Advertisement

Warga di Kulonprogo Stres! Sudah Geber Motor Sampai Bunyikan Kentongan, Penambangan Pasir Tak Berhenti

Hafit Yudi Suprobo
Senin, 31 Januari 2022 - 17:17 WIB
Bhekti Suryani
Warga di Kulonprogo Stres! Sudah Geber Motor Sampai Bunyikan Kentongan, Penambangan Pasir Tak Berhenti Ilustrasi penambangan pasir - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO—Sejumlah warga di bantaran Kali Progo menolak penambangan pasir di wilayah mereka yang diduga menyebabkan kerusakan lingkungan. Warga meminta agar pemerintah bertindak tegas dengan mencabut izin sejumlah perusahaan pertambangan yang diduga melakukan pelanggaran. 

Salah satu warga Dusun Wiyu, Kalurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan, Kulonprogo, Yuliana, 39, mengatakan aktivitas penambangan yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya berdampak terhadap sejumlah kerusakan lingkungan.

"Kami benar-benar merasakan pencemaran [atas aktivitas penambangan pasir di Kali Progo] saat bulan Desember tahun lalu ya jelang musim hujan. Air sumur kami keruh. Sehingga, tidak bisa dikonsumsi," kata Yuliana saat turun ke lokasi penambangan pasir pada Senin (31/1/2022).

Dikatakan Yuliana, aktivitas penambangan yang disinyalir menjadi biang keruhnya air sumur membuat dirinya dan sejumlah warga membeli air bersih. Baik untuk dikonsumsi maupun untuk keperluan sehari-hari seperti mandi. 

"Kami rela bahkan sampai harus beli air bersih. Kami tidak ingin ada aktivitas penambangan dengan alat berat. Akibat penambangan pasir, masyarakat resah. Semuanya bubrah ya baik dari segi sosial maupun ekonomi masyarakat," ungkap Yuliana. 

BACA JUGA:Nekat! Pengendara Motor Ini Terobos Kerumunan Pengantar Jenazah

Alih-alih sadar atas protes warga, aktivitas penambangan menurut warga justru semakin menjadi-jadi. Bahkan, warga harus membuat tim pemantau aktivitas penambangan pasir. Hal tersebut dilakukan karena aktivitas penambangan pasir kerap melanggar aturan waktu penambangan.

"Kami itu sampai harus ngopyak-opyak mereka [penambang pasir]. Kita sempat buat aksi geber-geber motor agar aktivitas penambangan pasir berhenti. Namun, tidak digubris. Akhirnya kami kembali ke hal yang tradisional dengan membunyikan kentongan. Kami itu sampai stres," keluh Yuliana.

Warga lainnya, Suburiah, 64, warga dusun Pundak Wetan, Kalurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan, Kulonprogo, mengatakan dampak dari aktivitas penambangan pasir yang melanggar aturan bahkan menyasar ke Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Program Pamsimas) milik warga.

"Sumber air Pamsimas yang mencukupi kebutuhan air bersih sekitar 300 keluarga bahkan menurun drastis. Terlebih, kalau pas kemarau kebutuhan air warga tidak tercukupi karena sumur air Pamsimas milik warga menurun signifikan," terang Suburiah.

Advertisement

Sejumlah warga dari empat wilayah yakni Dusun Wiyu, Kalurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan, Kulonprogo, Dusun Pundak Wetan, Kalurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan, Kulonprogo, Dusun Jomboran, Kalurahan Sendangagung, Sleman, dan Dusun Nanggulan, kalurahan Sendangagung, Sleman pada Senin (31/1/2022) memang melakukan aksi turun ke kawasan penambangan.

Warga menentang aksi penambangan yang diduga dilakukan oleh sejumlah perusahaan pertambangan pasir yang beroperasi di Kali Progo. Di waktu yang sama, sejumlah instansi baik DLH Kulonprogo, DLHK Provinsi DIY, juga turut melakukan tinjauan lapangan.

Uji sampel air sumur juga dilakukan di empat titik dan satu Pamsimas milik warga di Kulonprogo. Hal tersebut dilakukan untuk melihat dampak pencemaran air sumur yang diduga berasal dari aktivitas penambangan pasir. Hasilnya sendiri berdasarkan penuturan petugas akan terlihat selama 20 hari kerja.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Streaming Starjoja FM
alt

Rayakan HUT TI, Warga Segrumung Kaget Didatangi Ganjar Pranowo

News
| Kamis, 18 Agustus 2022, 17:27 WIB

Advertisement

alt

Paspor Indonesia Tanpa Kolom Tanda Tangan untuk Permohonan Visa Jerman Tetap Diproses

Wisata
| Kamis, 18 Agustus 2022, 15:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement