Asuransi Pertanian Kurang Diminati Petani Gunungkidul

Tukino, salah seorang petani di Kalurahan Bulurejo, Semin memupuk tanaman padi yang di sawahnya, Rabu (14/4/2021). - Harian Jogja/David Kurniawan
15 April 2021 11:07 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Program asuransi pertanian kurang diminati petani. Pasalnya, sejak digulirkan di 2018 lalu, kepesertaan masih jauh dari luas lahan yang dimiliki para petani.

Data dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, luas lahan yang ditanami padi hampir mencapai 48.104 hektare. Meski demikian, kepesertaan di setiap tahunnya mencapai 100 hektare lahan padi yang diasuransikan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan asuransi pertanian kurang diminati petani. Menurut dia, ada beberapa kendala yang mengakibatkan petani enggan ikut program tersebut. Salah satunya dikarenakan persyaratan yang mengharuskan kondisi lahan berupa padi sawah lengkap dengan saluran irigasi.

Baca juga: Satgas Pangan Gunungkidul Lakukan Pengawasan Secara Ketat

Kondisi ini jelas tidak memihak petani Gunungkidul karena mayoritas lahan merupakan sawah tadah hujan sehingga tidak masuk spesifikasi ke dalam program tersebut. Berdasarkan persyaratan tersebut, luas lahan yang bisa mengikuti hanya seluas 7.685 hektare.

Meski demikian, tidak semua petani mengasuransikan lahannya. Pasalnya, dari tahun ke tahun jumlah kepesertaan tidak lebih dari 200 hektare. “Bisa dilihat dari pesertanya di Gunungkidul yang masih sangat kecil,” katanya kepada wartawan, Rabu (14/4/2021).

Menurut dia, keengganan petani untuk ikut program ini juga disebabkan kondisi tanaman yang jauh dari serangan hama. Sedangkan, dari sisi potensi kekeringan juga kecil karena pasokan air ang tersedia hampir di sepanjang tahun. “Petani di lahan sawah masih berpikiran bahwa padi yang ditanam masih bisa panen,” katanya.

Baca juga: Penjual Obat Petasan Diringkus Polsek Kasihan Bantul

Raharjo mengakui kepesertaan dari asuransi pertanian, dapat memberikan keuntungan bagi petani. Pasalnya, dengan membayar premi yang telah ditentukan, maka petani mendapatkan ganti sebesar Rp6 juta pada saat terjadi kegagalan panen yang disebabkan karena bencana maupun serangan hama. Meski demikian, hingga sekarang belum ada petani Gunungkidul yang meminta klaim dari program ini.

“Kalau yang program subsidi, biaya premi per hektarenya sebesar Rp36.000 karena ada bantuan dari pemerintah. Sedangkan untuk reguler lebih mahal Rp136.000 per hektarenya,” kata dia.

Meski minat petani terhadap asuransi pertanian belum banyak, dinas pertanian dan pangan terus berupaya mensosialisasikan program ini ke masyarakat. “Tahun ini kami targetkan kepesertaan dengan luas lahan mencapai 500 ha. Mudah-mudahan bisa terpenuhi dengan sosialisasi yang terus digencarkan,” katanya.

Salah seorang petani di Kalurahan Ponjong, Kapanewon Ponjong, Sukrisno mengaku belum tahu menahu berkaitan dengan asuransi pertanian. Oleh karenanya, ia belum pernah ikut program tersebut.

Dia pun mengaku bersyukur dikarenakan lahan yang ditanam padi dapat tumbuh subur sehingga mendapatkan hasil dari proses bercocok tanam. “Hasilnya bagus sehingga upaya yang dilakukan selama ini dapat membuahkan hasil,” katanya.