Sego Berkat Pembawa Selamat

Salah satu karyawan tengah menyiapkan pesanan Sego berkat di rumah pembuatan Sego Berkat di Dusun Karangwuluh Lor, Kalurahan Karangwuluh, Kapanewon Temon, Kulonprogo, Minggu (13/9/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
13 September 2020 14:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pelbagai cara dilakukan para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kulonprogo untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Salah satunya yang dilakukan Sri Puji Astuti, pengusaha camilan yang kini banting setir berjualan Sego Berkat.

Sri merupakan pembuat sekaligus perintis stik berbahan baku growol. Usahanya cukup moncer, karena stik growol bermerek Goku  itu sudah dipasarkan ke beberapa daerah. Goku juga bisa ditemui di toko berjejaring, salah satunya Tomira.

Namun semenjak virus Covid-19 menyebar hingga menjadi pandemi, penjualan Goku anjlok signifikan. Sri terpaksa mengurangi kuantitas produksi karena minimnya permintaan. Kondisi itu membuat Sri berpikir untuk mencoba usaha lain.

BACA JUGA: Mau Dapat Kredit Tanpa Agunan Hingga Rp100 Juta, Begini Syarat & Caranya

"Dari situ saya mikir gimana ada pemasukan lagi, biar usaha Stik Growol tetap jalan, nah konsultasi ke sejumlah teman dan munculah ide untuk buat Sego Berkat, karena sekarang trennya masyarakat suka makanan tradisional," ucap Sri saat ditemui awak media di rumah produksi Stik Growol yang kini digunakan untuk pembuatan Sego Berkat, di Dusun Karangwuluh Lor, Kalurahan Karangwuluh, Kapanewon Temon, Kulonprogo, Minggu (13/9/2020).

Ide itu kemudian direalisasikan pada Juni 2020. Menggandeng warga sekitar yang mayoritas ibu-ibu, Sri membuat sampel sego berkat berisi nasi gurih, sayur tholo, oseng pepaya, gudeg, mi, srundeng kelapa, tahu dan tempe bacem, suiran ayam kampung suir dan peyek. Makanan itu disajikan dengan cara dibungkus daun jati yang didapat Sri dari pekarangannya. Kemudian dimasukkan ke dalam besek.

BACA JUGA: Sehari Sebelumnya Masih Sehat Bugar, Anggota DPRD DIY Meninggal karena Stroke

Sri lantas membagikan sego berkat ini kepada rekan-rekannya untuk dicicipi. Hasilnya, Sri mendapat respon yang positif. Dari yang semula nyicip, rekan-rekan Sri kemudian memesan Sego berkat tersebut.

Berjalannya waktu, pesanan yang diterima Sri kian banyak, tak hanya datang dari teman-temannya, tapi juga kalangan pemerintahan dan sekolah. Itu karena Sri juga mempromosikan kuliner ini lewat sosial media. "Yang pesen tidak hanya perorangan, tapi juga instansi dan ada beberapa sekolah di Kulonprogo dan Purworejo juga," ucapnya.

Dibantu 18 karyawan, dalam sehari Sri bisa membuat 400 pesanan Sego berkat. Jumlah itu belum termasuk konsumen yang makan langsung di tempat. "Ya, kami juga memberi layanan makan di tempat, biasanya yang sering ke sini itu pegawai, pas jam makan siang," ujarnya.

BACA JUGA: Di Sleman, Wisata Alam Dinilai Paling Konsisten Terapkan AKB Masa Pandemi Covid-19

Sego berkat yang diberi nama Sego Berkat Pare Anom Bu SPA ini dijual cukup murah. Satu porsinya dihargai Rp7.000. Jika ingin tambah lauk seperti telur dan tambahan suiran ayam yang lebih banyak, harga yang dipatok berkisar Rp11.000-Rp12.000. Selain murah meriah, hidangan ini juga dipastikan sehat karena tidak menggunakan MSG. Proses masaknya juga tidak menggunakan kompor melainkan tungku kayu.

"Selain sego berkat, kami juga sediakan nasi rasul, sebenarnya hampir sama sih, hanya beda di proses memasak nasinya, kalau yang nasi rasul ditambah santen," ujar Sri.

BACA JUGA: Sejumlah Gedung di Kota Jogja Dibidik Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

Salah satu konsumen, Shafira, 20, mengaku sangat menyukai Sego berkat bikinan Sri karena rasa gurih nasinya pas. Lauk pauk yang tersaji di dalam kuliner tradisional  ini juga menurutnya komplet dan enak. Di samping itu harga yang dipatok tergolong cukup murah.

"Dari dulu saya pengen coba tapi belum kesampaian. Alhamdulillah sekarang dah nyobain dan memang mantap rasanya," ujar perempuan asal Kapanewon Lendah tersebut.

Sego berkat merupakan nasi bungkus dengan beragam lauk pauk yang biasa disajikan saat hajatan masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan sebagian DIY. Makanan ini ada yang dikemas menggunakan besek, wadah kardus, dan yang secara tradisional menggunakan daun jati atau daun pisang. Namun masyarakat Jawa Tengah khususnya Pacitan dan Wonogiri lebih menyukai membungkusnya dengan daun jati. Mereka kerap menyebutnya dengan sego berkat godhong jati  atau nasi berkat daun jati.