Viral Persahabatan Siswa SMK Bantul, Alif Dapat Laptop dari Alumni
Video siswa SMK Muhammadiyah 1 Bantul memberi sepatu kepada temannya viral. Seorang alumni kemudian memberikan laptop untuk mendukung belajar Alif.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, BANTUL — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mengaku sudah mendapatkan Surat Edaran (SE) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY terkait dengan adanya ancaman bencana hidrometeorologi, terlebih adanya La Nina bahkan sudah berdampak di Bantul dengan intensitas hujan yang sudah mengguyur dengan curah hujan sedang sampai tinggi.
“Kami sudah siaga sejak jauh hari, dengan mengaktifkan kembali posko siaga bencana yang ada di 29 kalurahan, dan satu posko induk di BPBD Bantul,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Agus Yuli Herwanta, Kamis (20/10/2022).
Selain itu pihaknya juga sudah mengumpulkan berbagai intansi untuk sama-sama mitigasi bencana pada Jumat pekan lalu yang melibatkan TNI-Polri dan juga sukarelawan kebencanaan.
Kemudian pada Sabtu-Minggu (22-23/10/2022), semua sukarelawan kebencanaan di Bantul juga akan menggelar jambore di Pantai Baru yang akan diikuti sekitar 1.000 orang. Kemudian pihaknya juga sudah memastikan semua alat pendeteksi dini banjir atau EWS sudah dalam kondisi berfungsi, termasuk EWS untuk tanah longsor.
BACA JUGA: Kasus DBD Terus Naik, Bantul Andalkan WoW Mantul
Agus mengatakan dampak hujan tinggi sudah dirasakan di Bantul seperti adanya pergerakan tanah atau tanah longsor dan pohon tumbang.
Dari catatan BPBD Bantul selama Oktober, sudah terjadi tujuh kasus gerakan tanah atau tanah lngsor, 13 pohon tumbang, dan 44 titik dampak cuaca ekstrem seperti angin kencang. Sementara pada Oktober tahun lalu terjadi tujuh lokasi tanah longsor, angin kencang dengan dampak 11 titik dan delapan pohon tumbang.
Lebih lanjut Agus mengatakan berdasarkan data yang dirilis BPBD Bantul ada sekitar sebelas kapanewon yang punya potensi tinggi bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor. Untuk banjir diantaranya kapanewon Bantul, Kretek, Pleret, Pundong, Piyungan, Jetis dan Imogiri.
Kemudian bencana tanah longsor tersebar di tiga wilayah yang mayoritas merupakan wilayah dengan kontur tanah perbukitan, yakni kapanewon Pundong, Imogiri, dan Piyungan. Sementara untuk bencana angin kencang dan pohon tumbang hampir merata di seluruh kapanewon.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengatakan berdasarkan perkiraan dari BMKG DIY bahwa di Bantul akan menghadapi musim hujan di atas rata-rata atau ekstrem mulai 3 Oktober lalu hingga Maret 2023 mendatang. Puncaknya musim hujan diperkirakan terjadi pada Februari 2023.
Kondisi tersebut yang perlu diwaspadai adalah terjadinya bencana seperti banjir atau lupan air sungai, tanah longsor, dan angin kencang, “Sudah kita identifikasi peta rawan banjir dan longsor dan kebutuhan yang kita perlukan,” kata Halim.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ekspor Indonesia Juli 2026 diproyeksi membaik, tetapi Apindo mengingatkan tekanan biaya produksi masih mengancam pemulihan.
Mendag Budi Santoso menyebut BRICS menyepakati mayoritas substansi perdagangan meski belum mencapai joint statement.
Jelang HUT ke-81 RI, DPRD Bantul mengajak warga mengibarkan Merah Putih dan menjaga kondisi serta pemasangannya.
Pagar SDN Minomartani 2 di Ngaglik, Sleman, roboh saat jalan santai. Sebanyak 10 warga tertimpa dan dilarikan ke tiga rumah sakit.
Seskab Teddy mendorong anak putus sekolah kembali belajar melalui Sekolah Rakyat. Program ini disebut telah memberi akses pendidikan bagi 43.000 anak.