Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 10 Mei 2026, Tarif Rp8.000
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 10 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan.
Penyerahan hibah instalasi pemanen air hujan di wilayah rawan krisis air di Gunungkidul. /Ist.
Harianjogja.com, JOGJA--Instalasi pemanen air hujan atau rain harvester bisa menjadi solusi mengatasi dampak kekeringan. Alumni SMAN 3 Padmanaba melalui lintas angkatan membuat gerakan pembangunan rain harvester di sejumlah tempat di wilayah DIY yang terdampak kekeringan seperti Gunungkidul.
Terbaru, teknologi ini sudah diserahkterimakan di Padukuhan Tekik, Ngloro, Saptosari dan Padukuhan Blimbing, dan Padukuhan Mendak, Girisekar, Panggang. Ketua Panitia Pembuatan Rain Harvester Beatriks W Puntorini menjelaskan melalui gerakan ini kelompoknya ingin menawarkan solusi melalui instalasi pemanen air hujan dalam mengatasi kekeringan di DIY utamanya Gunungkidul.
“Ini merupakan teknologi tepat guna yang bisa menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi krisis air terutama saat musim kemarau. Sehingga kami membagikan instalasi ini di sejumlah titik rawan krisis air,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (20/4/2022).
Pembuatan instalasi oleh alumni Padmanaba ini dengan melibatkan para ahli sehingga bisa merancang dengan menghasilkan tempat penampungan yang memiliki sejumlah keunggulan. Mulai dari anti ranting dan dedaunan, anti sedimentasi dan anti binatang pengerat. Selain itu teknologi ini juga dilengkapi dengan pencegahan air hujan awal yang cenderung asam.
Baca juga: Marak! Peredaran Pil Koplo di Gunungkidul Pakai Media Sosial
“Di samping itu, karena air hujan ini sudah dipanen sebelum sampai ke tanah, maka sangat kecil kemungkinan tercemar bakteri Escherichia coli atau E. coli yang biasanya didapat dari rembesan septic tank sebagai sumber pencemaran. Sehingga hasil panenan air ini benar-benar bersih,” katanya.
Ia mengatakan, pembuatan instalasi pemanen air hujan dengan tiga buah toren diperkirakan menghabiskan dana kurang lebih Rp20 juta per unit. Sehingga, keseluruhan bantuan di tiga padukuhan ini mencapai Rp60 juta. Tiga kalurahan yang mendapatkan hibah meliputi Padukuhan Blimbing, Girisekar, Panggang; Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Panggang; dan Padukuhan Tekik, Kalurahan Ngloro, Kapanewon Saptosari.
“Harapan kami Rain Harvester ini akan menjadi program stimulan Kabupaten Gunungkidul dan tempat lain di DIY yang berkelanjutan dalam rangka mengurangi atau bahkan menuntaskan permasalahan kekeringan,” katanya.
Hibah instalasi pemanen air hujan diberikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kabupaten Gunungkidul, Irawan Sujatmiko dan Direktur PDAM Toto Sugiyarto di Balai Padukuhan Blimbing, Girisekar, Panggang pada Senin (18/4/2021) lalu. “Kami berharap instalasi pemanen air hujan ini dapat diterapkan juga di wilayah lain,” kata Irawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 10 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan.
Update prakiraan cuaca Jogja dan sekitarnya untuk Rabu, 13 Mei 2026. Cek daftar wilayah yang berpotensi hujan ringan serta pantauan suhu udara di seluruh DIY.
Pembangunan aviary Purwosari Gunungkidul kembali dilanjutkan tahun ini dengan anggaran Rp5,6 miliar dari Dana Keistimewaan DIY.
Amerika Serikat disebut telah menghabiskan Rp507 triliun untuk operasi militer melawan Iran sejak konflik pecah Februari 2026.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Festival Dalang Cilik Kulonprogo menjadi ajang regenerasi dalang muda dan pelestarian budaya wayang di kalangan pelajar.