Siswa SMK Kesehatan Dikerahkan untuk Bantu Nakes

Kepala UPT Balai Dikmen Sleman Tukiman saat meninjau pameran siswa SMK Kesehatan. - Ist.
19 Desember 2021 09:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Sejumlah siswa dari SMK Kesehatan di wilayah DIY turut dikerahkan dalam membantu tenaga kesehatan selama pandemi Covid-19. Selain menjadi sukarelawan yang diterjunkan ke rumah sakit, mereka juga membantu vaksinasi hingga kampanye protokol kesehatan.

Kepala UPT Balai Dikmen Sleman Disdikpora DIY Tukiman menjelaskan sekolah yang memiliki jurusan atau fokus di kesehatan berperan penting dalam membantu menangani pandemi Covid-19. Bahkan menjadi agen untuk mengkampanyekan protokol kesehatan di sekolah lain.

"Karena sekolah yang memiliki jurusan kesehatan atau SMK Kesehatan ini tentu punya kelebihan dalam kaitan dengan hal hal kesehatan seperti prokes, sehingga peran mereka sangat penting," katanya di sela-sela Pameran Peringatan HUT SMK Binatama ke-9, Jumat (17/12/2021).

Guna menungkatkan kompetensi di masa pandemi, sejumlah SMK Kesehatan di DIY tetap menjalankan pelaksanaan praktik antara luring dikombinasikan dengan daring di rumah sakit maupun klinik kesehatan. Hal ini sebagai bentuk link and match antara sekolah dengan dunia industri dalam hal ini rumah sakit.

“Takt boleh tetapi jangan terlalu takut, karena kalau takut justru lebih bahaya, yang penting berjalan sesuai prokes, vaksinasi tetap digalakkan, kalau ada yang positif dan terapkan tracing, testing,” ujarnya.

Kepala SMK Kesehatan Binatama Nuri Hastuti menyatakan selama pandemi praktik kesehatan tetap berjalan, tetapi dengan pembatasan dan prokes ketat. Terutama untuk siswa yang terjun ke rumah sakit dan klinik. “Kami mengirimkan siswa juga ke rumah sakit, tetapi prokes ketat, harus swab, kalau ada yang positif langsung isoman, kampanye prokes terus kami lakukan,” katanya.

Selama pandemi siswanya diminta untuk membantu nakes dalam melakukan vaksinasi, mulai dari skrining peserta vaksinasi hingga menyuntik pasien. Para siswa justru menjadi sukarelawan saat keterbatasan nakes akibat terpapar Covid-19.

“Ibaratnya kadang klinik kekurangan tenaga, sehingga siswa selalu ikutserta untuk membantu vaksinasi. Kami mengerahkan sekitar 80 siswa untuk di klinik, rumah sakit, apotik,” ujarnya.

Nila mengatakn selain praktik lokal, siswanya terutama yang akan lulus banyak mendapatkan permintaan dari luar negeri sebagai nakes di Jepang. Mereka bekerja di pabrik dan panti jompo dengan rata-rata penghasilan antara Rp15 juta hingga Rp20 juta. “Permintaan dari Jerman, Taiwan, Jepang, China banyak sekali, tetapi banyak orangtua yang tidka setuju, tetapi banyak juga yang berangkat,” ujarnya.