Gejolak Merapi Mulai Mereda

Gunung Merapi difoto dari kawasan Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, DIY, Rabu (18/11/2020). - ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
11 Desember 2020 17:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan jika intensitas kegempaan di Gunung Merapi pada pekan ini lebih rendah jika dibandingkan minggu lalu. Laju deformasi juga terpantau sebesar sembilan sentimeter per hari. Terlebih, kubah lava baru juga belum terbentuk.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan jika dalam minggu ini periode pengamatan kegempaan Gunung Merapi sejak tanggal 4 hingga 10 Desember 2020 tercatat sebanyak 232 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 1.692 kali gempa Fase Banyak (MP), 5 kali gempa Low Frekuensi (LF), 256 kali gempa Guguran (RF), 209 kali gempa Hembusan (DG) dan dua kali gempa Tektonik (TT).

"Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih rendah dibandingkan Minggu lalu," ujar Hanik melalui keterangan tertulisnya pada Jumat (11/12/2020).

BACA JUGA: Sejumlah Warga Terdampak Tol Jogja-Solo Belum Teken Ganti Rugi Lahan

Lebih lanjut, berdasarkan periode pengamatan Gunung Merapi pada 27 November hingga 3 Desember 2020 kegempaan di Gunung Merapi tercatat sebanyak 236 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 2.128 kali gempa Fase Banyak (MP), 3 kali gempa Low Frekuensi (LF), 289 kali gempa Guguran (RF), 330 kali gempa Hembusan (DG) dan 11 kali gempa Tektonik (TT).

"Cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi hari, sedangkan siang hingga malam hari berkabut. Asap berwarna putih, ketebalan tipis hingga tebal dengan tekanan lemah. Tinggi asap maksimum 400 m teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Selo, Boyolali, Jawa Tengah, pada tanggal 4 Desember 2020 pukul 10.30 WIB. Guguran teramati dari Pos Babadan dengan jarak luncur kurang lebih 200 m ke arah hulu Kali Lamat di sektor barat pada tanggal 8 Desember 2020 pukul 09.17 WIB," terang Hanik.

Adapun, analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor tenggara tanggal 8 Desember terhadap tanggal 29 November 2020 menunjukkan adanya sedikit perubahan morfologi area puncak.

"Dari data drone tanggal 5 Desember 2020 diperoleh gambaran bahwa tidak teramati adanya material baru (kubah lava baru)," terangnya.

Untuk deformasi, jarak tunjam berdasarkan penghitungan dari electronic distance measurement (EDM) di sektor barat laut dari titik tetap BAB ke reflektor RB1 berkisar pada jarak 4.039,179 m hingga 4.039,801 m; dan dari BAB ke reflektor RB2 pada kisaran 3.853,850 m hingga 3.854,537 m. Baseline GPS Klatakan – Plawangan berkisar pada 6.164,06 m hingga 6.164,07 m.

"Deformasi Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM pada minggu ini menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 9 cm per hari," jelasnya.

Lebih lanjut, pada minggu ini terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Sleman, dengan intensitas curah hujan tertinggi sebesar 61 mm per jam selama 115 menit di Pos Kaliurang pada tanggal 5 Desember 2020.

"Tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi," pungkasnya.

Oleh karena itu, BPPTKG berkesimpulan jika berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi, sehingga status aktivitas masih dalam tingkat siaga.

"Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dan awan panas sejauh maksimal lima kilometer," pungkasnya.