Gelar Potensi Desa Budaya Sukses Pacu Warga Berkreasi

Gelar Potensi Desa Budaya Sukses Pacu Warga Berkreasi. - Ist.
25 November 2020 14:57 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Gelar Potensi Desa Budaya menjadi wadah bagi Desa Budaya untuk menampilkan beragam potensi yang dimilikinya. Gelaran ini diharapkan jadi pemicu Desa Budaya untuk terus berkreasi dan berinovasi mengembangkan desanya.

Kepala Seksi Lembaga Budaya, Endang Widuri menjelaskan ada dua kategori yang dilombakan di agenda Gelar Potensi Desa Budaya. Dua kategori tersebut meliputi lomba bidang kuliner dan lomba kerjakan yang diikuti 56 Desa Budaya se-DIY. “Kalau tahun kemarin memang untuk kerajinan dan kuliner kita jadikan satu dengan gelar potensi,” ujarnya.

Pandemi membuat gelar potensi antara bidang kesenian dan kuliner serta kerajinan dipisah dalam pelaksanaannya. “Jadi gelar potensi tahun kemarin itu per kabupaten, jadi ada keseniannya lalu ada stan-stan pameran untuk kuliner dan keseniannya. Tapi karena pandemi ini kita pisah. Keseniannya kita bentuknya daring, kerajinan dan kulinernya kita bentuknya seperti ini lomba tersendiri,” jelas Widuri.

Dijelaskan Widuri bahan ketela dipilih sebagai bahan dasar lomba karena ketela termasuk makanan pokok dan mudah dijumpai di desa. “Pasti ada yang namanya ketela kalau yang di desa jadi kita perlu inovasi dari bahan ketela sendiri. Jadi dari bentuk tradisional misalnya kita inovasi, tapi makanannya tetap bahan tradisional, diinovasi kita inginnya seperti itu,” jelasnya.

Sementara itu pada kategori lomba kerajinan dipilihlah bahan dasar kayu dalam perlombaan.

“Kalau yang kuliner itu kan besok kita milihnya ketela untuk dibuat inovasi-inovasi karena kedepannya semua desa budaya kita harapkan bisa menjadi desa mandiri budaya. Untuk menjadi desa mandiri budaya itu ada gabungan dengan beberapa OPD tidak hanya dari kebudayaan, pariwisata, pemberdayaan perempuan, kemudian yang satunya koperasi dan UMKM, “ ujar Widuri.

Widuri meneruskan penjelasannya, jika Desa Mandiri Budaya akan didampingi dinas pariwisata, agar SDM Desa Budaya untuk bisa mengerti apa itu Sapta Pesona, bagaimana cara menerima tamu, bagaimana cara membuat paket paket wisata dan sebagainya. “Kemudian kita harapkan kalau paket-paket wisata itu berjalan kemudian ada turis asing yang datang kesana, mencicipi kuliner yang ada di sana.

Misalnya ada burger tapi dari ketela itu yang kita harapkan seperti itu jadi tidak hanya penyajiannya hanya bentuk ketela tapi macam-macam itu kan penyajiannya jadi menarik untuk bisa dibuat oleh-oleh juga menarik. Jadi tidak hanya bentuk ketela jadi diberi inovasi, sentuhan sentuhan yang lain rasa yang lain jadi makanan yang menarik tentunya,” jelasnya.

Peningkatan penilaian pun dilakukan melalui penambahan juri di masing-masing lomba. Dijelaskan Widuri, jika dulu pada agenda gelar potensi hanya ada satu juri yang menilai dua kategori langsung yakni kerajinan dan kuliner. “Tapi sekarang kita bedakan, jadi juri ya yang benar-benar pada bidangnya. Ini ada Chef Made, chef yang ada di Jogja Plaza. Kemudian dari Indonesian Chef Association [ICA] ada dari Asosiasi Pengusaha Jasa Boga, dan satu dari PKK DIY. Jadi betul-betul mengerti tentang kuliner,” katanya.

Sementara itu juri dari lomba kategori kerajinan ada dari Dekranasda dan Asita serta pengusaha kerajinan. “Karena kita inginkan kerajinan Ini jadi cenderamata atau oleh-oleh. Misalnya pengunjung akan ke sana,” ujarnya.

“Kita harapkan memang karena Desa Budaya kita buat mereka menjadi maju tidak hanya mandek di situ makanya untuk kerajinan dan lain sebagainya ada inovasi baru ada sentuhan modern di desa budaya meskipun tidak meninggalkan tradisi untuk kesenian. Tapi untuk kuliner dan kerajinan harus bisa mengikuti periode zaman karena memang sekarang dituntut seperti itu untuk mengikuti, agar mereka menjadi maju, agar berkembang mengikuti zaman. Kita harapkan desa budaya lebih berkembang lagi lebih maju lagi kemudian bisa menjadi desa mandiri budaya,” tambahnya.

Ketua Desa Budaya Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Singgih Nurjono mengapresiasi kegiatan yang diadakan. Singgih mengungkapkan kegiatan Gelar Potensi Desa Budaya diharapkan dapat memacu masyarakat membuat produk dari bahan baku yang ada di sekitarnya. “Jadi produk-produk rumahan, syukur ada wadah berjualan berkelompok,” ujarnya. (Adv)