Pemanasan Global Ditengarai Memicu Fenomena Hujan Es yang Melanda Jogja

Foto ilustrasi. - ANTARA/Wahdi Septiawan
05 Maret 2021 09:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofiska (BMKG) DIY Reny Kraningtyas mengatakan hujan es disebabkan karena adanya pengangkatan massa udara yang hangat, lembab dan labil ke atmosfer dan pemanasan sinar matahari yang intensif dari pagi sampai siang hari sehingga membentuk awan convektif yaitu awan Cumulonimbus (Cb).

Setelah udara yang labil tersebut terjadi kondensasi, akan terbentuk titik-titik air dan karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi maka puncak awan sangat tinggi hingga sampai freezing level atau titik beku. Walhasil titik titik air tersebut menjadi kristal es saat berada di lapisan tersebut.

Ketika awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air, maka terjadi hujan lebat disertai es. "Es yang turun ini bergesekan dengan udara sehingga mencair dan ketika sampai permukaan tanah ukurannya lebih kecil," kata Reni kepada Harianjogja.com, Kamis (4/3/2021).

BACA JUGA: Berkedok Warung Kelontong, Sejumlah Warga Bantul Jual Ratusan Botol Miras

Disinggung terkait kemungkinan hujan es karena efek pemanasan global, Reny tak menampik hal itu. Ini karena semakin tinggi suhu di suatu tempat, semakin besar pula potensi terjadinya hujan es.

"Betul secara tidak langsung karena salah satu pemicu pemanasan global adalah adanya wilayah urban heat yaitu daerah yang memiliki fluktuasi suhu yang tajam, misal daerah yang dipenuhi gedung tinggi atau aspal yang terbuka, selain aktivitas industri meningkat. Jadi hubungannya adalah hujan es bisa semakin sering terjadi akibat dari dampak pemanasan global yang dipicu oleh fenomena urban heat island," ujarnya.

Urban heat island sendiri merupakan istilah yang mengacu pada lebih tingginya suhu udara di perkotaan dibanding wilayah sekitarnya. Kondisi ini bisa dipicu oleh masifnya pembangunan dan aktivitas industri yang tak sebanding dengan jumlah ruang terbuka hijau.

Selain efek pemanasan global, faktor lain yang bisa menyebabkan hujan es adalah kemunculan badai tropis. Namun faktor ini tidak berhubungan secara langsung.

"Ini hubungan tidak langsung atau faktor sekunder, sebab dengan adanya badai tropis maka akan semakin banyak tumbuh awan-awan Cb, dan awan Cb ini dapat memicu terjadinya hujan es apabila disertai kondisi dinamika atmosfer yang memungkinkan terjadinya hujan es, di antaranya adalah terjadi perbedaan nilai suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 Lokal time (> 4.5 derajat celcius) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60 persen)," jelasnya.

Reny menyatakan hujan es merupakan fenomena alam biasa dan lumrah terjadi di DIY. Bahkan kata dia hampir setiap tahun DIY mengalami fenomena ini. Untuk 2021 ini, berdasarkan pendataan BMKG DIY, hujan es sudah terjadi sebanyak empat kali, yakni pada 1 Februari, 27 Februari, 2 Maret dan 3 Maret. Namun, untuk data frekuensi kejadian hujan es tiap tahunnya belum terinventarisir jawatan tersebut.

Sejauh ini, BMKG DIY belum menerima laporan terkait dampak hujan es yang parah. Rata-rata kerusakan yang ditimbulkan hanya genteng bocor dan atap rusak, itupun jika kondisi atap sudah rapuh. Ini mengingat butiran es yang jatuh berukuran kecil. Paling besar seukuran kelereng seperti yang terjadi di Sleman dan Kota Jogja beberapa hari lalu.

Meski begitu, masyarakat tetap harus mewaspadai fenomena alam ini. Sebab es yang turun dapat membuat jalan jadi licin sehingga sangat berbahaya bagi pengendara bermotor. Jika saat hujan es melanda, masyarakat diimbau untuk berlindung di dalam rumah.

Sebagai upaya mitigasi dampak hujan es, BMKG kata Reny gencar memberikan sosialisasi kepada masyarakat melalui kurikulum pendidikan dan sosialisasi umum tentang peningkatan kewaspadaan terjadinya hujan es di sekolah lapang iklim dan sekolah lapang cuaca.

"Di situ masyarakat diajarkan untuk mengenali ciri awal potensi terjadinya hujan es, diharapkan masyarakat mengetahui waktu potensi terjadi huja es yaitu pada musim hujan ataupun masa pancaroba, agar membuat atap rumah yang tebal dan kokoh sehingga terhindar dari kerusakan akibat hujan tersebut," bebernya.

"Selain itu BMKG juga rutin membuat dan mendiseminasikan peringatan dini cuaca ekstrem."