Ratusan Tempat Cuci Tangan Dipasang di Area Objek Wisata Gunungkidul

Sejumlah pengunjung saat antre untuk cuci tangan sebelum masuk ke rumah makan tradisional Omahena di Kalurahan Logandeng, Playen. Foto diambil beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/David Kurniawan
02 Desember 2020 11:07 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sedikitnya 200 unit wastafel atau tempat cuci tangan telah dipasang di berbagai objek wisata di Gunungkidul. Pemasangan fasilitas ini untuk mendukung penerapan protokol kesehatan di kawasan wisata.

Kepala Seksi Informasi dan Promosi, Dinas Pariwisata Gunungkidul, Purnomo Sumardamto mengatakan, adanya pandemi Covid-19 membuat proses penyelenggaraan pariwisata dilakukan dengan norma dan tatatan baru. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan tidak menjadi lokasi penyebaran virus. “Protokol kesehatan menjadi hal yang wajib dilaksanakan di area wisata,” kata Damto, sapaan akrabnya, Rabu (2/12/2020).

Dia menjelaskan, sejak dibuka kembali pada akhir Juni, penyelenggaran wisata telah memenuhi kaidah-kaidah dalam penerapan protokol kesehatan. Sebagai contoh, wisatawan diwajibkan memakai masker hingga adanya pengecekan suhu tubuh. Selain itu, untuk memaksimalkan dalam penerapan aturan dalam adaptasi kebiasaan baru ini, pemkab juga berupaya memberikan fasilitas pemasangan alat cuci tangan.

Baca juga: Klaster Perkantoran Bermunculan, Pemda DIY Tetap Tak Mau Terapkan WFH

Damto menuturkan hingga sekarang sudah ada sekitar 50 destinasi yang dipasang tempat cuci tangan dengan jumlah total mencapai 200 unit. Menurut dia, jumlah ini masih bisa terus bertambah karena pemkab terus melakukan identifikasi lokasi mana saja yang akan dipasangi fasilitas tersebut. “Untuk saat ini di setiap destinasi ada empat sampai lima wastafel yang dipasang,” katanya.

Ia menambahkan, pemasangan tempat cuci tangan terlaksana berkat kerjasama antara dinas pariwisata dengan BPBD Gunungkidul. selain pemasangan fasilitas ini juga dilakukan monitoring terhadap pelaksanaan protokol kesehatan mulai dari kawasan wisata hingga tempat-tempat kuliner. “Monitoring dilakukan secara acak dan waktunya bisa dilaksanakan kapan saja,” katanya.

Hasil dari monitoring masih ada yang belum mematuhi protokol kesehatan. Hal ini dikarenakan masih banyak pengunjung yang abai tidak menggunakan masker, atau tidak menjaga jarak selama di destinasi. “Kami berharap pengelola destinasi untuk terus mengingatkan kepada pengunjung agar taat protokol kesehatan. Sebab, keberhasilan untuk pencegahan merupakan tanggung jawab semua pihak,” katanya.

Baca juga: Perkembangan Terbaru Merapi: Potensi Awan Panas 5 Km, Intensitas Kegempaan Meningkat Tajam

Pemilih rumah makan tradisional Omahena di Kalurahan Logandeng, Playen, Tinus Tri Susilo mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk menerapkan protokol kesehatan di unit usaha yang dijalankan. Menurut dia, sudah menyiapkan fasilitas tempat cuci tangan di beberapa titik, salah satunya di depan pintu masuk. Selain itu, di sekitaran tempat duduk juga disediakan handsanitizer untuk para tamu. “Kami komitmen mendukung gerakan dari pemerintah untuk mencegah penularan virus corona,” katanya.