Advertisement

Ekspor Gerabah Capai 1.500 Buah Per Bulan, Begini Asal Mula Kasongan

M140
Minggu, 09 Oktober 2022 - 19:37 WIB
Arief Junianto
Ekspor Gerabah Capai 1.500 Buah Per Bulan, Begini Asal Mula Kasongan Salah satu gerai gerabah di Kasongan. - Harian Jogja/Dwi Cahyanti

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL – Pasar ekspor kerajinan gerabah Kasongan terus melonjak. Beberapa negara yang menjadi target ekspor gerabah kasongan di antaranya adalah Amerika, Eropa, Australia.

Salah seorang pengusaha gerabah Kasongan, Timbul Raharjo mengakui Eropa menjadi benua dengan negara terbanyak yang menjadi pasar gerabah Kasongan dengan kuantitas mencapai 1.500 buah per bulan.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

“Pada 2007 setiap bulannya ada 40 kontainer yang berisikan kurang lebih 400 gerabah setiap kontainer, kini sekitar lebih 3.000 gerabah yang bisa terjual dengan kisaran harga Rp100.000–Rp500.000 bahkan jutaan hingga puluhan juta rupiah, dari yang terkecil hingga besar,” ucap Timbul, Minggu (9/10/2022)

BACA JUGA: Waswas Gedung Ambruk, Siswa SDN di Bantul Ini Tetap Bersekolah

Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja itu menjelaskan nama Kasongan sejatinya berasal saat era Pangeran Diponegoro. Saat Pangeran Diponegoro diculik oleh Belanda, salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang bernama Abdullah Rouke melarikan diri ke sebuah kampung dan menyamar dengan menggunakan nama Kyai Song.

"Sejak saat itulah kampung tempat Abdullah Rouke melarikan diri tersebut disebut dengan Kasongan," ucap Timbul.

Saat bertempat di Kasongan, Kyai Song mengajarkan masyarakat setempat membuat gerabah. Keahlian itu pun terus dilestarikan secara turun temurun hingga kini menjadi mata pencaharian utama masyarakat di Kasongan.

Sebelum terkenal seperti sekarang, kerajinan gerabah Kasongan diawali dari pembuatan alat rumah tangga seperti tong air, alat masak, dan sebagainya. Dengan seiring berkembangnya zaman kini gerabah memiliki banyak jenis dan ragamnya seperti vas bunga, penghias ruangan, meja, kursi dan sebagainya, tambah Parimin, seorang perajin gerabah lainnya.

Advertisement

“Harga jual gerabah menyesuaikan bentuk dan ukuran, untuk pot bunga berkisaran Rp5.000-Rp100.000, vas bunga atau penghias ruangan dari dari kisaran Rp50.000-Rp500.000, Guci setinggi satu meter harganya bisa mencapai Rp1 juta, sedangkan untuk satu paket meja taman berkisaran dari Rp500.000 hingga jutaan rupiah,” kata Parimin.

Kerajinan gerabah yang dihasilkan yaitu pot bunga, vas bunga, hiasan ruangan, celengan, meja,  kursi taman, guci, patung kuda dan lainnya. Harga jual dari produk ini menyesuaikan bentuk, ukuran serta tingkat kesulitan dalam proses pembuatan.

“Kerajinan gerabah ini dapat dipasarkan dari dalam negeri seperti Semarang, Surabaya, Bandung, Bogor hingga luar negeri seperti Jepang, Korea serta Australia,” kata Parimin.

Advertisement

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

UKDW Jogja Meluluskan 342 Wisudawan

UKDW Jogja Meluluskan 342 Wisudawan

Jogjapolitan | 5 hours ago
Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Seperti di Korea, Intervensi BUMN Penting untuk Kemajuan UMKM

News
| Selasa, 06 Desember 2022, 20:27 WIB

Advertisement

alt

Jangan Sampai Salah, Hotel 26 Lantai di China Ini Khusus untuk Babi

Wisata
| Minggu, 04 Desember 2022, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement