Sporadies Ingin Jadikan Merangkai Bunga sebagai Terapi Jiwa

Anggota klub Sporadies berfoto bersama di sela-sela kegiatan merangkai bunga. - Instagram @sporadies
14 Mei 2022 08:37 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Selama ini, aktivitas merangkai bunga masih terkesan eksklusif. Namun, Sporadies mencoba menepisnya. Di komunitas itu, merangkai bunga justru bisa menjadi terapi seni dan kegiatan yang menyenangkan.

Sporadies awalnya terbentuk dari minat Risa Vibia, perempuan asal Jogja yang gemar dengan segala hal berbau flora.

Sejak kecil, dia sudah dekat dengan tumbuh-tumbuhan. Ibunya yang merupakan seorang guru Biologi memberi pengaruh besar padanya. Di rumah mereka bahkan ada hutan kecil tempat menyimpan koleksi bunga dan tanaman-tanaman yang disukainya.

Dari situlah, Risa pun jadi terbiasa memperhatikan tumbuhan, hingga mendokumentasikannya dalam potret.

BACA JUGA: Kalurahan Harus Berani Tolak Pengajuan Nikah Bawah Umur

Seusai menyelesaikan studi, dia lantas membuat sebuah klub botani bernama Sporadies pada 2021. Lewat komunitas itu, ia ingin menyebarkan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Di Sporadies, sebagian besar kegiatannya tentang merangkai bunga. Meski begitu, ada juga lokakarya dengan sejumlah kawan yang fokus dengan botani. Hanya saja representasi karyanya berbeda. Seperti pressed flower, herbarium, hingga kertas dari bunga limbah.

Sporadies mempertemukan banyak orang yang ingin merangkai bunga dengan cara menyenangkan dan tidak eksklusif, hingga orang-orang yang ingin berkarya lewat bunga dan menjadikannya suatu bisnis.

“Di Sporadies, kami menggabungkan gimana caranya kenalan sama bunga dan tumbuhan itu menjadi suatu hal yang sangat terapeutik,” ujar Risa kepada Harianjogja.com, Selasa (9/5/2022).

BACA JUGA: Jadi Catatan! Bus di Kulonprogo Telat Datang 12 Jam saat Arus Balik

Nama komunitas ini pun merujuk pada kata sporadis, yaitu sifat spora yang menyebar di manapun sebagai alat perkembangbiakan tumbuhan, terutama paku-pakuan. Nama itu sangat cocok dengan klub botani yang ia kelola.

Hingga kini, komunitas itu sudah 16 kali menyelenggarakan lokakarya dengan berbagai tema seputar botani. Risa menuturkan setidaknya ada empat program yang dijalankan Sporadies.

Kegiatan pertama bertajuk Usainya Usia #SisaTakSiaSia. Program ini memungkinkan anggota memperpanjang usia bunga setelah perayaan, biasanya dekorasi acara pernikahan, untuk mengurangi limbah sampah bunga untuk dikaryakan kembali menjadi bentuk lain. Misalnya, rangkaian bunga, herbarium, olahan kertas daur ulang, dan sebagainya.

Kemudian, ada pula kegiatan ToUcH the WiLd #RambanRangkai. Risa menerangkan aktivitas ini memungkinkan anggota merangkai bunga liar dengan merambannya di lingkungan sekitar. Biasanya, peserta lokakarya akan membawa hasil rambannya sendiri dengan mengenal nama dan lokasi tanaman itu ditemukan.

“Lalu ada Find Your Flow #TherapeuticSeries. Aku pengin merangkai bunga itu menjadi aktivitas yang terapeutik. Sebagai coping mechanism secara psikis dengan bermain terapi warna, desain, dan bentuk, sehingga sangat personal,” terangnya.

Selama ini, Sporadies sudah beberapa kali menyelenggarakan lokakarya di kafe. Padahal, Risa ingin kegiatan Sporadies bisa lebih dekat dengan alam, seperti memanfaatkan ruang terbuka hijau (RTH) seperti taman.

“Makanya ada kegiatan Sporadies Nomadies #MekarDiPasar #RambanDiTaman. Sembari memanfaatkan dan mengenal RTH, Sporadies ingin teman-teman merasakan suasana dan pengalaman hijau dan asri sesuai pesan awal klub ini untuk mendekatkan hal-hal berbau botani. Begitu pula di pasar, tempat di mana botanical items seperti bunga, buah, sayur, dan olahannya berada,” urainya.

 komunitas sporadies

Tak Terbatas Gender

Meski bunga identik dengan perempuan, Risa memastikan bahwa Sporadies mengusung nilai genderless atau tidak dibatasi gender tertentu. Dalam beberapa kali lokakarya pun seringkali diikuti peserta laki-laki.

Risa bercerita bahwa satu di antaranya bergabung ke Sporadies lantaran ingin menggali lebih dalam soal bunga lokal.

“Dia memang interest ke bunga karena dia kerja sebagai design interior, jadi gabung ke klub buat belajar bikin set, misal ketahanan bunga lokal itu berapa lama, dan sebagainya,” terangnya.

BACA JUGA: Zona Dua TPA Banyuroto Mulai Dibangun Maret 2023 untuk Tampung Sampah Kulonprogo

Di samping itu, ada pula anggota laki-laki yang memang bergabung ke Sporadies karena rasa penasaran dengan kegiatan merangkai bunga.

Hal itu tak lepas dari anggapan bahwa merangkai bunga masih menjadi sesuatu yang bersifat eksklusif dan seringkali outputnya merupakan kelas untuk memulai bisnis floris.

“Padahal enggak semua orang pengin begitu. Oh, ternyata ada ya yang butuh merangkai bunga untuk coping mechanism, jadi nggak mesti belajar rangkai bunga buat memulai bisnis floris,” urainya.

Menurut dia, aktivitas merangkai bunga sangat bisa dijadikan terapi seni, seperti melukis maupun merajut. Hanya saja, hal ini belum begitu populer. Lewat Sporadies, Risa ingin membuat kegiatan merangkai bunga bisa diikuti siapa saja.

“Kebanyakan yang bergabung itu butuh aktivitas untuk bisa fokus, soalnya rata-rata yang ikut itu orang-orang sibuk. Jadi aku pengin ketika mereka merangkai, bisa fokus di kombinasi warna, itu kan enggak susah. Aku percaya semua orang bisa merangkai, punya taste masing-masing.”