Tak Ada RT Zona Merah Covid di Gunungkidul, Mayoritas Zona Hijau

Ilustrasi. - Freepik
17 Februari 2021 12:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Hampir semua RT di Gunungkidul berstatus zona hijau. Data ini sewaktu-waktu bisa berubah karena harus diperbarui setiap minggunya.

Kepala Dinas Kesheatan Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan dari 6.918 RT yang tersebar di seluruh wilayah Gunungkidul, sebanyak 6.786 atau 98 RT masuk zona hijau. Sisanya, 132 RT, masuk dalam zona kuning. “Hasil pendataan tidak ada yang masuk zona merah maupun zona oranye,” kata Dewi kepada wartawan, Rabu (17/2/2021).

BACA JUGA: Benarkah Proyek Nasional Bisa Tekan Angka Kemiskinan di DIY? Ini Kata Pakar UGM

Tidak adanya RT yang masuk zona merah sudah diperdiksi sejak awal. Menurut Dewi, untuk masuk zona merah, di satu RT harus ada 11 rumah dengan penderita Covid-19 dalam rentang waktu satu pekan ada lebih. “Pemetaan zonasi disesuaikan dengan jumlah penularan antar rumah,” ungkapnya.

Dia mengingatkan peta kerawanan masih bersifat sementara dan bisa berubah sewaktu-waktu. Hal ini mengacu perkembangan kasus penularan yang terjadi di wilayah tersebut. Pembaharuan peta zonasi terus dilakukan setiap minggunya. “Setiap pekan kami minta kepada panewu untuk melakukan pendataan lengkap dengan hasil data zonasi RT terbaru,” katanya.

Dewi meminta kepada masyarakat untuk terus menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker saat di luar rumah, menjaga jarak serta sering mencuci tangan dengan sabun di air mengalir. Ia menuturkan, kedisiplinan dari warga ini menjadi salah satu kunci untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona.

BACA JUGA: Danais Bisa Dialokasikan untuk Pengentasan Kemiskinan DIY

Wakil Ketua Komisi D DPRD Gunungkidul, Ari Siswanto menyambut baik adanya peta zonasi di tingkat RT. Hal ini sesuai dengan kebijakan terbaru dari pemberintah berkaitan dengan Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) berskala mikro. “Adanya zonasi RT ini sangat bagus dan saya berharap masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan,” katanya.

Saat ini, lanjut Ari, beberapa warga sudah mulai ada yang menggelar hajatan. Ia berpesan didalam pelaksanaan tetap mengacu pada protokol kesehatan sehingga hajatan tidak menjad sumber penyebaran Corona.