Hadirkan Eggy untuk Tingkatkan Produktivitas Bantul Kalkun Farm

Proses sortir telur yang gagal menetas dan memasukkan telur baru. - Ist
11 Agustus 2021 18:07 WIB Media Digital Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sejumlah mahasiswa Unversitas Islam Indonesia (UII) melaksanakan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berjudul “Inkubator Penetas Telur Ayam Kalkun Otomatis Meningkatkan Produktivitas Bantul Kalkun Farm”.

Program bidang penerapan iptek (PKM-PI) tersebut dilaksanakan di Desa Pandes 1, RT.03, Wonokromo, Kec. Pleret, Bantul, pada 4 Juli 2021 lalu oleh Muhammad Taufiqur Rahman (Teknik Mesin/FTI), Nelvira Yolanda Putri (Teknik Kimia/FTI), Vira Prajna Cantika (Ekonomi Islam/FIAI), Dhafa Aria Pradana Anggaraksa (Teknik Mesin/FTI), dan Unggul Priambodo (Teknik Elektro/FTI), di bawah bimbingan dosen Arif Budi Wicaksono, S.T., M.Eng.

Muhammad Taufiqur Rahman menjelaskan, program tersebut dilatarbelakangi adanya UMKM di Indonesia yang terus berkembang dan saat ini menjadi salah satu faktor penting dalam kemajuan ekonomi di Indonesia. Sementara tim menilai salah satu usaha yang memiliki prospek menjanjikan adalah Peternakan Ayam Kalkun.“Kenapa menjanjikan karena kalkun dapat dimanfaatkan semua bagiannya mulai dari daging, telurnya, bahkan bulunya,” kata dia.

Dilihat dari populasinya, pada tahun 2013 tercatat sebesar 51.554 ekor. Persebaran terbesar berada di Pulau Jawa sebanyak 49.072 ekor. Populasi Kalkun terbesar menurut provinsi terdapat di Jawa Tengah sebanyak 24.640 ekor dan DIY 16.831 ekor. “Hal ini merupakan peluang bagi peternak Kalkun yang ada di Jawa dan DIY,” lanjut Nelvira Yolanda Putri.

Sementara itu Vira Prajna Cantika mengatakan program ini relevan dengan kebutuhan masyarakat karena peternakan ayam kalkun saat ini mulai naik karena kalkun sendiri dapat diberi pakan dari eceng gondok, atau sisa sayuran sehingga lebih murah. Selain itu ayam kalkun rutin bertelur akan tetapi induk kalkun sering kali mematuk dan menginjak telurnya sehingga sering terjadi gagal tetas.

“Hal itu dapat diatasi dengan inkubator, akan tetapi inkubator yang ada di pasaran mengandalkan listrik dari PLN, sehingga ketika terjadi mati listrik inkubator tidak bisa menghangatkan telur sehingga bisa menimbulkan gagal tetas. Oleh karena itu kami merancang Eggy sebagai solusi inkubator otomatis,” tutur dia.

Dalam mengimplementasikan alat Eggy ini tim menerapkan metode Design Thingking yang terdiri dari lima tahapan, di antaranya empathize (empati) yakni tim melakukan proses pendekatan dari aspek emosional yang baik dengan tujuan pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan baik; Difine (definisi), tim pelaksana, dosen pendamping, dan mitra Bantul Kalkun Farm mendiskusikan permasalahan utama mitra yaitu terjadinya pemadaman listrik yang membuat telur gagal menetas karena pemanas telur masih bergantung pada arus listrik.

Selanjutnya adalah Ideate (penyelesaian masalah). “Pada tahap ini, tim mengkaji permasalahan mitra dengan melakukan diskusi dan perumusan solusi dalam menjawab permasalahan mitra,” terang Dhafa Aria Pradana Anggaraksa.

Keempat prototype (aplikasi Ide), tim pelaksana membuat desain dan menganalisis komponen-komponen yang diperlukan sebelum pembuatan dan terakhir adalah test (pembuatan produk dan uji coba), pada tahap test, tim pelaksana melaksanakan pembuatan produk dengan dan uji coba.

Menurut pihak penerima manfaat, alat ini sangat berguna untuk menjawab permasalahan mitra adanya fitur otomatis mempermudah dalam pengoperasian dan pengawasan alat.

“Kesimpulannya dengan adanya alat Eggy dapat menjawab permasalahan mitra dan alat ini memiliki potensi untuk dikembangkan lagi,” tutup Unggul Priambodo. (ADV)