Advertisement

Dinas Kebudayaan Bantul Peringati Serangan Umum 1 Maret

Ujang Hasanudin
Kamis, 03 Maret 2022 - 22:27 WIB
Yudhi Kusdiyanto
Dinas Kebudayaan Bantul Peringati Serangan Umum 1 Maret Pertunjukan tari Darah Bumi Pertiwi karya Paguyuban Seni Bantul Pena Kartika saat membuka acara peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Balai Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon, Rabu (2/3/2022). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul turut memperingati peristiwa sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara. Peringatan ini dikemas dalam bentuk diskusi dengan menghadirkan sejumlah ahli sejarah dan juga komunitas sejarah di Balai Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon, Bantul, Rabu (2/3/2022). Selain diskusi, dalam acara ini juga dipentaskan Keroncong Kamajaya serta kolaborasi tari dan musikalisasi puisi yang dibawakan Paguyuban Seni Tari Bantul dan Pena Kartika.

Sejumlah narasumber yang dihadirkan di antaranya Dosen Sejarah Departemen Sejarah FIB Universitas Gadjah Mada (UGM), Julianto Ibrahim, S.S, H.Hum yang merupakan salah satu pengusul sekaligus penulis naskah akademik agar 1 Maret 1949 ditetapkan menjadi Hari Besar Nasional hingga akhirnya disetujui menjadi Hari Penegakan Kedaulatan Negara.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Narasumber lainnya yakni Kepala Prodi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Jogja, Dr. Muhammad Iqbal Birsayada, S.Pd, M.Pd; Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Bantul sekaligus saksi sejarah, Moeradji; dan Ketua Komunitas Djogjakarta 1945, Eko Isdianto, S.Sos.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul, Dr. Helmi Jamharis, M.M mengatakan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan peristiwa monumental, bersejarah dan memiliki nilai-nilai strategis. Dengan peristiwa ini, Indonesia dapat menunjukkan kepada dunia bawa eksistensi Republik Indonesia sebagai negara merdeka masih ada.

Sehingga melalui spirit inilah rakyat Yogyakata bersama TNI-Polri dan rakyat menunjukkan pada dunia dalam melawan Belanda dengan menduduki Yogyakarta. Meski hanya enam jam, peristiwa ini mampu mengubah pandangan dunia terhadap Republik Indonesia yang kita cintai,” kata Helmi, saat membuka diskusi.

Menurut Helmi peristiwa heroik ini bukan suatu hal yang mudah dilaksanakan, dalam arti membutuhkan strategi jitu, butuh perhitungan yang jeli sehingga dengan keberaniannya, patriotismenya rakyat Yogkarta bisa menghasilkan sesuai harapan. Hal itu menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih berdiri.

Keberhasilan ini menunjukkan kekompakan antara TNI-Polri dan rakyat, pemimpin dan yang dipimpin agar dalam mekasanakan keputusan harus dilandasi kekompakan. Tidak bisa hal baik dilaksanakan sendiri secara individual karena hasil tak maksimal. Nilai kebersamaan, kekompakan yang ditunjukan para pendahulu harus terus diteladani,” kata Helmi.

Helmi mengatakan ada sejumlah nilai yang bisa diteladani dari Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk melaksanakan aktivitas di masa kini dan masa mendatang. Pertama, nilai nasonalisme, yakni semangat atau rasa memiliki bangsa atau kesediaan berkorban demi tegaknya bangsa.

Kedua, nilai patriotisme yakni semangat satu rasa, hati nurani bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan, patriotisme semangat pertahankan kemerdekaan. Ketiga, nilai kewarganegaraan yakni semangat bahwa setiap warga negara harus memiliki hak dan kewajiban yang harus dijunjung tinggi dan ditaati.

Kepala Dinas Kebudayaan, Nugroho Eko Setyanto, S.Sos, M.M mengatakan peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 rutin digelar setiap tahun sejak 2019 dengan lokasi yang berbeda-beda sampai akhirnya 1 Maret ditetapkan sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara oleh Presiden melalui Kepres No.2/2022.

Penetapan ini menambah semangat masyarakat untuk terus memperingati peristiwa tersebut sekaligus mengambil nilai-nilanya yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Peringatan ini meneguhkan kembali nilai-nilai persatuan, nilai kejuangan dan nilai-nilai dari masyarakat Yogyakarta sehingga bisa membawa penegakan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Nugroho.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

AP I Mengaku Belum Terima Info soal Pengurangan Jumlah Bandara Internasional

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 10:47 WIB

Advertisement

alt

Ikuti Post-tour ATF, Banyak Peserta Terkesan dengan Objek Wisata DIY

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 10:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement