnya.

Persoalan lain yang ditemui yakni materi pembelajaran. Budi menjelaskan tidak semua materi pembelajaran dapat didaringkan.

"Ada materi-materi pembelajaran yang menurut Budi tidak bisa didaringkan, misalnya untuk kelas I SD, materi kaya calistung [Baca Tulis Hitung] itu kan sulit juga untuk didaringkan, kalau anak belum bisa baca tulis hitung kan repot," terangnya.

Selain itu Budi juga menyoroti soal rasa percaya diri anak kelas I SD yang belum pernah ketemu gurunya. "Maka nanti kita akan mengadakan guru berkunjung atau disebut Guru Ngaruhke Murid," paparnya.

Salah satu inti dari program tersebut yakni memberi rasa percaya diri kepada anak bahwa anak tersebut sudah punya sekolah. Untuk detail program guru berkunjung atau Guru Ngaruhke Murid tersebut, Budi belum dapat memberi penjelasan detail. Budi hanya menegaskan bahwa dalam pelaksanaan program tersebut akan tetap berpijak pada protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

"Program tersebut sebenarnya untuk anak-anak yang tidak dapat mengakses belajar daring, karena pembelajaran daring itu banyak problematika," jelasnya.

Program Guru Ngaruhke Murid akan diujicobakan pada beberapa sekolah terlebih dahulu. Budi kembali menekankan bahwa program tersebut memang ditujukan kepada siswa yang kesulitan mengakses teknologi dan anak-anak kelas IV SD agar menumbuhkan rasa percaya diri anak bahwa dirinya telah resmi bersekolah. Namun ditegaskan Budi hingga kini di Jogja tidak ada satu pun sekolah baik SD maupun SMP yang mengajukan pelaksanaan pembelajaran tatap muka.