38 Jembatan di Gunungkidul Rusak, Pemkab Lakukan Perbaikan Bertahap
Sebanyak 38 jembatan di Gunungkidul mulai rusak ringan hingga sedang. Pemkab pastikan masih aman dan lakukan perbaikan bertahap.
Martono salah seorang petani di Dusun Pengkol, Jatiayu, Karangmojo sedang memanen ubi kayu di lahan yang dimiliki, Rabu (5/8/2020). /Harian Jogja-David Kurniawan\n
Harianjogja.com, NGLIPAR – Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mencatat panen hasil paen singkong mencapai 827.669 ton. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan dengan target panen di 2021 sebesar 832.000 ton.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, luas tanam singkong mencapai 44.025 hektare. Ditargetkan dengan luas lahan tersebut mampu menghasilkan panen sebesar 832.000 ton. Meski demikian, berdasarkan perhitungan yang dilakukan panen singkong di tahun ini sedikit meleset dari target. Pasalnya, ada selisih sekitar 4.331 ton antara target dengan realisasi panen. “Ternyata kurang dari target karena secara akumulasi panennya hanya mencapai 827.669 ton,” kata Raharjo, Rabu (27/10/2021).
BACA JUGA : Petani Gunungkidul Panen Raya Singkong, Produksi Ditarget
Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan panen sedikit meleset. Salah satunya area tanam yang semakin menyempit dikarenakan perluasan penanaman jagung dengan monokultur oleh petani. Kondisi ini pun berpengaruh terhadap singkong yang tidak ditanam.
Adapun faktor lain yang menyebabkan hasil panen singkong menurun juga dipengaruhi karena jarak tanam batang semakin melebar. Raharjo mengungkapkan, di 2020 lahan seluas satu hektare bisa ditanami 3.500 batang singkong. Sedangkan di tahun ini yang ditanam hanya sekitar 2.500 batang per hektare.
Pengaruh jarak tanam yang semakin lebar dapat dilihat pada saat proses pengubinan hasil panen singkong mencapai 18,8 ton per hektare. Jumlah ini menurun dibandingkan hasil pengubinan panen di 2020 yang mencapai 22 ton per hektare.
Meski ada penurunan, Raharjo mengaku senang karena produktivitas singkong masih bagus. Selain itu, dari sisi harga juga relative stabil, per kilonya singkong basah dihargai Rp1.200. Sedangkan untuk gaplek dijual Rp2.500 perkilonya.
BACA JUGA : Petani Berharap Harga Singkong Tidak Anjlok
Petani asal Dusun Sriten, Pilangrejo, Kapanewon Nglipar, Radato mengatakan, hasil panen singkong bagus. Untuk harga, ia mengaku menjual gaplek seharga Rp2.500 per kilogram.
Dia pun berharap kepada pemerintah agar ada program pembinaan. Selama ini, petani hanya mengolah singkong menjadi gaplek lantas dijual. Diharapkan dengan adanya pelatihan, petani bisa terhindar dari anloknya harga saat panen raya karena. “Hingga sekarang belum ada, tapi kami berharap ada pelatihan makanan olahan sehingga memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 38 jembatan di Gunungkidul mulai rusak ringan hingga sedang. Pemkab pastikan masih aman dan lakukan perbaikan bertahap.
TPR lama Parangtritis dibongkar di Bantul, akses wisata dialihkan sementara dan jalur utama ditata ulang untuk kelancaran lalu lintas.
Apple Shortcuts di iOS bisa digunakan untuk melacak iPhone hilang lewat foto dan lokasi otomatis sebagai lapisan keamanan tambahan.
“Restorasi Gumuk Pasir menjadi salah satu program unggulan dalam penataan kawasan wisata pantai selatan,"
Sarwendah bantah keras fitnah ikut pesugihan di Gunung Kawi. Kuasa hukum sebut itu murni syuting horor dan bidik konten video Pesulap Merah.
Konsep halal tidak cukup dipahami sebatas label pada kemasan produk. Kehalalan harus dibangun dari niat dan kesadaran pelaku usaha.