Bantul Mulai Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah, Ini Hasilnya

Siswa mengikuti Asesmen Nasional (AN) di SMP 5 Jogja, Gondokusuman, Senin (5/4/2021). /ANTARA FOTO - Hendra Nurdiyansyah
06 April 2021 00:17 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Pelaksanaan Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) untuk 13.157 siswa SMP/MTS Negeri dan swasta serta kejar paket B di Bantul pada hari pertama, Senin (5/4/2021) berjalan lancar.

Selain menerapkan protokol kesehatan ketat, ujian pengganti ujian nasional ini juga tidak terkendala listrik dan jaringan.

"Secara garis besar, di hari pertama, semua lancar. Tidak ada masalah dengan listrik dan jaringan," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul Isdarmoko, Senin (5/4/2021).

Baca juga: Pemda DIY Akui Banyak Pelanggaran Selama PPKM

Hal sama juga diungkapkan oleh pengawas ASPD di SMP 2 Pundong, Tri Rahayu. Perempuan yang juga humas SMP1 Pundong ini mengungkapkan pada ASPD hari pertama ini ada sebanyak 131 siswa di SMP 2 Pundong yang mengikuti ujian. Mereka dibagi menjadi dua sesi dan memanfaatkan 4 ruangan berbeda di SMP 2 Pundong.

"Jadi satu ruangan hanya diisi 17 siswa. Ujian dilakukan secara daring, dimana siswa langsung mengisi ujian di PC yang telah disediakan. Hari ini, mata pelajaran yang diujikan Bahasa Indonesia. Untuk sesi pertama digelar pukul 07.30 WIB dan sejauh ini berjalan lancar. Jaringan dan listrik tidak ada masalah," kata Tri.

Tri mengungkapkan, sebelum masuk dalam ruangan, para peserta ujian terlebih dahulu dicek suhu tubuh, wajib menggunakan masker dan harus mencuci tangan lebih dahulu. Selain itu, SMP 2 Pundong juga menggandeng Satgas Covid Kecamatan Pundong untuk penerapan protokol kesehatan.

Baca juga: Magister Kebidanan UNISA Jogja Gelar Pengabmas Internasional

"Selain itu penerapan jaga jarak juga dilakukan di ruangan," katanya.

Meski ujian dilakukan secara daring, akan tetapi Disdikpora Bantul mencatat ada beberapa peserta yang terpaksa menjalani ujian secara manual. Hal ini disebabkan, peserta ujian tersebut sedang sakit, kecelakaan dan ada juga yang harus menjalani ujian di lembaga pemasyarakatan.

"Untuk jumlahnya tidak banyak. Mereka bisa mengisi kertas yang disediakan. Pelaksanaan ujian pun tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat," ucap Isdarmoko.